Benarkah ‘Fall in Love With People We Can’t Have’ Adalah Hal yang...

Benarkah ‘Fall in Love With People We Can’t Have’ Adalah Hal yang Sia-sia?

Ilustrasi (Chad Madden via Unsplash)

Dari jenis-jenis jomblo yang ada, jomblo sejak lahir katanya tergolong kasta terendah. Ah, saya paham kok rasanya, bagaimana diolok-olok karena dianggap nggak ‘laku’. Maka, seringkali kita menutup rapat riwayat hubungan asmara yang nihil ini.

Mungkin, hanya jama’ah Felix Siauw yang menganggap jomblo sejak lahir adalah aset terbaik bangsa. Bahkan, klan jomblo ini punya nilai prestise tertinggi. Sayangnya, nilai kejombloannya dikaitkan sama zina-zinaan. Padahal kan inginnya kejombloan ini dipandang bermartabat lantaran alasan-alasan idealisme.

Wong alasan gitu aja masih dapat tuduhan macam-macam, dibilang sulit membuka hati lah, terlalu ambisius mengejar karier, hingga dianggap pemilih yang nggak tahu diri. Kita pun dianggap awam perihal asmara. Dianggap level pengetahuan soal cintanya jauh lebih rendah dari mereka yang sudah berulang kali gagal menjalin komitmen dengan seseorang (atau dua orang?).

Beban kami pun bertambah ketika sekalinya jatuh hati, kok with someone we can’t have. Huft…. Sudah jatuh tertimpa tangga. Makin tambah bahan olok-oloknya, “Belum jadian, kok udah buru-buru move on… xixixi.”

Baca juga: Kami Lajang, Bahagia, dan Tak Terkalahkan

Waktu saya sambat soal sakitnya pengalaman love the people we cant have tersebut ke teman, ia pun berpendapat, “Masa sih kamu bisa jatuh cinta? Emang pernah mewek dibuatnya? Nggak kan? Kayaknya itu bukan cinta deh.”

Hmmm… hmmm… hmmm…

Mentang-mentang kami nggak pernah terlihat dramatis dalam jatuh hati bukan berarti nggak mampu menyayangi dooong… Lagipula, benarkah pengetahuan para jomblo sejak lahir soal cinta dan hubungan asmara begitu dangkalnya?

Lantas, benarkah untuk dibilang berpengalaman dalam urusan cinta atau hubungan asmara, seseorang harus berkali-kali menjalin hubungan, baik putus nyambung atau gonta-ganti pasangan? Apakah perkara hati adalah soal kepakaran yang melulu ditakar dalam hitungan mantan dan gebetan?

Mohon perhatian sebentarrr…

Mewakili sobat jomblo sejak lahir di mana pun berada, akan saya paparkan bagaimana perspektif dalam memaknai ihwal asmara yang lagi hitz (jadi judul artikel populer): loving people we cant have.

Paparan ini semata untuk membuktikan kalau pengetahuan soal cinta itu nggak seperti jenjang karier yang semakin banyak pengalaman semakin tinggi kecakapan. Kedewasaan seseorang dalam menjalin hubungan juga bukan ibarat PUBG, yang di-push rank dengan meningkatkan intensitas bermain demi mencapai level conqueror.

Yah, meski kami belum pernah mencicipi manis asam asin hubungan asmara, kami mampu memaknai soal kecintaan.

Baca juga: Jatuh Cinta kok Hitung-hitungan, Itu Hati atau Kalkulator?

Bagaimanapun, jomblo sejak lahir pasti pernah mengalami jatuh hati sekali dua kali (atau berkali-kali?). Mengapa mereka tak kunjung ber-couple? Sebab, mereka selalu mencintai (bakal) jodoh orang lain. Baik hati yang kelewatan.

Beragam alasan mengapa seseorang nggak bisa dimiliki. Dalam konteks ke-Indonesiaan, misalnya, jenis kelaminnya sama, diberatkan oleh uang panai, beda agama, beda suku, atau bahkan beda ormas. Ormas lhoo, ormas! Kader NU x Muhammadiyah aja bisa nggak mungkin saling memiliki.

Bahkan, sudah sama-sama kader Muhammadiyah pun masih bisa terhalang alumni. Muallimin ya untuk Muallimat, bukan Darul Arqam apalagi SMA Muhi. Heuheu…

Menurut sebuah kutipan, how to stop time: Kiss. How to feel time: Write. How to escape time: Music. How to travel in time: Reading. How to waste time: love the people you cant have!!!

Benarkah mencintai ia yang mustahil dimiliki sesia-sia itu?

Jika hakikat mencintai adalah memiliki, maka jawabannya yes. Tapi, jika hakikat mencintai adalah ketulusan, jawabannya absolutely no!

Baca juga: Karena Menyatakan Cinta dan Ngegombal Adalah Hak Siapa Saja, termasuk Perempuan

Sobat netijen yang love someone you cant have sesungguhnya kamu sedang berlatih menyayangi secara bijaksana, memperlayak dirimu sendiri untuk dicintai dengan kadar ketulusan yang sama, suatu hari, oleh seorang yang tepat.

Tatkala ingin bercakap-cakap dengannya saat dini hari, kamu berlatih menekan hasrat karena peduli pada jam tidurnya. Ketika kamu melakukan hal-hal demi kebaikannya – mengirimi katering menu sehat dan buku-buku kegemarannya, membantu menerjemahkan tugas-tugas esainya, hingga mendengarkannya bercerita tentang gebetan yang nggak lebih peduli kepadanya ketimbang dirimu – kamu berlatih memberi tanpa pamrih.

Awalnya memang sulit. Kadang-kadang masih kepleset lidah saat berdoa, menuntut balas jika bukan karma. Tapi entah mengapa kamu juga selalu mengharapkan agar mimpi-mimpinya tercapai, meski kamu nggak tahu apa impiannya. Ketika pesanmu sering kali baru dibalas seminggu kemudian, kamu tetap bersyukur karena tahu ia baik-baik saja.

Akhirnya kamu sadar, menyayanginya tak lagi menuntut pengakuan apalagi balasan, melainkan menuntut kesabaran, kepasrahan, dan keikhlasan.

Jika tingkatan jatuh hati ibarat tahap pertumbuhan manusia, mungkin begini perumpamaannya: jatuh hati seperti anak-anak, hanya sampai pada taraf menulis sajak-sajak. Jatuh hati seperti remaja, hanya sampai pada taraf mengajak kencan dan bercanda. Jatuh hati yang dewasa? Adalah yang kamu praktikkan sekarang.

Artikel populer: Kalaupun Kamu Anti-Pacaran, Memangnya Kamu Lebih Baik?

Mereka yang jumlah mantan dan gebetannya seperti bilangan prima pun belum tentu sanggup melakukannya.

Selamat!

Nggak perlu menyesal, apalagi merasa sia-sia. Kamu telah melewati kursus mengasihi yang tak semua orang mampu menjalani. Orang-orang bilang kamu memperjuangkan, padahal kamu belajar berkomitmen pada perasaan.

Kamu nggak mencari pelampiasan atau berambisi menunjukkan segala hal yang hebat agar dia terkesan bahkan menyesal, melainkan tetap kalem dan selow. Mengabaikan artikel-artikel How to Deal with Loving Someone You Can Never Be With.

Kamu yakin kelak akan bisa berhenti, entah karena lelah, nggak lagi berhak atau ada seorang yang melakukan ketulusan serupa bahkan lebih, padamu. Saat itu, kamu bisa menghargai seseorang tersebut hingga rela berkomitmen, sebab kamu pernah di posisi yang sama. Kamu mengerti kadar perasaan kasihnya.

Kamu pun paham bahwa nggak perlu menjajal sebanyak mungkin hubungan demi menemukan seseorang itu. Karena jodoh bukan rentengan lotre. Jodoh, seperti skripsi yang sepenuh hati dikerjakan, waktu sidangnya tergantung kesiapan kita, baik dan kurangnya pun nggak lepas dari proses kita belajar mencintai.

Jadi… mari cukupkan dulu rapalan doa tentang mendapat jodoh, karena berdoa mendapat pekerjaan dengan upah yang masuk akal buat bayar KPR lebih pas bagi milenial seperti kita, eh saya. Hehehe.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.