Bekerja di ‘Agency’ Tak Seperti yang Dikatakan Banyak Orang

Bekerja di ‘Agency’ Tak Seperti yang Dikatakan Banyak Orang

Ilustrasi (Tookapic via Pixabay)

“Bro, lu kerja di mana sekarang?”

“Gue kerja di digital agency, Bro.”

“Wah, setiap hari kerja keras bagai kuda dong?”

“Ah, nggak juga kok.”

Banyak orang beranggapan bahwa bekerja di agency begitu berat. Butuh effort lebih, katanya. Entah ini stereotip atau fakta, tapi bisa jadi anggapan itu muncul karena pekerja agency itu sendiri beberapa kali mengeluh tentang pekerjaannya.

Keluhan-keluhan para ‘pejuang klien’ inilah yang menggiring opini masyarakat ke arah yang belum tentu benar. Walaupun tak bisa dikatakan sepenuhnya salah, karena memang keluhan-keluhan itu lahir dari pengalaman nyata yang dialami para pekerja agency.

Seorang master psikologi bernama Robert Abelson mengatakan bahwa opini terbentuk dari unsur kepercayaan, apa yang dirasakan, dan persepsi. Apa yang dirasakan oleh para pekerja agency tersebut membangun sebuah persepsi, yang akhirnya dipercaya oleh banyak orang hingga terbentuklah opini.

Di balik hingar-bingar opini tersebut, terkadang menghalangi sebuah sisi positif yang seharusnya mampu diresapi oleh banyak orang. Namun, sisi positif itu seolah terkubur oleh setumpuk opini negatif yang beredar.

Jangankan opini yang belum tentu benar, opini yang sudah jelas salah pun bisa jadi benar, kalau disampaikan berulang-ulang hingga menjadi persepsi publik. Bahkan, kebohongan juga bisa dianggap sebagai kebenaran kalau dilakukan secara terus-menerus, kata Joseph Goebbels, seorang ahli propaganda Nazi.

Pada dasarnya, setiap pekerjaan pasti memiliki risiko. Selalu ada dua sisi selayaknya sebuah mata uang, sisi yang baik dan buruk. Tidak ada sesuatu yang sepenuhnya negatif di dunia ini, karena hal yang negatif pun bisa mendatangkan hal positif, tergantung bagaimana perspektif kita.

Baca juga: Beberapa Profesi yang Ngehits, meski Berpenghasilan Pas-pasan

Meski opini tentang bekerja di dunia agency yang terbangun adalah opini yang merisaukan, tapi setidaknya ada banyak hal positif yang bisa kamu dapatkan, jika sekiranya memutuskan untuk bekerja di agency. Terutama, untuk para pendatang baru.

Mereka sebetulnya orang-orang berani, meski awalnya kadang tak percaya diri. Ah, bukankah hidup ini soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita mengerti dan tanpa bisa kita tawar, kalau kata Soe Hok Gie.

Atau, ingatlah apa yang disampaikan Pramoedya Ananta Toer, “Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri.”

Perlu diketahui bahwa semua bisnis yang bergulir di dunia agency akan selalu berhubungan dengan pihak kedua, yaitu klien. Hal yang lumrah dan wajar, jika klien menginginkan pelayanan yang terbaik dengan hasil yang terbaik pula.

Positifnya, para pekerja agency dituntut untuk disiplin dalam menyelesaikan pekerjaan mereka. Sebab perusahaan agency sangat tinggi kebutuhannya terhadap klien, dan klien yang ada bukan hanya satu atau dua. Ratusann… hehe.

Para pekerja agency bekerja berdasarkan deadline dan berorientasi pada hasil. Dari situ, mereka bisa belajar dan melatih diri untuk disiplin dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan. Bagi para pendatang baru di dunia kerja, tentu ini sangat berharga, yang mungkin tidak mereka dapatkan di kuliah.

Disiplin dan bertanggung jawab akan membuat mereka menjadi pribadi yang jauh lebih baik dan siap untuk tantangan-tantangan yang akan mereka hadapi nantinya.

Jadi, kalau kamu bekerja di agency dan kebetulan akan melamar si doi, tolong sampaikan itu kepada calon mertua. Masa cuma PNS saja yang melulu jadi idaman? So yesterday

Artikel populer: Kelas Pekerja dalam Karya Satire Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Selain disiplin dan tanggung jawab, dunia agency juga memberikan kesempatan untuk memperluas relasi. Seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa tingkat kebutuhan agency terhadap klien sangat tinggi. Hal ini membuka peluang untuk bertemu dengan banyak orang dan bidang bisnis yang banyak dan berbeda pula.

Bertemu dan berkenalan dengan banyak orang akan memberikan hal positif bagi mereka pendatang baru di dunia kerja. Memperluas relasi akan memberikan banyak manfaat, salah satunya peluang untuk mengembangkan karier.

Bukankah lebih banyak relasi membuka lebih banyak pintu rezeki?

Tapi, ingat, jangan sekali-kali jatuh cinta sama klien, eh…

Pola di perusahaan agency sebenarnya bisa dikatakan hampir mirip seperti start up, perusahaan yang digadang sebagai impian generasi milenial. Kebebasan untuk berpendapat dan memberikan ide sangat terbuka di sana.

Tentu hal ini menuntut para pekerja di dalamnya untuk mengembangkan ide dan kreativitas. Namanya juga industri kreatif. Lagipula, bukankah kebebasan berpendapat dan ide-ide progresif begitu diinginkan generasi milenial?

Makanya, saya pun heran kalau ada anak-anak milenial yang dukung kembalinya Orde Baru. Milenial kok kangen Orba?

Balik lagi soal dunia agency. Nah, ini juga merupakan salah satu tempat terbaik untuk mengembangkan diri. Selain dituntut untuk mengembangkan ide dan kreativitas, atasan pun cukup terbuka untuk diajak berdiskusi.

Kalau memang ada yang tidak disuka, jalan keluarnya ya diskusi. Sambil ngopi bareng. Dibayarin, tentunya. Hee…

Dan, satu lagi, tak ada fatwa haram untuk ngopi semeja, meskipun bukan muhrim. Lha, kan cuma ngopi, memangnya mau ngapain sik?

Intinya, setiap pekerjaan tentu punya kelebihan dan kekurangan. Objektiflah dalam mengambil keputusan. Toh, pada kenyataannya, bekerja di agency tidak seburuk yang dikatakan beberapa orang. Banyak manfaat yang bisa diambil, terutama untuk para pendatang baru di dunia kerja.

Welcome to Agency’s life!

Siapa kita??

Pejuang klien..!

Hahaha…

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.