Begini Jadinya jika Joker Mencari Nafkah sebagai Pelawak di Negeri Ini

Begini Jadinya jika Joker Mencari Nafkah sebagai Pelawak di Negeri Ini

Film Joker (Warner Bros)

Film Joker menjadi penambah imaji gelap semesta DC, jauh meninggalkan Marvel Studios yang warna-warni. Sang aktor Joaquin Phoenix terlahir kembali sebagai Joker yang baru. Menjadi pembeda dari Joker versi Jared Leto yang mati gaya di film Suicide Squad.

Joker bukanlah badut dengan kekuatan mistis seperti Pennywise di film It. Joker hanya orang biasa bernama Arthur Fleck yang mengalami tragedi sejak usia dini. Kendati demikian, dia ingin jadi komedian.

Arthur kerap mendapatkan perlakuan buruk dari orang-orang di sekitarnya. Ketika kerja jadi badut promosi toko musik, dia dikerjain sama anak-anak berandalan. Sudah begitu, dia dipecat dari tempat kerjanya.

Ketika mencapai limitnya, Arthur Fleck meledak sebagai Joker. Ulahnya menginspirasi masyarakat berubah menjadi sekumpulan badut sebagai bentuk protes.

Dari sudut pandang keluarga kaya raya seperti Bruce Wayne, Joker jelaslah antagonis. Namun, bagi kaum marginal di Gotham, Joker adalah hero-nya. Joker menjelma sebagai simbol perlawanan dan kritik keras terhadap tatanan masyarakat yang gagal menciptakan keadilan sosial.

Baca juga: Joker dalam Keseharian Kita dan Bagaimana Ia Tercipta

Film Joker seolah berpesan kepada orang kaya seperti Thomas Wayne untuk bersikap baik kepada warga yang kurang beruntung. Ya, orang kaya memang harus baik dan menggunakan kekayaannya untuk kebaikan, bukan dijadikan senjata untuk menindas. Apalagi kalau menyakiti hati orang sampai melukai harga dirinya, bisa-bisa ending-nya seperti di film Parasite.

Bisa jadi sosok Joker tak hanya ada di Gotham. Sewaktu-waktu dapat muncul di negeri ini. Joker bisa terlahir karena lingkungan yang bobrok. Akibat abainya penguasa terhadap suara rakyat kecil. Satu Joker lahir, bisa membangkitkan ribuan sosok Joker lainnya.

Ibarat kata, niat Joker jadi pelawak, malah akhirnya jadi semacam buzzer politik. Berbeda dengan buzzer istana yang mengecam demo, Joker justru mampu memantik kekacauan.

Mungkin perlu ada sineas dalam negeri yang membuat film saduran Joker dengan kearifan lokal. Pemeran Joker, Joaquin Phoenix, sebelumnya dikenal lewat aktingnya di film Her. Film Her sendiri disebut-sebut sebagai sumber inspirasi untuk film Love for Sale yang dibintangi oleh Gading Marten. Apakah jika ada Joker versi Indonesia, pemerannya juga harus Gading Marten? Wah, bisa dapat Piala Citra lagi nih.

Baca juga: Cek Seberapa Borjuis atau Proletarnya Kamu setelah Nonton Parasite

Gading Marten dan Arthur Fleck sebenarnya punya satu kesamaan yang berhubungan dengan nama bernuansa kebahagiaan. Arthur dipanggil “Happy” oleh ibunya. Dan, Gading Marten menamai anaknya Gempita. Apakah ini kebetulan? Saya rasa tidak. Ini sebuah kewajaran manusia mengharapkan anaknya selalu diliputi suka cita.

***

Seandainya Joker hidup di Indonesia, saya membayangkan dia bakal berprofesi sebagai badut pesta. Jasanya diiklankan lewat selebaran yang ditempel di tiang listrik. Dia juga bisa jadi badut restoran makanan cepat saji.

Namun, cita-cita sebenarnya adalah ingin jadi pelawak tunggal seperti Ernest Prakasa atau Pandji Pragiwaksono. Kenapa tidak berminat bikin grup lawak saja? Mungkin karena menonton film Gundala: Negeri ini butuh patriot. Bukan Patrio.

Untuk menggapai mimpi jadi komika kenamaan, Joker getol ikut open mic di kafe-kafe. Ketika nonton stand up comedy, penonton lain menertawakan punchline, Joker justru sudah tertawa sejak set up.

Baca juga: Semisal Warkop DKI Berkunjung ke Desa ‘Penari’ Midsommar

Di media sosial, Joker memang biasa menertawakan hal-hal remeh. Komentarnya selalu sama: “Aduh, gini aja gue ngakak. Selera humor gue receh banget.” Bahkan, narasinya sama ketika komentar di berita harga cabai naik yang jelas-jelas tidak ada lucu-lucunya sama sekali.

Kebiasaan tertawa tak tahu waktu dan tempat ala Joker ini timbul untuk menutupi kesedihannya selama ini. Sebab sejak kecil, dia dituntut oleh ibunya untuk selalu ceria. Pesannya, jangan lupa senyum hari ini.

Dan, ketika audisi stand up comedy, Joker tidak dapat kompor gas dari Indro Warkop. Yang ada dia dapat kompor meleduk karena ‘nge-bomb’ alias gagal melucu. Bukannya bikin Raditya Dika sebagai juri tertawa terpingkal-pingkal, Joker malah tertawa sendiri, bahkan sebelum men-deliver materinya.

Indro Warkop: “Tugas kamu itu melucu. Tertawa itu tugas saya dan juri lainnya.”

Joker: “Saya jadi ingat slogan Warkop DKI: tertawalah sebelum tertawa itu dilarang. Apakah waktunya telah tiba untuk saya dilarang tertawa?”

Indro Warkop dan Raditya Dika saling pandang.

Artikel populer: Jika Protagonis di Film-film Ini Ikut Demo Bareng Mahasiswa

Selera humor yang aneh itulah yang bikin Joker susah mendapatkan tempat di dunia hiburan Tanah Air.

Ketika waktu senggang, Joker iseng bikin video di YouTube. Namun, isinya hanya tertawa terbahak-bahak tanpa sebab sembari menunjuk-nunjuk kamera.

“Ha-ha-ha!”

Video Joker tertawa itu diputar di sebuah talkshow untuk diolok-olok oleh pembawa acaranya.

Berangkat dari situ, Joker dapat panggilan dari pihak televisi. Joker diundang datang untuk live di studio. Dengan bakatnya itu, karier Joker melejit… sebagai penonton bayaran.

Sebelum kamera on, koordinator lapangan memberikan arahan kepada Joker.

“Jadi, tugas lo ketawa setiap pembawa acaranya melawak ya.”

Tamat.

***

Kok ending-nya jadi penonton bayaran?

Soalnya kalau jadi demonstran, nggak bakalan dibayar. Sebab aksi digerakkan oleh hati, bukan karena alasan pundi. Kalau ada yang dibayar, itu hanya penumpang gelap demokrasi.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.