Ilustrasi (Photo by Olu Famule on Unsplash)

Sekitar abad ke-20, hukuman mati tanpa peradilan di Amerika Serikat pernah digunakan sebagai strategi untuk mengendalikan kehidupan penduduk berkulit hitam. Sentimen ini bahkan tak jarang menjadi awal mula kasus pembunuhan, seperti yang terjadi pada Eugene Williams – remaja berkulit hitam yang tengah berenang di danau Michigan, tepatnya di bagian khusus para penduduk berkulit putih.

Iya, benar, betapa rasisnya, bukan? Di sana, danaunya saja punya bagian khusus tempat berenang orang-orang berkulit putih kala itu. Kalau di Indonesia, kekhawatiran masyarakat saat akan berenang di danau paling-paling hanya berkisar soal keberadaan buaya atau sesuatu yang kuning dan mengambang!

Setelah lebih dari 100 tahun kematian Eugene Williams yang memicu peristiwa The Red Summer of 1919, seorang pria berkulit hitam bernama George Floyd tewas saat dibekuk oleh petugas kepolisian Minneapolis, AS, bernama Derek Chauvin (sekarang mantan). Peristiwa yang terjadi pada 25 Mei 2020 itu pun menggegerkan dunia dan kembali memunculkan gerakan solidaritas Black Lives Matter.

Kalau dilihat-lihat, pendukung Black Lives Matter itu bermacam-macam. Mereka memiliki nilai heroiknya masing-masing.

Baca juga: Kita dan Tragedi di Amerika: Bukan Siapa Paling Menderita, tapi Kapan Berkaca

Pertama, pejuang yang turun ke jalan, ikut petisi online, dan donasi.

Pemrotes rasisme atau rasialisme yang menimpa George Floyd tak hanya muncul di Amerika, melainkan hampir di seluruh dunia. Unjuk rasa berlangsung di jalanan dan dipadati oleh ratusan ribu orang. Bahkan, mereka yang tak bisa hadir pun turut menyatakan dukungannya melalui petisi online.

Donasi untuk keluarga George Floyd dan organisasi penduduk berkulit hitam juga menjadi pilihan. Mungkin kamu sudah menemukan link donasi gerakan anti-rasisme itu berkali-kali. Ada orang-orang yang melewatkannya, ada pula yang membuka dan membacanya dengan saksama, sebelum akhirnya ia benar-benar berdonasi.

Dalam kalimat sederhana, pendukung yang satu ini adalah mereka yang berorientasi cepat, tepat, dan tidak penuh drama kayak deretan FTV yang judulnya aneh-aneh.

Kedua, pejuang di media sosial – yang terkadang mengajak orang lain untuk ikut bersuara. Termasuk, orang-orang yang baru mulai me-retweet satu-dua tweet terkait gerakan anti-rasisme, tapi gayanya udah selangit.

Selebgram Anya Geraldine, yang juga punya akun di Twitter, sempat ditegur seorang selebtwit. Pasalnya, platform Anya yang besar di media sosial itu dianggap tidak digunakan untuk call-out terkait persoalan diskriminasi ini. Yang terjadi, Anya justru mengunggah foto hasil selfie – dengan baju merah muda dan pose ala mbak-mbak zaman sekarang, yaitu dada dibusungkan ke depan – lengkap dengan senyum manisnya.

Baca juga: Seleb Perlu Call-out Nggak sih, Sesekali?

Rupanya, selain cewek-cewek yang jadi insecure gara-gara pacarnya nge-like foto Anya tadi, ada juga orang-orang yang merasa Anya kurang peduli isu terkini karena mentok-mentoknya cuma nge-post foto selfie, bukan informasi tentang Black Lives Matter.

Bukan cuma Anya, orang-orang dengan platform besar tak sedikit yang diburu dan diberi pertanyaan serupa: Kenapa diam saja? Kenapa nggak bersuara? Kenapa mereka nggak mengajak orang-orang untuk meningkatkan kepedulian terhadap anti-rasisme? Apakah mereka mendukung tindakan rasis karena lebih memilih diam seolah-olah tak mau tahu? Hmmm???

Ternyata, walau Anya menuliskan nama akunnya sebagai @Anyaselalubenar, dia tetap bisa disalah-salahin juga.

Ketiga, pejuang yang memberi pelajaran dengan menghilangkan sementara centang biru akun terverifikasi. Namanya: Instagram.

Sebagai media sosial yang sering kita kata-katain menjadi tempat pamer pencapaian, Instagram kali ini layak mendapat spotlight dan tepuk tangan. Sebab, dengan tegas dan berani, ia sempat menghapus centang biru di sebuah akun terverifikasi milik Miss Universe Malaysia 2017, Samantha Katie James, meski kini centang biru tersebut telah kembali. Secara tak langsung, Instagram memberi peringatan: ketenaran dan centang biru itu fana, blunder screenshoot-an Instagram Story abadi.

Baca juga: Cintaku Terhalang Seorang Bapak yang Rasis

Sebelumnya, Samantha menjadi sorotan berkat pernyataannya yang kontroversial di Instagram Story. Berikut kutipannya dalam Bahasa Indonesia:

“Kepada orang-orang berkulit hitam. Rileks. Anggap ini sebagai tantangan yang membuatmu lebih kuat. Kamu memilih terlahir sebagai orang dengan kulit ‘berwarna’ di Amerika untuk sebuah alasan. Untuk mempelajari alasan tertentu. Terimalah apa adanya, hingga kini kelaparan dan kemiskinan masih ada. Itulah yang terjadi. Tak bisa dihindari. Yang terbaik yang bisa kamu lakukan adalah tetap tenang, jaga hati, jangan biarkan ia hancur. Itu tanggung jawabmu.”

Menanggapi semua kritikan yang masuk, Samantha telah menyampaikan permintaan maaf. Di post terpisah, ia menegaskan tetap akan berdiri kokoh tanpa takut kehilangan perasaan damai, dengan menulis:

“Orang-orang berpikir mereka sedang menghancurkanku. Tapi, aku kini berada dalam keadaan yang damai. Tak ada yang bisa mengambilnya dariku.”

Tapi, Samantha, kami bahkan tidak sedang berusaha menghancurkan kamu, kok. Pertanyaan saya justru begini: Bukankah kamu sendiri yang memilih keadaan ini? Jadi, rileks aja ya.

Keempat, pejuang yang juga pencinta oppa dan eonnie alias – ladies and gentlemen, please welcome – KPopers.

Yang tidak diduga, muncul tagar tandingan #WhiteLivesMatter dari orang-orang yang berusaha mengimbangi #BlackLivesMatter. Masih banyak orang kekeuh menyebut bahwa yang seharusnya disiarkan adalah All Lives Matter, bukan hanya Black.

Artikel populer: Bukan Cuma Rasis, di Sepak Bola juga Nggak Boleh Seksis

Padahal, siapa yang bilang kalau all lives nggak matter? Dengan digaungkannya Black Lives Matter, bukan berarti nyawa-nyawa lain di dunia ini jadi nggak penting. Tentu saja all lives matter, tapi yang sekarang sedang mengalami kekerasan rasial adalah mereka yang berkulit hitam. Jadi, bukankah lebih baik mengedepankan empati sejenak, alih-alih menjadikan tragedi ini – lagi-lagi – sebagai alat untuk memusatkan perhatian pada diri sendiri?

Nah, untuk ‘menenggelamkan’ pesan-pesan rasis yang dibawa lewat #WhiteLivesMatter, sebuah kelompok pahlawan baru pun lahir: KPopers.

Ketimbang membiarkan ego-ego manusia rasis yang nggak mau kalah cari perhatian, KPopers – alias penggemar KPop – di seluruh dunia seolah bersatu menguasai tagar #WhiteLivesMatter secara sengaja, sambil menggunakannya untuk mengunggah video-video fancam dan foto idola Korea Selatan.

Tagar tersebut melesat masuk ke daftar trending di Twitter sejak hari pertama dimulai, tapi – sejauh jari nge-scroll – kamu hanya akan menemukan fancam penampilan idola Korea yang beragam seperti BTS, Twice, NCT, dan lainnya. Tak ketinggalan, Blackpink ddu-du ddu-du aye aye!

Bagimu, selera musikmu; bagiku, selera musikku. Tapi, perkara rasisme, kita akan selalu berada di barisan yang sama, sembari berteriak kepada orang-orang angkuh tukang rasis yang diskriminatif: “Hit you with that ddu-du ddu-du!”

1 KOMENTAR

  1. sebenarnya pesan rasis itu di Amerika sudah banyak terjadi, tapi memang ga se exposure kejadian ini. Sya ga tau apa alasan dari tindakan rasis spt itu ya..

    apakah di picu kelakuan orang kulit hitam disana yng banyak jadi bandar atau preman, saya rasa tidak juga…orang kulit putih juga kelakuannya barbar..hanya saja lebih berkelas karena dibalut jas dan pakaian necis sambil main golf…ini pendapat saya pribadi loh ya..

    intinya saya merasa ini bukan tindakan rasis sih….karena kejadian ini juga melibatkan orang keturunan asia disana….cuma memang bibit-bibit kerusuhan ini sudah ada sebelum-sebelumnya…banyak tindakan tidak adil yang di alami kulit bewarna sebelum kejadian ini terjadi, kulit asia dan indian asli pun mengalaminya….

    Tapi ingat penindasan kulit putih pun juga sedang terjadi di Afrika Selatan semenjak apartheid berhasil digulingkan…jadi sebenarnya rasis tidak melulu kulit hitam saja..tpi semua warna kulit pernah mengalaminya.

    Memang kecenderungan manusia untuk membela sesamanya entah dari suku, agama atau warna kulit yang sering menyebabkan hal ini terjadi….

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini