Ilustrasi mobil. (Photo by Denny Aulia on Unsplash)

Di tengah kota, seorang pesulap kenamaan berjalan kaki di bawah terik matahari, dengan pakaian serba sederhana dan langkah tergesa-gesa. Tak jauh dari tempatnya berdiri, tepat di dalam mobil, seseorang diam-diam merekam kejadian itu dan mengunggahnya di internet.

Tahu apa tanggapan warganet Indonesia? Komentar-komentar yang tidak relevan dengan kesimpulan yang serampangan. Misalnya, ada yang bilang, “Kasihan, mungkin sudah bangkrut karena jarang muncul di TV”, “Pesulap kaliber kok jalan kaki, sih”, “Kayaknya dia sudah mulai misqueen, deh”, dan lain-lain.

Tak lama, si pesulap membuat semacam klarifikasi – yang sebetulnya tak perlu – bahwa ia hanya sedang ingin berjalan kaki, dan itu biasa saja dalam laku kesehariannya. Netizen saja yang sebetulnya drama dan ribet sendiri.

Baca juga: Naik Sepeda Bukan Naik Kelas Sosial, Semula Membumi Kini untuk Pamer di Instastory

Begitulah. Ilustrasi di atas mewakili alam pikir kebanyakan masyarakat kita, yang masih menganggap mobil atau kendaraan pribadi sebagai alat untuk memenuhi gengsi, besi bermesin besar yang sanggup mengerek status sosial. Tak jarang lepas dari fungsi praktisnya sebagai moda transportasi. Pemuas gengsi kok bangga?

Mungkin itu juga yang menyebabkan konten-konten yang pamer kendaraan nomor wahid dengan harga selangit lebih laku di kanal media sosial kita, alih-alih konten yang mengedukasi.

Di akhir abad 20, ketika Naif menciptakan hits Mobil Balap dengan lirik yang terdengar sedikit meringis “Ku tidak pernah merasakan kesepian, tak ada gadis yang menolak diantarkan”, kita masih menganggap itu wajar, fenomena lazim gegar budaya. Tapi, hei, kawan, kini kita hidup di dekade ketiga abad 21. Generasi sekarang mulai tertarik membincangkan environmental ethics.

Bukankah belakangan kita mulai menganjurkan nongkrong dan minum-minum dengan sedotan SJW? Eh, maksudnya sedotan stainless.

Baca juga: Cara Mengurangi Sampah Plastik Tanpa Harus Patuh pada Neolib

Di Jepang, tumbuh satu generasi yang oleh beberapa produsen kendaraan – entah dengan nada sinis, prihatin, atau kecewa – disebut kuruma banare, yang secara etimologi berarti demotorisasi.

Pada awalnya, fenomena ini terekam dalam laporan Yuri Kageyama, yang menyatakan bahwa mayoritas pemuda-pemudi Jepang tak punya ketertarikan khusus terhadap kepemilikan kendaraan pribadi. Itulah mengapa pasar mobil di Jepang tak lagi mampu melewati atau bahkan mendekati masa kejayaannya seperti tahun 1990.

Mengapa fenomena semacam itu bisa terjadi di negara maju? Banyak spekulasi, tentu saja.

Selain karena dianggap bukan lagi penunjuk identitas kelas, kesadaran untuk mencintai lingkungan, ditambah jejaring transportasi publik yang baik, konon para muda-mudi Jepang lebih tertarik membelanjakan uangnya untuk gadget mutakhir. Beberapa menganggap, karena perizinan di ‘Negeri Sakura’ yang naudzubillah rumitnya, belum lagi biaya perawatannya yang super mahal.

Baca juga: Hidup Minimalis tapi Ujung-ujungnya Tetap Kapitalis

Oh ya, nominal untuk pembelian dan perawatan mobil.

Saat membuat tulisan ini, Pemerintah Indonesia baru saja memberi insentif pajak untuk industri otomotif. Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) menjadi 0%. Diharapkan, itu bisa menyokong industri yang terpukul selama pandemi. Niat yang baik, sih.

Tapi, kepemilikan kendaraan pribadi di Indonesia memang kerap dibikin mudah, alih-alih memperumit. Alhasil, kemacetan masih menjadi momok menyebalkan.

Padahal, beberapa tahun lalu, pemimpin negeri ini – setelah menukil data Bappenas – mengamini bahwa kemacetan merugikan negara sebesar Rp 65 triliun dalam setahun. Bahkan, ia sempat mengoreksi bahwa ternyata totalnya menyentuh Rp 100 triliun!

Itu belum termasuk kerugian materil dan moril akibat pencemaran udara. Menurut Bondan Andriyanu, juru kampanye iklim dan energi Greenpeace Indonesia, kerugian akibat polusi udara di Indonesia, yang utamanya disebabkan oleh asap knalpot kendaraan pribadi – merupakan tertinggi di Asia Tenggara dengan total estimasi Rp 150 triliun.

Gokil gak, tuh?

Artikel populer: Demotivasi? Selamat, Hidupmu Bisa Jadi Lebih Berarti!

Sebelum terlambat dan menyesali keadaan dunia semakin ruwet dengan asap knalpot dan bising klakson, mungkin kita bisa memulai gerakan demotorisasi dengan cara sederhana; jangan jadikan kendaraan pribadi, terutama mobil, sebagai ajang pertarungan gengsi.

Membeli jika dirasa perlu, sekaligus mulailah terbiasa dengan pemandangan orang-orang yang lalu lalang berjalan kaki, bukan malah menganggapnya sebagai keterpurukan ekonomi.

Lagian, bukankah lebih asoy mengelilingi taman kota bersama pasangan dengan jalan kaki? Lebih syahdu, dan asique.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini