Benang Merah Kematian Goo Hara, Sulli, dan Perempuan di Negeri Ini

Benang Merah Kematian Goo Hara, Sulli, dan Perempuan di Negeri Ini

Goo Hara (Instagram)

Luka di bulan Oktober pasca kematian Choi Jin-ri alias Sulli belum juga kering. Mantan personel grup vokal f(x) tersebut bunuh diri setelah di-bully habis-habisan oleh netizen Korea Selatan. Lebih dari sebulan sesudah itu, Goo Hara yang merupakan eks anggota grup vokal Kara dan salah satu sahabat terdekat Sulli, juga pergi untuk selama-lamanya.

Goo Hara sudah cukup lama mengalami depresi. Bahkan, pada Mei 2019, penyanyi yang juga pemeran drama televisi Korsel ini sempat ditemukan tak sadarkan diri, setelah melakukan percobaan mengunci pintu dan membakar batubara di rumahnya.

Namun, dia sempat bangkit, lalu meminta maaf pada para penggemar untuk rasa sakit yang sama sekali bukan kesalahannya. Hingga akhirnya, Goo Hara menyerah.

Kematian Goo Hara dan Sulli bukanlah perihal kesehatan mental semata. Mereka berdua adalah korban dari misoginisme masyarakat patriarkal yang membenci perempuan.

Mengapa begitu?

Tumbuh sebagai idola, membuat mereka dipaksa menampilkan sosok ideal bagi publik. Bagaimana menjadi perempuan yang lembut, santun, manis, dengan tubuh yang terstandarisasi oleh industri kecantikan dan hiburan.

Baca juga: Sulli adalah Perempuan Merdeka, tapi Dibully. Sesungguhnya Dia Tidak Bunuh Diri

Mereka seakan tidak boleh menampilkan persona diri sebagai seorang perempuan yang asertif dan memahami otoritas tubuhnya sendiri. Sebab, perempuan yang bebas dan independen begitu dibenci oleh sejumlah kalangan.

Hal itu terbukti ketika Sulli memutuskan untuk menjadi perempuan yang bebas dan asertif. Ia mengalami perundungan secara terus menerus karena persona dirinya, caranya berpakaian, hingga pilihannya pada pasangan. Begitu juga dengan Goo Hara yang dirundung habis-habisan karena ketegasannya dalam kasus kekerasan seksual yang menimpanya.

Sebelumnya, Goo Hara bertarung di pengadilan melawan mantan kekasihnya, Choi Jong Bum. Goo Hara mendapat kekerasan dalam pacaran dan menjadi korban revenge porn. Namun, Choi Jong Bum divonis tidak bersalah atas tuduhan kekerasan seksual dan revenge porn. Ia hanya dijatuhi hukuman atas pidana pengancaman dan pengrusakan properti.

Kini, Goo Hara telah pergi. Sesungguhnya, Goo Hara maupun Sulli tidak mati karena bunuh diri, tapi akibat rasa sakit, depresi, dan tekanan publik terhadap sosok perempuan. Selain Goo Hara dan Sulli, ada banyak sekali perempuan di dunia ini yang harus berhadapan dengan persoalan kesehatan mental karena rangkaian kekerasan yang dialami mereka.

Baca juga: ‘Toxic Relationship’? Udah Putus Aja! Tapi Gimana kalau Udah Nggak Perawan?

Rangkaian kekerasan ini adalah buah dari misoginisme akut pada pikiran kolektif masyarakat. Masyarakat patriarkal tumbuh sangat membenci dan mensubordinasi perempuan. Bagaimanapun perempuan menjadi korban dan objek eksploitasi, perundungan, dan vonis bersalah akan jatuh pada mereka.

Para perempuan yang melaporkan kekerasan seksual tetap akan disalahkan kok, dan dianggap menyebarkan aibnya sendiri. Kekerasan ini terjadi berlapis, tak hanya dari pelaku kekerasan, tapi juga dari masyarakat yang cenderung victim blaming.

Hal itu tidak hanya di Korea, tapi juga terjadi di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Masih ingat beberapa kasus pembunuhan perempuan oleh suaminya sendiri? Bagaimana sebagian masyarakat kita merespons? Bahkan, ada yang sampai bilang, “Salah sendiri istri gak nurut suami jadinya begitu deh.”

Bahkan, ketika kasus YY, seorang anak kecil yang menjadi korban gang rape lalu dibunuh dan dibuang ke jurang, alih-alih menyalahkan para pelaku, masyarakat kita ada juga yang malah menyalahkan keluarga mengapa membiarkan YY berjalan sendirian ke sekolah.

Baca juga: Waktu Bikin Anak Bilang Enak, Setelah Lahir Nyalahin Istri Melulu

Lantas, apa hubungannya antara kasus pembunuhan perempuan di Indonesia dan bunuh diri di Korea Selatan? Ya, semua ini terjadi karena misoginisme yang akut dalam masyarakat, seperti yang diungkapkan oleh Kate Manne dalam bukunya, Down Girl: The Logic of Misogyny. Masyarakat patriarkis misoginis menganggap perempuan tidak berhak mendapat perlakuan dan moralitas yang setara dengan laki-laki, karena posisinya yang subordinat.

Begitu juga dalam kasus kematian, masyarakat misoginis tidak akan memberi antensi dan empati yang setara antara kematian perempuan dan laki-laki. Jika laki-laki meninggal bunuh diri karena patah hati atau karena dibunuh oleh istrinya sendiri, masyarakat akan lebih mengasihaninya dan mengutuk habis-habisan pelaku.

Namun, jika perempuan yang mengalami kekerasan, ada saja orang yang membela pelaku dan mencari-cari pembenaran. Sama seperti kematian para perempuan karena kekerasan seksual di Indonesia. Sama seperti kematian Sulli yang dianggap oleh sebagian besar masyarakat akibat kelakuannya sendiri. Sama seperti kekerasan seksual yang menimpa Goo Hara.

Artikel populer: Alerta, Alerta! Para Aktivis Cabul di Sekeliling Kita

Masyarakat yang patriarkis nan misoginis selalu menekan perempuan dengan standar-standar tertentu yang menjadikan mereka selalu menjadi subordinat. Tujuannya apa? Agar patriarkis misoginis bisa hidup tenang. Sementara, perempuan yang asertif akan mendapatkan tekanan yang berlapis hingga mendorong perempuan jatuh ke jurang depresi.

Jadi, apakah ke depannya masih akan ada perempuan yang bernasib sama dengan Goo Hara, Sulli, dan korban-korban lainnya? Bisa jadi masih ada dan berlipat ganda, jika masyarakat tetap tumbuh dalam nalar patriarkal dan misoginisme akut.

Tugas kita adalah tetap berdiri melawan agar suatu saat tak ada lagi korban lainnya, hanya karena menjadi seorang perempuan. Ayo bersolidaritas dalam 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan (16 HAKTP) yang berlangsung sejak 25 November hingga 10 Desember.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.