Ilustrasi lelaki. (Image by efes from Pixabay)

Belum lama kita diributkan oleh seorang public figure yang juga penyiar radio karena bangga atas pencapaiannya berhubungan seks dengan 100 perempuan. Sebetulnya bukan dia saja, banyak lelaki lain dalam kehidupan sehari-hari yang juga pamer karena di usia muda sudah meniduri banyak perempuan. Merasa bangga seakan mengangkat trofi bergengsi.

Tapi, apakah itu sesuatu yang keren dan layak dibanggakan? Jika iya, tampaknya memang tidak ada lagi dalam hidupnya yang bisa dibanggakan, kecuali seputar selangkangan. Sejak kapan kualitas diri diukur dari jumlah perempuan yang ditiduri?

Tentu setiap orang punya hasrat dan fantasi seksual. Namun, apa perlu dipamerin, apalagi dijadikan konsumsi publik? Lagi pula, seks bukanlah soal kuantitas, melainkan tentang kualitas. Bagaimana menghabiskan waktu dan romansa dengan orang yang kita sayangi.

Baca juga: Ngopi dan Ngeseks Sehormat-hormatnya

Seks juga tentang bagaimana menghargai orang yang mau menghabiskan waktu untuk berbagi kasih atau perasaan sayang. Bukan sekadar ‘ena-ena’, apalagi dianggap sebuah pencapaian atau penaklukan.

Masyarakat patriarkis memang melihat perempuan sebagai objek seks yang mesti ditaklukkan. Itulah mengapa berhitung soal berapa banyak perempuan yang ditiduri seakan menjadi prestasi. Padahal, tidak menghargai perempuan sama sekali. Lagi pula, bagaimana pun hebatnya di ranjang, kalau kerap memamerkan jumlah orang yang pernah berhubungan seks dengannya, patut dicurigai bahwa sebenarnya dia nggak jago-jago amat.

Baca juga: Untuk Lelaki yang Sering Kali Merasa Tersaingi

Betul, seperti ungkapan tong kosong nyaring bunyinya. Intinya juga mirip dengan hasil penelitian berjudul Evolutionary Trade-Off between Vocal Tract and Testes Dimensions in Howler Monkeys. Penelitian itu menyebutkan bahwa monyet yang suaranya paling keras dan nyaring memiliki testikel kecil dan jumlah sperma sedikit. Tentu tidak ada yang mau disamakan dengan monyet, kan?

Oh ya, mereka yang fokus pada berapa banyak orang yang ditiduri, sesungguhnya hanya fokus pada kenikmatan dirinya sendiri. Tak peduli dengan kenikmatan pasangan seksnya. Atau, jangan-jangan, mereka memang tidak bisa membuat pasangan seksnya mencapai puncak kenikmatan.

Baca juga: Soal Konsep Consent, Benarkah Mendorong Hubungan Seks di Luar Nikah?

Anehnya, banyak orang memuji dan menyanjung lelaki yang mengaku pernah ngeseks dengan ratusan perempuan. Semisal perempuan yang mengaku pernah berhubungan seks dengan ratusan laki-laki pasti dihina, direndahkan, oleh masyarakat. Tapi tentunya kesetaraan gender bukan tentang perempuan yang ingin berlomba untuk bisa berhubungan seks sebanyak-banyaknya. Ini juga bukan upaya untuk menghakimi seksualitas seseorang, namun perlu disadari bahwa penaklukan perempuan dengan seks bukanlah pencapaian.

Kalau memang adiksi dengan seks, ya lebih baik mencari pertolongan ke seksolog atau psikolog daripada mengumbar ke publik. Lebih baik membangun hubungan yang sehat daripada membangun opini dengan cerita nirfaedah seolah-olah hebat.

Lelaki yang merasa bangga karena meniduri banyak perempuan, apalagi memamerkan seberapa hebat dirinya di ranjang, sungguh lelaki yang nggak banget. Lelaki yang begitu harus diwaspadai, jangan malah didekati. Mereka pun kerap memanipulasi hubungan seks. Memang berengsek.

Artikel populer: Pelaku Pelecehan Seksual Ditandai, Bisa Dipecat dan Susah Cari Kerja!

Ketahuilah, semua bentuk aktivitas seksual yang didapatkan dari hasil manipulasi adalah kekerasan seksual, menurut Komnas Perempuan.

Kelakuan seperti itu seharusnya menjadi pertanda agar kita tidak terjebak dalam sirkel pertemanan atau bahkan hubungan asmara dengan mereka. Jika kebetulan punya teman semacam itu, sudah selayaknya ditegur. Terus, kalau kelakuannya masih sama, tinggalkan saja.

Bagi yang sudah terlanjur menjadi pasangan dengan rekam jejak seperti itu, hati-hati deh, sis, kamu bisa saja tidak bahagia. Sebab tak menutup kemungkinan kamu cuma dijadikan objek seks belaka. Jika memang begitu, udah putusin aja!

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini