Baiklah, Sekarang Kita Bicara Cinta dengan Logika Kepemilikan

Baiklah, Sekarang Kita Bicara Cinta dengan Logika Kepemilikan

Ilustrasi (Photo by Samantha Green on Unsplash)

Waktu masih sekadar gebetan, rasa-rasanya ingin lekas pacaran. Lalu, dibukalah jalan pedekate dengan berbagai strategi. Tentu, dengan lama durasi yang telah ditargetkan, tidak seperti proyek pembuatan jalan di desa.

Sebab, pedekate tanpa perencanaan waktu cuma bakal mengancam kesejahteraan hidup sendiri, dibebani semakin banyak modal akomodasi. Belum lagi, persaingan ketat jika sasaran tembak banyak peminat. Harus pepet-pepetan walau dengan sahabat.

Nah, itu cerita cinta ala remaja dan mahasiswa yang baru lulus ospek. Kalau yang baru lulus wawancara kerja, beda lagi.

Secara umum, bagi mereka yang mengaku dewasa, hakikat cinta adalah pernikahan. Bukan lagi pacaran. Tetapi, formatnya tetap sama, kan? Sama-sama menalar cinta dengan logika kepemilikan. Sama-sama menuntut agar nilai perorangan menjadi ‘kepunyaan’. Logika semacam ini tersirat dan terlantun dalam lagu Yovie and Nuno. Dia untukku, bukan untukmu. Dia milikku, bukan milikmu.

Logika percintaan yang demikian amatlah wajar sebagai praktik relationship-an.

Baca juga: Karena Pacaran Memang Harus Ideologis

Jangan-jangan… Ini salah satu alasan di balik statistik nikah muda yang melonjak? Asumsinya, semakin banyak populasi remaja yang tumbuh dewasa, semakin banyak yang jatuh cinta, semakin banyak yang takut kehilangan, semakin banyak yang memutuskan segera menikah! Tentu, setelah cukup usia perkawinan, meski belum cukup tabungan untuk satu kavling di perumahan.

Banyak orang pandai telah meninjau musabab maraknya tren kawin muda di kalangan masyarakat urban. Konon, salah satunya, adalah dampak dari radikalisme agama. Tapi, mereka lupa sisi psikologis yang satu itu, bahwa mereka yang kebelet kawin juga merasa terlalu takut kehilangan… pasangan.

Apakah semua ini gara-gara lagu Yovie and Nuno yang propagandis?

Tanyakan pada rumput yang berjoget.

Tapi bisa dimaklumi sih, sebab pasangan adalah pelengkap hidup. Dalam kehidupan sosial primata manusia, pasangan hidup adalah salah satu elemen yang memiliki dasar sebagai fungsi sosial.

Dengan menikah, kita dianggap memiliki kehidupan normal dan beradab. Bersama pasangan, kita bisa berbagi cicilan rumah dan kendaraan. Bisa berbagi buku bacaan tanpa sumelang hilang. Dan, yang paling penting, bisa wikwikwik (terdeteksi sensor) tanpa sumelang dikatai “hamil duluan”. Sayangnya, banyak yang lupa bahwa dengan pasangan, kita juga bisa berbagi peran.

Ya, ya, ya… sepragmatis itu pernikahan, memang.

Baca juga: Nikah Tanpa Pacaran? Tidak Semudah Itu, Ferguso!

Om saya yang sudah belasan tahun menikah, suatu hari memberi petuah, “Dewi, kamu harus menikah. Bukan karena apa-apa, coba bayangkan suatu hari di usia tua. Kamu harus punya teman bobok dan makan bubur, juga anak-anak yang memberi tunjangan hidup dan mengurus pemakaman.” Begitu kata pria yang sudah berpengalaman dalam pernikahan itu.

Seketika muncul di benak saya, bayangan nenek-nenek yang rapuh karena osteoporosis duduk-duduk di beranda rumah hendak terpapar matahari pagi. Setahun kemudian divonis demensia dan sering lupa arah kamar mandi. Hmmm… sepertinya lebih sulit mencari kekasih di waktu jompo ketimbang di waktu jomblo.

Jadi, pasangan juga ibarat asuransi untuk masa tua. Orang-orang takut kehilangan asuransinya, maka cepat-cepat ia meminta negara dan agama mengesahkannya – sebegitu ia lulus wawancara kerja.

Oleh masyarakat milenial urban, alasan ini tampaknya gemar disamarkan. Menikah dianggap hal yang istimewa, sakral, bahkan prinsipil. Pertanyaan menikah atau belum pun dianggap pertanyaan sensitif yang menyinggung prinsip hidup seseorang.

Baca juga: Sebab Menikah itu Menyempurnakan Separuh dari Gengsi Sosial

Ini lain dengan masyarakat pesisir di Maluku Utara yang saya jumpai. Ketika berinteraksi dengan orang-orang yang berakar budaya pedesaan di sana, pertanyaan “menikah kah belum” adalah hal biasa untuk orang yang baru dikenal.

Awalnya, saya membatin jengkel. Apa-apaan sih, orang kok seenaknya tanya sudah menikah apa belum? Lama-lama paham juga, bukan karena saya cantik dan menarik lantas berniat digoda (faktanya saya serupa ondel-ondel), tapi memang pertanyaan macam itu biasa.

Itu pasti dibentuk oleh akar budaya, yang memandang menikah ya menikah saja karena kebutuhan hidup, tanpa filososfi babibu, tanpa bumbu drama Korea yang huhuu

Mungkin, karena mereka sudah terlalu lelah ngurusin kopra, pala, dan cengkeh di kebun. Jadi, apa manfaatnya berbelit-belit dalam urusan cinta dan perjodohan? Tidak akan menaikkan harga kopra.

Sementara, anak-anak muda di kota bicara asmara seolah-olah itu cinta. Menunaikan berahi seolah-olah mengungkapkan isi hati. Menikah seolah-olah bagian dari ibadah. Mari, menjadi jujur sajalah, menikah adalah kebutuhan orang-orang yang takut kesepian di masa tua, takut digeruduk kamar kosnya.

Artikel populer: Seks & Cinta Romantis: Sebetulnya Terpisah, tapi Pisahnya Nggak Jauh-jauh

Bahkan, mungkin takut derajatnya rendah di mata sosial, baik bagi lelaki maupun perempuan. Karena, seringkali, pernikahan juga cara mendapat pengakuan publik bahwa seseorang lelaki telah mapan, bertanggungjawab, dan bersahaja.

Sementara, bagi perempuan, menikah menjauhkan diri dari segala kemungkinan yang menjatuhkan derajat sosialnya, menjadi perawan tua. Lagi-lagi, wujud dari pasangan sebagai fungsi sosial dalam semesta primata manusia.

Saya jadi teringat para penyintas patah hati, mereka yang bertahan hidup dalam cinta setengah mati, namun tak dapat memiliki. Jika ada sayembara ketulusan, merekalah pemenang sejati.

Masuk di bab kesimpulan. Jatuh cinta tidak mengenal logika kepemilikan, pernikahanlah yang memakai logika kepemilikan. Maka, cinta tidaklah linier alias tidak segaris lurus dengan pernikahan. Saya bisa mencintai Nicholas Saputra, tapi menikahnya sama Iqbaal Ramadhan. Anda bisa mencintai mantan, tapi menikahnya sama pacar yang sekarang.

Tidak masalah. Surat cinta tidaklah sama dengan surat nikah. Surat nikah menjamin kepemilikan nama satu sama lain, tapi tidak menjamin kepemilikan hati satu sama lain.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.