Beberapa Momen Nabi Berdoa yang Bisa Ditiru Neno Warisman

Beberapa Momen Nabi Berdoa yang Bisa Ditiru Neno Warisman

Ilustrasi (Ali Hegazy via Unsplash)

Doa adalah ikhtiar paling akhir yang dimiliki manusia. Kadang setelah perjuangan yang demikian panjang, ikhtiar yang tekun, dan segala jalan telah ditempuh, doa menjadi satu-satunya senjata untuk bisa mewujudkan sesuatu. Tentu jika Anda percaya. Jika tidak, anggap saja doa serupa sugesti diri.

Belakangan, Neno Warisman kembali menjadi sorotan. Setelah berbulan lalu ia demonstrasi di depan Markobar, tempat usaha martabak Gibran Rakabuming, putra pertama Presiden Jokowi, kali ini Neno membaca doa. Doa yang dipinjam adalah doa Nabi saat Perang Badar. Doa itu dianggap berlebihan, tidak sesuai konteks.

Lha, memang doa bisa salah? Doa mungkin tak ada yang salah. Doa adalah sebuah permohonan hamba pada Tuhan, ia bisa apa saja. Tapi jadi absurd, jika tidak sesuai. Neno ibarat menyampaikan doa makan menjelang tidur. Doanya tidak salah, tapi penyampaiannya yang salah konteks.

Baca juga: Orang-orang Syirik dan Murtad di Sekeliling Kita

Negara ini tidak sedang berperang, umat muslim masih boleh beragama sesuai keyakinannya, pengajian masih bisa dilakukan sambil nutup jalan, sholat Jum’at juga masih boleh di jalan, bahkan orang yang teriak-teriak menuduh Jokowi kafir juga belum ada yang ditangkap. Jadi, Neno sedang berdoa untuk siapa?

Namun, kami mohon jangan serahkan kami pada mereka

Yang tak memiliki kasih sayang pada kami dan anak cucu kami

Dan jangan, jangan Engkau tinggalkan kami

dan menangkan kami

Karena jika Engkau tidak menangkan

Kami khawatir ya Allah

Kami khawatir ya Allah

Tak ada lagi yang menyembah-Mu

Neno berdoa saat Munajat 212, acara itu semacam doa bersama. Mendoakan bangsa katanya, tapi menariknya ada Fadli Zon di sana. Para peserta, juga panitia, mungkin bisa mengelak bahwa itu bukan kampanye dan tidak ada kaitan dengan pemilihan presiden mendatang.

Lantas, siapa yang dimaksud Neno dengan ‘Jika kami kalah’? Dan, siapa mereka yang menjadi lawan Neno?

Baca juga: Bacaan sebelum Anda Marah-marah

Neno mau bilang kalau dia kalah, maka umat Islam tak ada yang menyembah Allah? Lha, memang dia pikir muslim hanya ada di Indonesia? Dia pikir Tuhan cuma ngurusin sepetak tanah bernama Indonesia saja? Doa Neno, selain menghina nalar juga merendahkan ratusan juta umat muslim lain di seluruh dunia.

Sebut saja bahwa dengan adanya Fadli, mungkin doa itu juga ditujukan ke kubu Jokowi. Lantas, apa iya, sekian banyak umat muslim yang jadi pendukung Jokowi akan berhenti ibadah kalau Prabowo kalah?

Saya percaya doa adalah wujud paripurna berserah diri seorang hamba pada Tuhan. Doa bukanlah alat todong, karena kita tidak sedang memaksa Tuhan untuk mengabulkan permintaan kita. Pada banyak hal, saya percaya doa seperti permohonan. Ia banyak diajukan, namun hanya sedikit yang dikabulkan.

Sepanjang sejarah Islam, ada banyak momen dimana Nabi Muhammad berdoa. Mengapa Neno justru berdoa saat Nabi hendak berperang? Konteks doa Neno malah jadi absurd dan kurang ajar karena menganggap bahwa Allah bisa diajak berpolitik di Indonesia. Doa semestinya bukan alat ancaman, memaksa Allah untuk mengabulkan doa hanya untuk perkara sepele bernama pemilu.

Baca juga: Akibat Terlalu Sering Bilang “Maaf, Sekadar Mengingatkan”

Ada momen di mana Nabi Muhammad sedih karena dakwahnya di Thaif dibalas dengan kekerasan. Saat itu, Malaikat datang dan menjanjikan bahwa jika Nabi mau, ia bisa membalikkan gunung untuk membalas mereka yang keji.

Namun, Nabi menolak. Ia malah mendoakan keturunan orang-orang Thaif, generasi setelah pembenci itu akan menjadi penyembah Allah dan tak akan menyekutukan-Nya.

Pada lain kesempatan, ada pula cerita di mana Nabi mendapatkan keluhan bahwa penduduk Daus menolak Islam. Nabi lantas mendoakan penduduk Daus untuk memperoleh hidayah.

Jika Neno mau, tentu ia bisa meniru Nabi. Jika ia memang menganggap ada umat Islam di Indonesia yang tak mau ibadah, bukankah lebih baik didekati, diajak mengaji dan sholat Jum’at berjamaah?

Kanjeng Nabi Muhammad mengajarkan kita untuk tidak usil dan mencurigai keimanan orang lain. Ia melakukan ini tidak hanya secara lisan, tapi juga perbuatan saat ia berdakwah. Berulang kali ia bisa memohon doa untuk menghancurkan umat yang menolak Islam, tapi ia lebih suka melakukan dakwah secara damai.

Artikel populer: Hal-hal yang Seharusnya Disampaikan Aktivis Dakwah dalam Kampanye Cokelat Simbol Maksiat

Nabi meminta para sahabatnya agar berdakwah dengan cara yang lemah lembut dan penuh kasih sayang, bukan dengan cara-cara kekerasan.

Neno tampaknya berharap bahwa ia bisa menarik simpati dengan menggambarkan betapa gentingnya Islam di Indonesia. Neno sepertinya juga ingin menggambarkan bahwa kelompoknya adalah yang paling beragama, paling saleh, dan paling zuhud.

Ia lupa bahwa yang dipersekusi, dilarang, dan dianggap sesat seperti Ahmadiyah dan Syiah, sudah lama berdoa. Saya yakin doa-doa orang teraniaya akan lebih manjur daripada doa politik.

Saya juga masih percaya agama mengajarkan kita untuk jadi umat yang cerdas. Tiada agama bagi mereka yang tidak berakal. Kitab suci adalah lentera, hadits adalah peta, dan rasionalitas adalah tongkat pemandu jalan.

Mereka bekerja sebagai satu kesatuan. Beriman tanpa akal hanya akan melahirkan fundamentalisme dan kekejian. Berakal tanpa iman hanya akan melahirkan kesombongan dan penindasan. Doa tanpa usaha? Ya ambyar.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.