Tolong ya, Minke Bukan Sekadar Pakai Baju Adat

Tolong ya, Minke Bukan Sekadar Pakai Baju Adat

Iqbaal Ramadhan sebagai Minke (tengah)/medcom.id

Buku terbitan Hasta Mitra itu masih tersimpan di sudut rak. Dengan sampul ilustrasi salah satu sudut pasar di kota tua, serta lukisan wajah sepasang perempuan dan laki-laki, buku tersebut menyimpan tulisan tangan Sang Maestro Sastra yang kenyang dengan apa yang namanya penjara.

Ya, buku itu berjudul “Bumi Manusia”, buku pertama dari Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer.

Beberapa tahun silam, sempat beredar kabar bahwa kelak buku “Bumi Manusia” karya Pram bakal difilmkan. Garin Nugroho dan Mira Lesmana disebut-sebut siap menjadi sutradara film yang mengangkat kisah Minke tersebut.

Namun, kabar itu hilang saat semua sibuk menerka, siapakah kelak yang akan menjadi Nyai Buitenzorg dengan kawalan Darsam-nya, atau bagaimana Minke berdialog secara nyata dengan segala kekikukannya?

Mungkin banyak yang lupa, dalam karakter kikuk seorang Minke, Pram menuangkan semua yang dikaguminya dari seorang Tirto Adhi Soerjo.

Pram, yang ketika itu tergila-gila dengan semangat nasionalisme, merasa bahwa Tirto adalah nasionalis yang sebenar-benarnya. Bukan karena Tirto orang Blora seperti Pram, melainkan orang yang dianggap mampu mengejawantahkan arti nasionalisme yang selama ini dalam benak Pram.

Tirto adalah orang yang merintis surat kabar serta jurnalistik di negara ini. Ia menggunakan surat kabar sebagai alat propaganda nasionalisme kepada masyarakat.

Lewat surat kabar Medan Prijaji yang didirikan pada 1907, Tirto melawan pemerintah kolonialisme dengan caranya sendiri. Yaitu, dengan cara memakai bahasa Melayu yang merupakan cikal bakal bahasa Indonesia.

Tak hanya itu, pada 1909, Tirto bahkan mendirikan organisasi Sarekat Dagang Islamiyah di Batavia sebagai motor gerakan nasionalisme. Sebelumnya, pada 1904, Tirto juga sempat mendirikan Sarekat Prijaji.

Atas kegigihannya itulah, Pram begitu mengagumi sosok Tirto Adhi Soerjo. Dan, kekagumannya itu tak hanya dituangkan dalam tokoh Minke di Tetralogi Pulau Buru, tapi Pram juga menulis sebuah buku khusus sebagai penghormatannya kepada sosok Tirto Adhi Soerjo.

Lewat buku “Sang Pemula”, Pram tak hanya menggambarkan siapakah seorang Tirto, namun ia juga ‘menggugat’ pemerintah yang menjadikan Boedi Oetomo sebagai simbol sejarah Kebangkitan Nasional.

Begitulah Pram. Orang yang memahami nasionalisme sebagai nafas kehidupan sehari-hari, yang meresap hingga ke sumsum tulang.

Balik lagi soal Tetralogi Pulau Buru.

Sejarah terbitnya Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca) pun bukan sesuatu yang mudah. Mulai dari kumpulan naskah yang tercerai-berai hingga sulitnya mencari penerbit yang mau menerbitkan tulisan Pram kala itu.

Beruntung, lewat tangan Joesoef Isak dan Hasjim Rachman yang tak kenal lelah, akhirnya buku tersebut berhasil diterbitkan, meski dua bulan berselang kembali dilarang oleh Kejaksaan Agung.

Biar bagaimanapun, buku itu terlanjur menjadi buah bibir di masyarakat. Dengan diam-diam, buku tersebut beredar dari satu tangan ke tangan lainnya. Tersebar dari satu kelompok, ke kelompok lainnya, memuaskan dahaga para pencinta karya Pram.

Boleh dibilang para pencinta karya Pram begitu militan. Itulah sebabnya, saat mendengar bahwa “Bumi Manusia” akan diangkat ke layar lebar, segenap mata mereka tertuju pada kabar tersebut.

Adalah Hanung Bramantyo, yang menjadi sutradara film “Bumi Manusia”, bukan Garin Nugroho atau Mira Lesmana.

Dan, Hanung telah memperkenalkan para pemeran utama film “Bumi Manusia”, yaitu Iqbaal Ramadhan sebagai Minke, Mawar Eva de Jongh sebagai Annelies Mellema, serta Ine Febriyanti sebagai Nyai Buitenzorg alias Nyai Ontosoroh alias Sanikem.

Kemunculan para pemeran utama menuai banyak kritikan. Bukan hanya pemilihan aktor untuk tokoh Minke yang dianggap kurang pas, kurang berkarakter, serta kurang berbobot, melainkan pemilihan aktris pemeran Nyai Ontosoroh. Ine dianggap kurang mewakili karakter Nyai Ontosoroh yang seorang Jawa totok.

Apalagi, ditambah pernyataan Hanung yang mengatakan bahwa Iqbaal tak perlu membaca buku “Bumi Manusia” untuk bisa menjadi seorang Minke, cukup dipakaikan baju adat Jawa, itu sudah cukup.

Duh… duh…

Ini kita bicara karakter yang mewakili Tirto Adhi Soerjo dalam pandangan seorang Pramoedya Ananta Toer, lho. Pram sendiri harus meneliti dan mempelajari secara khusus tentang siapa itu Tirto. Masa iya, dengan entengnya Hanung bicara begitu?

Padahal, seorang Chicco Jerikho, saat harus memerankan karakter Sani dalam film “Cahaya dari Timur: Beta Maluku”, tak hanya getol berlatih sepak bola, namun sempat berada di Maluku selama dua bulan untuk memahami karakter masyarakat Maluku.

Tak tanggung-tanggung, demi totalitas aktingnya, Chicco pun sempat menjajal menjadi tukang ojek di sana. Hasilnya, film ini meraih penghargaan sebagai Film Terbaik 2014.

Lha ini, kita bicara tentang karakter seorang Minke, orang Jawa yang serba kikuk dan kaku, serius dalam menghadapi hidup serta penuh dengan pikiran nasionalisme, masa iya selesai dengan pakaian adat saja?

Sama halnya dengan peran Nyai Ontosoroh yang didapuk di pundak Ine Febriyanti. Saya sendiri berharap peran ini jatuh kepada Happy Salma atau Lola Amaria. Karakter mereka berdua lebih kuat untuk memerankan Nyai Ontosoroh.

Ya setidaknya, kita melihat gambaran wajah seorang perempuan Jawa totok yang berkulit hitam manis, sesuai dengan penggambaran seorang Sanikem di “Bumi Manusia”.

Di sini, kita realistis sajalah bahwa banyak orang yang skeptis dengan film “Bumi Manusia”. Padahal, buku “Bumi Manusia” adalah buku yang berbobot dan sarat makna.

Buku “Bumi Manusia” bukan sekadar novel picisan drama percintaan kasih tak sampai. Sebab Hanung juga sempat mengeluarkan pernyataan yang cukup membuat cicak berhenti berdecak.

”Pram, lewat Bumi Manusia mengungkapkan bahwa penjajahan itu bisa mengambil istrimu. Annelies diambil. Jadi, kolonialisme bukan soal senjata. Kolonialisme itu soal hukum kolonial. Hukum kolonial itu tidak hanya merenggut rempah-rempah dan sumber daya alam. Kalau di novel pak Pram, bahkan lewat hukum kolonial, orang bisa merenggut istri yang kamu nikahi dengan sah dan penuh cinta. Itu yang bagi saya menarik dari Bumi Manusia.”

Well… sejujurnya saya jadi sedih, membaca lagi bagaimana Pram menggambarkan seorang Minke dan Nyai Ontosoroh, ketika Hanung hanya melihat seorang istri yang diambil secara paksa dari suaminya di buku “Bumi Manusia”.

Sepertinya akan jauh berbeda seorang Nyai Ontosoroh di tangan Hanung dan mungkin akan kalah jauh dengan “Marlina, Si Pembunuh Dalam Empat Babak” yang dipoles oleh Mouly Surya.

Lupakanlah, lupakan segala bentuk marjinalisasi, subordinasi, multiburden, pelabelan, serta kekerasan yang dialami Sanikem. Toh, ia hanya seorang gundik, kan?

Sementara, seorang terpelajar harus berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan. Dan, sekali dalam hidup mesti menentukan sikap. Kalau tidak, dia takkan menjadi apa-apa.

Kalau sutradara mah bebas…

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.