Bapak Poligami, Ibu Pura-pura Bahagia, Anak Tak Dilibatkan

Bapak Poligami, Ibu Pura-pura Bahagia, Anak Tak Dilibatkan

Ilustrasi anak (Photo by shaian ramesht on Unsplash)

“Wah enak nih, uang jajannya dobel.”

Saat masih kecil dulu, saya kerap mendengar ucapan itu keluar dari mulut om dan tante, atau teman, ketika mereka tahu bahwa ayah saya seorang pelaku poligami. Sumpah, jokes di atas jauh lebih guaaring dari candaan bapak-bapak di Grup WA.

Saya kurang paham, kenapa perlakuan terhadap kami – anak-anaknya – sungguh berbeda dengan ibu? Padahal, ibu dan anak berada pada pihak yang sama, pihak yang kemungkinan dirugikan. Tapi seolah-olah, anak adalah pihak yang paling bisa didamaikan dengan sogokan satu karung kinderjoy.

Kesamaan paling mencolok adalah, jika saya selaku anak kerap disinggung soal jajan, ibu selalu disinggung soal ‘jaminan masuk surga’. Padahal, itu masih menjadi polemik, malah uang jajan saya nggak pernah dobel, tuh.

Oke, fokus.

Kita mulai dari perbedaan paling nggak penting, tapi agak nyelekit. Semisal, saat ada orang lain yang sekonyong-konyong tahu tentang kabar poligami, respons pertama yang mereka lontarkan adalah, kalau bukan ‘pujian’ semacam “wah, bapaknya hebat ya, bisa memberi nafkah lahir batin buat istri-istrinya”, pasti bertanya tentang perasaan ibu, “Pernah cemburu nggak sih, Mbak?”

Baca juga: “Ciyee… Bangga Banget Bisa Poligami”

Monmaap nih, Bos, anak-anak bukan mannequin Tanah Abang, sekali-kali beri ruang untuk dialog, dong. Apalagi, buat kaum bapak super kepo plus punya niat terselubung, pasti yang mereka pikirkan melulu soal pendapatan minimal agar tidak keteteran saat poligami, termasuk kiat-kiat sukses mendapat restu istri. Hareh, Punten, Pak, empatinya ditaruh di mana?

Btw, pasti kalian masih ingat bagaimana Pak Lora Fadil yang baru-baru ini jadi bahan ghibah berjamaah warganet. Anggota DPR yang baru itu bikin geger karena dua hal. Pertama, tertidur saat pelantikan. Kedua, memboyong tiga istrinya ke acara tersebut.

Perkara ketiduran saat rapat atau sidang atau pelantikan, kita selalu punya stok anggota DPR yang melimpah setiap tahunnya. Seolah-olah, frekuensi dan populasi orang semacam itu dilindungi oleh negara. Tapi soal nomor dua, ini lain lagi urusannya.

Baca juga: Suami-suami Takut Istri Berpendidikan Lebih Tinggi

Titik didih perkara poligami ini makin kacau-semrawut, sebab beberapa media berusaha membuat framing yang menyesatkan, alih-alih mewartakan ke publik soal perilaku yang ngantukan saat sidang. Mulai dari berita berjudul “Lora Fadil: Gaji Rp 5 Juta Sudah Bisa Poligami” hingga “Ternyata, Ini Rahasia Lora Fadil Bikin Ketiga Istrinya Akur”. Wow… Dahsyat.

Seolah-olah, Lord Fadil layak diangkat sebagai Bapak Poligami Nasional, dan menaruh posenya bersama istri-istrinya di dinding kamar adalah keharusan bagi kita.

Yang alpa pada penyebaran informasi tentang Lora Fadil adalah nasib anak-anak mereka. Yap, persis seperti itu apa yang saya rasakan seumur hidup. Ibarat klub Liga Inggris, anak-anak adalah ‘emyu’. Ada, tapi tidak diperhitungkan.

Hukum pun bersikap demikian. Mekanisme untuk memperoleh keabsahan poligami hanya mungkin jika istri memberi izin. Poin pertama dalam Pasal 5 ayat 1 UU Perkawinan berbunyi, “Adanya persetujuan dari isteri/isteri-isteri.” Anak-anaknya nggak diajak, nih?

Lalu, kapan kiranya anak dilibatkan dalam dialog atau diminta restu pada perkara yang menyangkut masa depannya?

Baca juga: Menikah Adalah Pilihan, Begitu juga Menjadi Janda

Padahal, menurut psikolog anak dan praktisi Theraplay PION Clinican, Astrid WEN, penjelasan tentang niat berpoligami itu penting bagi anak. Sebab, di dunia sosial mereka, seperti sekolah, anak diajarkan nilai universal dari sebuah keluarga yang terdiri dari seorang ayah dan seorang ibu.

Penjelasan tersebut bisa disampaikan kepada anak berusia 11 tahun atau saat anak dirasa sudah cukup siap berdiskusi soal ini. Kalau anak belum siap? Ya tunggu, dong. Santuy, Pak.

Perilaku kaum tua dan kaum muda ini memang selalu berseberangan, ya. Pantes, Sukarni dkk menculik Soekarno ke Rengasdengklok dan Iwan Fals bikin lirik “orang tua, pandanglah kami sebagai manusia”.

Tentunya, saya tidak ingin membuat dikotomi tentang siapa paling menderita, sebab penderitaan bukan perlombaan. Tapi, pada satu masa, ibu saya yang bijak dalam bertutur dan sedap dalam memasak pernah bilang bahwa apa yang kami rasakan adalah dua hal berbeda.

Penderitaan saya sebagai anak teramat nature alias alamiah dan tak dihadapkan pada dua opsi. Sementara, ibu lebih nurture karena dipengaruhi oleh lingkungan sosial yang misoginik.

Artikel populer: Mau ‘Ena-ena’ kok Maksa? Istrimu Bukan Boneka Seks, Mas

Penerimaan dan adaptasi atas rasa kecewa pun hampir mirip. Ibu, memiliki hak untuk pergi dari kehidupan bapak dan keluar dari jerat relasi yang merugikan, tetapi ia memilih tetap bertahan dengan alasan beragam. Saya, hendak pergi ke tempat paling ujung di Planet Namex sekalipun, tetap memiliki ikatan dengan bapak. Tapi kami sepakat, sebagai pihak yang dirugikan, kami harus saling melindungi.

Saat ditanya apakah ia masih mencintai bapak dan mengapa memilih bertahan, ia selalu berusaha menjelaskan bahwa “usia cinta dalam pernikahan kadang tak lebih panjang dari penderitaan, udah sana Nak beli mecin dulu ke warung”.

Eh, nggak ding… Kalau ditanya begitu, beliau cuma senyum-senyum.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.