Kisi-kisi sebelum Anda Menuding Siapa yang Salah ketika Banjir
CEPIKA-CEPIKI

Kisi-kisi sebelum Anda Menuding Siapa yang Salah ketika Banjir

Ilustrasi banjir (indowarta.com)

Mungkin karena waktu itu acara ILC-nya Karni Ilyas ditayangkan sampai tengah malam maka kampret-kampret yang berjaya, tapi belakangan, bersama datangnya hujan dan banjir di Jakarta, giliran cebong-cebong yang mendapat angin.

Tidak ada hari – di dinding media sosial saya – yang tidak dihiasi oleh perdebatan kedua pihak yang berseteru ini. Tapi, menurut saya ini adil. Jadi masing-masing pihak bisa merasakan susahnya berjibaku di media sosial untuk membela idolanya.

Kalau di acara ILC, Denny Siregar dan penggemarnya menyalahkan Karni Ilyas dan acara yang dipandunya, sampai-sampai Bung Karni mengutip pepatah “Kalau kamu tidak pandai menari, jangan lantai kamu bilang terjungkat”.

Maka untuk banjir kemarin, pendukung Anies-Sandi, seperti biasa, menyalahkan Ahok dan Jokowi. Pepatahnya ada juga kalau fans berat Pak Ahok dan Pak Jokowi mau membalas: “Kalau awak yang celaka, jangan orang yang diumpat”.

Tapi sebenarnya siapa sih yang paling pantas disalahkan untuk terjadinya lagi banjir di ibu kota itu? Beruntung kalian rajin membaca CepikaCepiki, jadi kalian tahu kebenarannya dan bisa mulai berhenti saling memaki dan berhenti mempolitisasi banjir.

Dan, inilah pihak-pihak yang menurut saya paling bertanggung jawab atas terjadinya bencana tahunan di ibu kota itu:

1. Pompa

Ketika banjir terjadi – kalau sudah kadung terjadi – maka upaya pertama yang harus dilakukan oleh siapa pun pemimpin Jakarta adalah membuat airnya surut. Kepada mesin yang kita sebut pompa inilah kita berikan tugas berat itu supaya dia bisa “melakukan tindakan yang diperlukan secara tanggap dan responsif”.

Akan menjadi celaka kalau terlanjur kita ucapkan “selamat bertugas” kepada pompa tadi tapi kenyataannya dia malah rusak. Celakanya lagi, orang tidak peduli pompa itu baru kita beli kemarin, atau sudah kita beli dan pasang 5 tahun yang lalu.

Saya rasa tidak satu pun warga Jakarta yang bisa menerima alasan banjir terjadi karena pompanya baru bertugas selama 2,5 bulan.

Pompa adalah pompa, tugasnya menguras air yang menggenang di mana pun berada. Tidak ada gunanya pompa itu mengirim pesan whatsapp panjang lebar kepada petugas di lapangan, mengirimkan rasa terima kasih dan rasa hormat untuk memompa semangat mereka, kalau pompanya sendiri tidak bekerja.

2. Pelembab Bibir

Kalau sebagian orang Jakarta suka membuang sampah ke sungai atau membangun rumah sampai di atas kali, semua orang sudah tahu. Yang tidak pernah dihitung orang adalah kebiasaan warga kelas atas yang juga bisa menyebabkan banjir: pakai lip balm alias pelembab bibir.

Padahal, bibir yang terlalu lembab itu bisa bikin orang keseleo lidah. Sudah gak membantu ngasih solusi untuk masalah banjir, omongannya malah bikin bingung masyarakat.

Semua ini berawal dari pemakaian mesin pendingin udara yang terlalu berlebihan. Efek samping pemakaian AC secara terus-menerus adalah bibir kering dan pecah-pecah. Diobati dengan larutan tjap ‘kaki lima’ Tanah Abang, sudah pasti akan diprotes oleh fans berat Pak Ahok.

Cara paling ringkas adalah memakai pelembab bibir tadi. Sepuluh juta penduduk Jakarta, berarti dua puluh juta buah bibir untuk dilembabkan. Bisa dibayangkan selembab dan seberapa banyak kandungan air di udara Jakarta yang bisa berubah menjadi hujan?

AC-nya sendiri, semua orang tahu, menghasilkan produk sampingan berupa air. Pengalaman saya, satu hari, kalau lupa matiin, satu unit AC bisa menghasilkan air satu ember 2 literan. Sepuluh juta penduduk Jakarta, setengahnya saja pasang 1-2 unit AC di rumahnya, bisa dihitung volume air yang dihasilkan oleh warga ibu kota sendiri.

3. Air Mancur

Tidak perlu riset dalam-dalam untuk tahu bahwa yang paling bersalah setiap kali banjir melanda Jakarta adalah air. Datangnya bisa dari hujan, bisa dari air AC warga Jakarta sendiri seperti sudah dibahas di atas.

Sementara yang kedua bisa diatasi, kalau warga Jakarta mau peduli dengan lingkungan, lalu menghemat penggunaan AC. Kalau yang pertama justru, seharusnya, melibatkan aparat kepolisian. Lha, sudah tahu pihak yang selalu bikin ulah, kok gak ditangkap sama Pak Tito dan anak buahnya?

Sayangnya, anggaran perbaikan kolam air mancur di gedung DPRD kemarin sudah dicoret. Padahal, itu solusi cerdas juga lho. Lupakan Kanal Banjir Timur dan Barat dan program normalisasi sungai, cuma bikin kita berkelahi saja soal penggusuran.

Kalau perlu semua rumah anggota DPRD dibuatkan kolam air mancur juga dengan sistem tadah hujan. Jadi kalau terjadi hujan, seluruh ibu kota sudah siap untuk menangkapnya. Jangan lupa juga bahwa ada kehidupan yang terpancur dari kolam air mancur tadi.

Sekarang rencana renovasi air mancur itu sudah dibatalkan. Walaupun tidak melalui mekanisme demo beramai-ramai dan berjilid-jilid di Monas, tapi terus dibahas di media sosial pasti membuat DPRD Jakarta gak enak sendiri.

Jadi, besok-besok jangan pernah nanya, “Lima tahun kemarin kolam air mancur di DPRD itu ngapain aja?”, kan kalian yang membuatnya dikeluarkan dari APBD-nya Pak Anies. Salahkan saja kolam air mancur yang ada, kalian sendiri yang sudah memilihnya.

4. Yang di Atas

Menyalahkan orang lain adalah hal terakhir yang bisa kita lakukan untuk urusan apa pun, termasuk banjir. Yang paling enak sih nyalahin yang di atas. Ingat gak kalau dulu ada gubernur Jakarta yang bilang kalau banjir di ibu kota lebih mudah diatasi kalau beliau jadi presiden, nyalon, lalu betulan jadi presiden?

Sekarang Jakarta masih banjir, apa beliau mau bilang kalau banjir lebih mudah diatasi dari New York, dari markas PBB? Terus kalau masih gak berhasil juga, mau bilang kalau banjir lebih mudah diatasi dari surga?

Tapi kata ibu saya, sepertinya beliau mengutip kata-kata Pak Sandi, hujan itu berkah. Kalau gak ada hujan toh kita juga yang repot. Gak punya alasan buat bolos kerja atau sekolah.

Tuhan pun sudah mengatur kapan hujan, kapan panas. Manusianya aja – ya kita-kita ini – yang menggunduli hutan, buang sampah sembarangan, dan lain sebagainya.

Dengan kata lain, gak ada gunanya yang di atas hebat, kalau yang di bawahnya bebal. Terus, besok-besok mau menyalahkan siapa lagi? Tuhan?

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.