Baru Usia 20-an, tapi Sudah Begitu Cemas Ingin Menikah

Baru Usia 20-an, tapi Sudah Begitu Cemas Ingin Menikah

Ilustrasi pasangan (Image by Khusen Rustamov from Pixabay)

Selain memperingati Hari Pahlawan, sebagian penduduk bumi juga memperingati Maulid Nabi pada akhir pekan lalu. Tapi kok rasa-rasanya seperti hari kondangan nasional, saking banyaknya orang nikah pada tanggal 12 Rabiul Awal. Panjang umur wedding organizer!

Dulu, pertama kali saya dapat undangan pesta pernikahan, rasanya gimana gitu… kayak ada perasaan “wah, ternyata aku udah gedhe ya”.

Kini, makin tambah usia makin sering menghadirinya, pernikahan jadi terkesan lumrah dan biasa saja. Tidak ada keinginan untuk segera nyusul ke pelaminan, yang ada justru sedikit cemas mengingat tuntutan jadi orang dewasa semakin banyak.

Ini sama persis dengan momen wisuda yang dirayakan karena dianggap sebuah capaian gilang gemilang. Padahal, bisa jadi itu awal dari kesengsaraan yang lebih serius. Maksudnya, seseorang tidak lagi dibikin sedih karena melewatkan konser yang ditunggu-tunggu atau cinta bertepuk sebelah tangan. Di bawah sistem dunia yang menghitung nilai individu dari produksi kapitalnya, kita sedih bahwa passion ternyata hanyalah omong kosong dan kutipan motivasi tak lebih dari piring kotor yang berserak di warung pecel lele.

Baca juga: Mengapa Wisuda Masih Begitu Penting?

Saya mengalami fase wisuda dua kali, dan kini tiap kali lihat postingan foto keceriaan saat wisuda rasanya seperti sedang lihat foto selfie di acara cosplay. Mungkin, itu juga yang dirasakan sebagian mereka yang sudah menikah pas lihat foto-foto resepsi nikah yang kelewat glamor. “Ini pertunjukkan cosplay baju adat yang meriah,” pikirnya.

Tabiatnya manusia, suka merayakan apa saja; ulang tahun yang merupakan kamuflase dari kematian pelan-pelan, wisuda yang mendekatkan pada status pengangguran, pernikahan yang bisa juga mendekatkan pada penderitaan. Usia, karier, dan asmara dianggap sebagai seperangkat capaian, alih-alih suatu pertanda meningkatnya peran dan tanggung jawab sosial.

Banyak perempuan ingin jadi mamah muda, termasuk saya. Tapi, setelah saya renungi, itu keinginan palsu. Buktinya, saat ini saya tidak serius mempersiapkan segala hal untuk anak yang akan saya asuh kelak. Saya belum mengupayakan punya tabungan cukup untuk menghidupinya, baik secara materi, kematangan emosi, dan pengetahuan.

Baca juga: Sebab Menikah itu Menyempurnakan Separuh dari Gengsi Sosial

Merawat dan mendidik anak di bawah tekanan ekonomi global yang kapitalistik itu kan tidak mudah. Pemerintah tidak mensubsidi susu dan popok bayi, juga tidak menyediakan pendidikan anak secara cuma-cuma sejak dini.

Dan, betapa menyedihkan kalau saya cerita ke anak-anak nanti yang hanya soal tekanan dunia kerja, kegagalan hubungan asmara, dan pengalaman ikut seleksi CPNS. Jangan sampai dong anak-anak kita miskin imajinasi, memaknai siklus hidup hanya tentang berlomba jadi juara kelas, dapat IPK cumlaude, bekerja demi upah, berkeluarga. Lalu, pengetahuan itu juga yang ia wariskan ke anak-anaknya dan seterusnya dan seterusnya sampai Palestina merdeka.

Teruntuk Mendikbud Nadiem Makarim, jangan bikin anak-anak miskin imajinasi tentang masa depan ya, bahwa dunia hanya ditentukan oleh industri digital. Dengan segala imajinasi modernitas hari ini, sulit membayangkan anak-anak di masa depan mampu menulis karya seperti Journey to the West alias cerita petualangan Sun Go Kong mencari kitab suci.

Akhirnya, saya sadar komitmen pernikahan ternyata bukan sekadar sayang-sayangan, tapi juga soal berbagi hidup dan mungkin juga mimpi-mimpi yang dibebani peran sosial berupa mengasuh anak.

Baca juga: ‘Self-partnering’ yang Katanya Pacaran dengan Diri Sendiri, eh Gimana?

Tapi, jangankan peran pengasuhan, kita yang masih mudah jatuh cinta – baru diucapin met bobok langsung kesengsem ini – menjaga komitmen sayang-sayangan saja belum tentu mampu. Kita yang masih pingin ini-itu, pingin pergi ke sana ke sini, bikin lagu, menulis buku, dan banyak hal lain, sudahkah siap berkompromi sama pasangan untuk mimpi-mimpi yang masih tertunda itu?

Untuk yang suka menjadikan pernikahan sebagai target hidup dan sebuah capaian, mari kita santai dan kalem sedikit.

Dear perempuan yang minta buruan dikawinin, memangnya perubahan signifikan apa yang kamu harapkan dari pernikahan? Kebahagiaan? Membangun rumah tangga tentu tak semenyenangkan membangun rumah-rumahan dari lego, sayang.

Dear lelaki yang buru-buru nurutin permintaan pacar yang ingin dilamar, setakut itukah kamu dengan status lajang? Cinta bukan kerjaan yang perlu di-deadline.

Artikel populer: Baiklah, Sekarang Kita Bicara Cinta dengan Logika Kepemilikan

Dalam hidup, ada banyak sekali hal menarik dan seru selain menikah dan berkeluarga. Ada ratusan ribu judul buku bagus yang belum kita baca, ratusan tempat-tempat indah yang belum kita jejaki. Di Indonesia saja, ada ratusan komunitas sosial dengan ragam budaya unik yang belum pernah kita saksikan dan pelajari. Di dunia yang usianya sudah tua ini, ada banyak sekali warisan pengetahuan, sejarah, budaya, seni dan sastra yang belum kita jelajahi.

Singkatnya, hidup tak sependek penis laki-laki, begitu petuah di lirik lagunya Feast.

Jadi, di umur yang masih terbilang belia, kenapa sih kebelet ingin dipanggil mamah muda? Kenapa kita suka merasa cepat tua? Usia baru 25, 26, 27, tapi udah sebegitu cemasnya ingin menikah dan berkeluarga.

Persoalan dalam hidup bukan hanya soal gagal menikah, memilih pasangan hidup, atau menaklukkan hati calon mertua. Banyak hal yang juga berkaitan dengan hidup kita dan perlu untuk dipikirkan. Misalnya, mengapa di tengah pertumbuhan ekonomi nasional yang katanya meningkat, hanya tarif hidup saja yang naik, sementara taraf hidup kita tetap stagnan?

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.