Di Balik Baliho Cak Imin, Gus Romy, dan Pak Zulkifli

Di Balik Baliho Cak Imin, Gus Romy, dan Pak Zulkifli

Cak Imin, Gus Romy, dan Zulkifli Hasan (liputan6.com, timesindonesia.co.id, goriau.com)

Blakrakan. Itu kata dalam bahasa Jawa, sedangkan bahasa Indonesia-nya adalah bertebaran di mana-mana. Mungkin kata itu adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan banyak baliho menjelang tahun politik.

Tentu, itu baliho bukan sembarang baliho. Tujuannya jelas. Menarik minat masyarakat untuk memperhatikan dan menyimak lebih dalam pada setiap kata-kata yang terpampang agar masyarakat sadar. Bahwa sesaat lagi Indonesia akan memasuki hajatan politik.

Tapi, tidak banyak baliho yang benar-benar menarik minat masyarakat, kecuali tiga baliho. Siapa saja? Mari kita analisis secara semiotik Waw Waw Wow.

Pertama, baliho milik Cak Imin. Namanya mulai meroket sejak beliau terpilih sebagai ketum PKB. Apalagi pada tahun 2014, PKB yang bergabung dalam gerbong Jokowi membuat namanya kian berkibar.

Belum lagi faktor pengalamannya yang pernah menjadi menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi tentu banyak yang mengetahui kinerja beliau. Apalagi beliau adalah kemenakan Gus Dur. Harapan besar tentunya tersemat pada pundak beliau agar nilai-nilai kebhinnekaan bisa diteruskan olehnya.

Dan lagi, secara jelas dan nyata bahwa balihonya menyatakan “Cak Imin: Cawapres 2019”. Ketika ada asumsi bahwa orang-orang ingin menjadi yang terbaik dalam lingkungan atau negaranya, Cak Imin justru ingin menjadi orang kedua.

Ini jelas membuktikan kerendahan hati dan keluhuran diri pada Cak Imin. Asumsi bahwa orang pertama lebih baik dan enak daripada orang kedua ternyata bisa jadi salah.

Melalui Cak Imin, kita diberi pengetahuan bahwa tak selamanya menjadi (calon) orang kedua baik. Mungkin beliau terinspirasi dengan lagunya Astrid.

“Jadikan aku yang kedua, buatlah diriku bahagia.”

Jadi jelas kan kenapa Cak Imin ingin jadi cawapres?

Kedua, baliho milik Gus Romy, ketum PPP. Dengan slogan “Mari Bersatu Membangun Indonesia” tentu suatu tujuan yang luhur dan adiluhung. Barangkali mungkin maksudnya adalah masyarakat Indonesia yang terpecah-belah menjadi dua kubu. Bani Serbet dan Bani Micin.

Mungkin, jika niat baik Gus Romy ingin menyatukan bangsa Indonesia, maka akan menggabungkan kedua kubu. Bisa Bani Semi, Bani Beti, atau Bani Miser.

Yah, itu tergantung nanti lah. Yang jelas foto yang terpampang dengan menggunakan peci putih dan latar belakang kepulauan Indonesia menunjukkan kesucian serta jiwa Nusantara pada dirinya.

Tapi seberapa jauh Gus Romy akan bersinar? Nah ini menjadi pertanyaan. Namanya muncul setelah perseteruan dua kubu PPP tempo lalu. Pada akhirnya, tentu saja perseteruan dimenangkan kubunya.

Dengan slogan bersatu – partainya juga mengusung nama persatuan – dan dia akhirnya berhasil menyatukan kedua kubu, ada baiknya jika mencalonkan diri apapun itu, memakai lagu Satu Sisi dari Dewa 19.

“Satu sisi telah terhapus sisakan perih, satu sisi telah terlahir memecah sunyi.”

Jadi, paham kan kenapa ada baliho Gus Romy?

Ketiga, baliho milik Zulkifli Hasan, ketum PAN. Saya bingung dengan penyebutannya. Dipanggil Bapak atau Pakde ya? Karena di balihonya setahu saya tak ada panggilannya. Biar umum, saya pakai Bapak Zul.

Nah, untuk yang satu ini, partainya berambisi mencalonkan dirinya sebagai capres 2019. Namun, Pak Zul memberikan tanggapan lain. Andai memenuhi syarat yaitu memiliki 20%, mungkin Pak Zul baru benar-benar mencalonkan diri.

Yang jelas, balihonya sudah terlanjur bertebaran di mana-mana. Dengan slogan “Menjahit Kembali Merah Putih”, berarti ada yang sobek dalam diri masyarakat Indonesia.

Pak Zul membayangkan dirinya adalah jarum dan PAN adalah benang. Nah, yang menjadi pertanyaan, apa dan siapa yang dijahit? Masyarakat, pemerintahan, atau balihonya sendiri yang beliau jahit? Bingung kan?

Yang pasti, pengalamannya tak diragukan lagi. Sebagai ketua MPR periode 2014-2019, ia pasti paham bagaimana mengendalikan situasi dan kondisi, jika ada kegaduhan rapat. Dan, juga bagaimana menjahit pakaian pertikaian para anggota.

Nah, omong-omong soal menjahit, barangkali tim suksesnya terinspirasi dengan lagunya Project Pop yang berjudul Bau Bau Bau.

“Rajin menjemput, rajin menjahit, ku cinta kau walau dirimu…”

Dirimu apa hayo? Ya dirimu yang sobek hatinya, ehm. Makanya Pak Zul berharap menjahit tenun kebangsaan apapun yang telah sobek atau putus.

Jadi, paham kan kenapa Pak Zul mengemukakan slogan menjahit?

Nah, sebenarnya ada lagi baliho yang sudah lebih dahulu melanglang buana ke seantero jagat raya. Dengan resep yang lebih mumpuni dan slogan yang lebih menjiwai seluk beluk batin masyarakat Indonesia.

“Hadiah terbaik untuk orang tercinta”.

Begitulah kira-kira slogannya. Ia tak lagi menawarkan kata-kata, tapi sudah menghadirkan fakta. Bahwa, dengan memilihnya, masyarakat Indonesia akan tercerahkan dan terpana dengan segala keagungan yang dimilikinya.

Infrastruktur sudah dibangun, walaupun pada mulanya ada pro dan kontra. Tapi, apa boleh bikin. Dana selangit, izin pun tak dipersulit.

Jadi, baliho apa yang telah membuat masyarakat terbuai dengan segala kemewahan warna, kata-kata, dan gambarnya?

Baliho apa yang bisa mengalahkan ketiga tokoh politik yang sudah terkenal di kalangan masyarakat Indonesia?

Dan, baliho apa yang mampu membuat saya harus meneliti dengan analisis semiotik Waw Waw Wow? Apalagi kalo bukan dia. Meikarta.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN