Benarkah Ngeteh Nggak Sekeren Ngopi?

Benarkah Ngeteh Nggak Sekeren Ngopi?

Ilustrasi (Chevanon Photography via Pexels)

Kabar mengenai putusan pailit PT Sariwangi Agricultural Estate Agency (SAEA) akibat gagal membayar utang sempat menghebohkan publik.

Beberapa kawan juga sempat membagikan artikel yang menduga-duga bahwa tren kopi yang lebih melejit atau Thai Tea dan produk teh ready to drink (RTD) lainnya sebagai segelintir penyebabnya. Benarkah demikian?

Baeqlah, mari kita dahului dengan sekilas riwayat teh di negeri eksportir teh ini.

Banyak orang memandang derajat teh selevel di bawah kopi. Itu mengapa branding teh tak pernah sebeken kopi. Tea sommelier pun tak sekeren barista.

Bahkan, hingga kini baru ada satu jenis retailer teh internasional yang buka di Indonesia, yaitu TWG. Itu pun baru di tiga titik di ibu kota, nggak seperti Starbucks dan Excelso yang bercecer di setiap sudut kota.

Ketika saya memulai karier sebagai pedagang teh, seorang kawan pernah berkomentar, “Bakalan sulit kamu jualan teh, apalagi yang kategori grade begini. Mana ada yang mau beli teh hijau 80 gram seharga Rp 45.000?”

Sebenarnya, secara kualitas, industri teh nggak jauh beda dengan nasib industri kopi di pasar lokal. Teh yang kita seruput sehari-hari di burjo, angkringan, dan di mana-mana itu kualitasnya off grade – istilahnya teh rakyat – yang tak layak ekspor.

Bedanya dengan kopi, bibit teh di Indonesia tidak terlalu bervariasi seperti biji kopi. Selama ini, rata-rata jenis teh di Indonesia dibedakan berdasarkan proses olahnya saja, jika bukan aroma seperti melati atau chamomile.

Mungkin juga karena tradisi minum teh off grade ini sudah berlangsung lama, sejak jaman kolonial, sehingga budaya minum teh di Indonesia dianggap tak berkelas, lain dengan Amerika dan Eropa.

Ya jelas, wong daun pucuk teh berkelasnya dipasok ke sana, diracik dengan berbagai teh spesialti dari berbagai negara.

Baca juga: Tanam Paksa dan Terpaksa Cinta dalam Sebatok Kawa Daun

Di Amerika, pasar teh justru berkembang. Selain jenis Matcha, ada Sencha, Moringa, dan Mizudashi yang diprediksi mendorong pasar tehnya mencapai valuasi sekitar US$ 10 miliar hingga 2022, menurut lembaga riset Package Facts.

Di Eropa, beragam merek teh selain bersaing pada varian aroma, juga pada varian single origin dari berbagai negara. Dan, bersaing dalam hal kampanye kelestarian hidup.

Namun, belakangan, di negeri ini branding teh mulai naik lewat kepopuleran Thai Tea dan Matcha Latte. Sayangnya, kedua minuman tersebut tak sepenuhnya memakai daun teh kering berkualitas sebagai bahan baku dalam secangkir racikannya.

Tak seperti single origin coffee, single origin tea belum begitu akrab. Jadi, meskipun dua minuman itu ngetren, tidak begitu berkontribusi dalam peningkatan daya beli komoditas teh di pasar lokal.

Oh ya, istilah Thai Tea itu maksudnya metode dalam menyeduh teh, bukan dari mana asal tehnya. Thailand jelas tidak memiliki riwayat sebagai negara pengekspor teh.

Indonesia lah yang masuk kategori negara eksportir teh besar, selain Tiongkok, Sri Lanka, Kenya, Vietnam, India, dan Jepang. Belakangan, Amerika dan beberapa negara Eropa juga turut mengekspor.

Nah, apakah popularitas minuman Thai Tea, Matcha Latte, dan terutama kopi ikut memicu penurunan minat masyarakat untuk ngeteh dari produk teh kantong? Atau, para produsen tak melakukan inovasi produk, misalnya membuat minuman teh kemasan secara masif?

Sebagai orang yang kebetulan sedang mengkaji babakan industri teh, menurut saya anggapan tersebut kurang tepat.

Perlu diingat bahwa sejak awal abad 21, perusahaan-perusahaan global berbisnis dengan sistem global production network (GPN). Demi efisiensi, terdapat spesifikasi pembagian kerja dari produksi hingga ke tangan konsumen yang dilakukan secara global.

Lantas, posisi Indonesia sebagai apa dalam sirkuit tersebut? Jelas hanya pemasok, pengekspor komoditi mentah jika bukan setengah matang.

Baca juga: Filosofi Kopi Terlalu ‘Mainstream’, Ini Lawan yang Setimpal: Pare!

Mari kita petakan pelaku dari hulu ke hilir dalam industri ini. Setidaknya ada petani atau pemetik teh, perusahaan pengolah sekaligus pemasok, serta perusahaan trader dan pemilik merek.

Dalam industri teh, petani adalah pihak yang paling rentan. Apalagi, sejak sertifikasi Rainforest Alliance diterapkan oleh banyak perusahaan pemilik merek, perusahaan pemasok di Indonesia juga semakin ketat memasang standar teh yang diperkenalkan kepada petani dengan istilah teh spesialti.

Sementara perusahaan pemasok adalah perusahaan pengolah, ya PT Sariwangi Agricultural Estate Agency (SAEA) itu, misalnya. Selanjutnya, trader adalah perusahaan-perusahaan pedagang teh yang rata-rata pengekspor. Sedangkan perusahaan pemilik merek, contohnya PT Unilever Indonesia atau PT Sinar Sosro.

Seringkali, orang mengira pailitnya perusahaan pemasok pertanda merek tertentu juga pailit. Sama seperti kasus pabrik Toshiba dan Panasonic ketika dulu tutup, orang mengira mereknya juga bangkrut.

Padahal, yang tutup itu hanya perusahaan pemasoknya. Perusahaan pemilik merek ya kalem-kalem saja dan telah memindahkan basis pemasok (produksinya) ke perusahaan lain.

Seperti Unilever yang telah pindah ke pemasok lain, PT Agriwangi. Ibarat kita yang pindah ke lain hati, karena doi nggak bisa diharapkan lagi.

Unilever Indonesia juga telah meluruskan kabar yang beredar bahwa putusan pengadilan terkait pailitnya SAEA tidak berpengaruh pada produksi teh SariWangi. Produksinya tetap jalan.

Unilever telah membeli merek SariWangi sejak 1989, sehingga merek tersebut berada di bawah Unilever Indonesia, bukan lagi milik SAEA.

Jadi, menurut saya, nggak ada kaitan bangkrutnya SAEA dengan maraknya inovasi produk teh di pasaran.

Artikel populer: Karena Menyatakan Cinta dan Ngegombal Adalah Hak Siapa Saja, termasuk Perempuan

Sebagai perusahaan pengolah (produsen) atau pemasok, SAEA nggak bakal membuat inovasi produk apapun, karena nggak punya kendali atas apa yang disebut research and development (R&D). Yang punya wewenang untuk inovasi hanyalah perusahaan pemilik merek, yaitu Unilever.

SAEA bangkrut bisa jadi karena kondisi finansialnya. Mungkin juga lantaran ketatnya persaingan di antara perusahaan pemasok.

Perusahaan tersebut adalah salah satu fenomena Zombie Companies, yaitu perusahaan yang tetap beroperasi, meskipun sudah sakaratul maut. Cash flownya sudah negatif selama bertahun-tahun. Bisa beroperasi karena ditopang utang.

Ibarat manusia koma, hanya bergantung pada peralatan medis. Akhirnya tutup usia, karena nggak bisa membayar utang.

Kalau pun masih bertanya-tanya, kok Unilever nggak berminat menciptakan inovasi produk teh ke kemasan?

Dalam bisnis, bukankah lebih baik kita punya spesialisasi? Dalam urusan teh kemasan, PT Sinar Sosro di bawah asuhan keturunan Sosrodjojo tentu menjadi pakarnya sejak dulu. Untuk apa bersaing di produk kemasan, jika lewat iklannya, orang se-Indonesia sudah mengenal SariWangi sebagai teh celup legendaris?

Sama halnya dengan Starbucks yang memutuskan menjual brand tehnya, Tazo, ke Unilever. Jelas, Starbucks lebih memilih mengalokasikan modalnya untuk kepakaran di bidang kopi semata.

Lagipula, dengan memproduksi teh celup saja, Unilever sudah yang paling besar se-Indonesia, begitu sih kata orang-orang di dua perusahaan pengelola teh yang pernah saya wawancara. Dan, di skala global, Unilever merupakan salah satu raksasa.

Seruput dulu gaes…

Apanya? Kopi atau teh?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.