Ilustrasi perempuan (Photo by Edward Eyer from Pexels)

Pernah denger sunat perempuan nggak? Iya sunat, alias memotong atau menghilangkan bagian tertentu pada alat kelamin. Biasanya dilakukan pada anak laki-laki, tapi ini pada anak-anak perempuan. Yah, walau nggak plek ketiplek sama persis dengan laki-laki, tapi namanya sunat ya tetap saja menyunat alias memotong duit rakyat.

Bayangkan, para bocah perempuan terpaksa menjalani prosesi sunat tanpa punya hak untuk menolak. Tanpa pernah tahu, apa fungsi sunat bagi dirinya. Karena sunat perempuan, jelas beda banget fungsinya dengan sunat untuk lelaki.

Tapi nyatanya, fenomena sunat perempuan di negeri ini kembali marak. Setelah bertahun-tahun ‘lenyap’, hanya dilakukan oleh segelintir komunitas dengan alasan adat, kini sunat perempuan kembali digalakkan di banyak tempat dengan alasan yang nggak bisa diganggu gugat, yaitu agama.

Semisal di Bandung. Peserta sunat massal membludak, tak hanya anak lelaki, tapi juga anak-anak perempuan. Mereka datang ditemani orangtuanya. Ada 150 anak perempuan, mulai usia tiga bulan hingga 11 tahun, disunat dalam perhelatan sunat massal yang dilaksanakan oleh sebuah yayasan.

Praktik sunat perempuan ini sebetulnya ditentang oleh banyak kalangan, termasuk WHO. Dunia kedokteran sendiri juga sudah mengeluarkan pernyataan bahwa sunat perempuan tidak mempunyai manfaat medis sama sekali.

Baca juga: Biarkan Anak Kelak Tentukan Pilihannya, Apa Harus Tindik Telinga atau Tidak

Yang terjadi justru sebaliknya, sunat ini bisa membawa risiko kesehatan serius, seperti pendarahan, kista, hingga komplikasi saat melahirkan. Kalau sudah begini, yang repot plus dirugikan, siapa?

Salah satu panitia sunat massal di Bandung bilang bahwa sunat perempuan hanya membuang selaput yang membungkus klitoris tanpa melukai. Duh, kebayang nggak, klitoris disamain kayak buah salak gitu, dikelupas selaputnya? Ihh, bikin merinding.

WHO menganggap sunat perempuan sebagai salah satu pelanggaran terhadap hak-hak perempuan plus termasuk kategori FGM/C. Yang dimaksud kategori FGM/C yaitu semua tindakan memotong sebagian atau keseluruhan bagian luar genitalia perempuan, termasuk mengubah atau melukai/menggores klitoris tanpa alasan medis yang jelas.

Ada empat tipe FGM/C. Pertama, clitoderemy alias pemotongan sebagian atau seluruh klitoris atau selaputnya. Kedua, excision alias pemotongan sebagian atau seluruh klitoris dan/atau labia minora dengan atau tanpa memotong labia majora.

Yang ketiga, infibulation alias mempersempit lubang vagina dengan selaput penutup dengan memotong atau mengubah bentuk labia majora dan labia minora tanpa melukai klitoris. Keempat adalah tindakan lain yang melukai vagina tanpa tujuan medis, seperti menggaruk, menusuk, atau meggores alat kelamin perempuan.

Baca juga: Kenapa Orang Indonesia Takut dengan Seks?

Awalnya, saya berharap bahwa omongan panitia sunatan massal tentang membuang selaput di klitoris hanyalah kiasan. Dan, sunat perempuan hanyalah ritual belaka bahwa anak-anak perempuan hanya akan ‘digores’ sepotong kunyit sebagai tanda bahwa ia sudah disunat.

Tapi kemudian, ada keterangan dari dokter perempuan yang menyunat para anak perempuan tersebut. Dokter tersebut menjelaskan proses demi prosesnya, mulai dari ukuran jarum yang diperlukan hingga bagian mana yang boleh dikhitan.

Duh…

Lalu, panitia juga bilang bahwa sunat dengan cara ‘mengelupas selaput klitoris’ bisa membantu para perempuan mencapai orgasme saat berhubungan seks kelak. Bahkan, hal itu diamini pula oleh dokter tadi. Katanya, klitoris yang tertutup oleh selaput, selain menghalangi sensasi seksual, juga berisiko menjadi tempat penumpukan kotoran atau smegma.

“Jadi, hanya menggores saja kepala atau bungkus dari klitoris. Kalau dari segi medisnya, sekarang secara logika, sesuatu yang terbungkus dengan yang tidak dibungkus, lebih sensitif mana kira-kira? Maka, ketika klitoris itu terbuka, otomatis sensasinya lebih terasa.”

Itu kata dokter yang nyunat tadi loh. Walaupun, menurut pengalaman pribadi saya yang nggak pernah disunat ini, orgasme mah orgasme saja, nggak ada acara klitoris terbuka atau tertutup. Wong, orgasme pada perempuan lebih complicated kok. Nyatanya, saya yang nggak sunat bisa merasakan orgasme, malah multiple orgasm segala.

Baca juga: Perempuan juga Berhak Blak-blakan soal Seks

Ada banyak sekali jurnal kesehatan perihal orgasme pada perempuan. Tak ada satupun cerita bahwa perempuan tidak bisa orgasme gara-gara selaput di klitorisnya tidak dikelupas.

Terus, ada lagi nih anggapan tentang sunat perempuan yang bikin gemes. Katanya, perzinaan dan seks bebas akibat dari tingginya libido perempuan yang tidak bisa dikontrol. Maka, sunat perempuan adalah jalan menuju seks yang lebih sehat dan halal.

Kezel nggak sih say dengernya? Ada buktinya nggak, ada penelitiannya nggak, kok gampang banget sih nyalahin perempuan? Bahkan, untuk urusan libido dan orgasme saja, perempuan juga diatur-atur. Kalau bukan perempuan, memang situ lahir dari rahim siapa?

Heran ya, perkara perkosaan katanya salah perempuan karena nggak bisa jaga diri, pakai baju sembarangan. Sekarang perkara perzinaan, seks bebas, juga katanya salah perempuan karena punya libido terlalu tinggi.

Lah, kalau memang perempuan punya libido tinggi dan sulit mengontrol, kenapa juga kasus perkosaan di Indonesia didominasi oleh perempuan sebagai penyintas alias korban? Logikanya, kalau memang nggak bisa mengontrol, seharusnya perempuan kan yang jadi pelaku perkosaan?

Dalam CATAHU Komnas Perempuan 2019 disebutkan, selama 2018, ada 1.210 kasus kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan keluarga atau incest, dengan keseluruhan korban adalah perempuan. Lalu, terdapat 619 kasus perkosaan serta 555 kasus persetubuhan/eksploitasi seksual, dan semua korban dari kasus tersebut adalah perempuan.

Artikel populer: Karena Seks Memang Harus Bebas

KPAI juga merilis data, ada sekitar 300 kasus kekerasan seksual terhadap anak laki-laki pada 2018, dengan korban para anak lelaki dan pelakunya adalah laki-laki dewasa. Ada yang korban incest, ada pula yang menjadi korban kekerasan seksual dengan pelaku random atau tetangga korban.

Kalau sudah begitu, siapa coba yang nggak bisa mengontrol libido? Eh, perempuan yang nggak disunat ya? Makanya, banyak perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh para lelaki, hih!

Saat masyarakat di belahan dunia lain sibuk memikirkan hak-hak perempuan bahwa mereka punya kedudukan setara dengan para lelaki, di sini justru sebaliknya: pengekangan atas hak hidup perempuan. Lalu, yang paling menyedihkan, dalam praktik-praktik pengekangan oleh budaya patriarki itu, banyak perempuan yang ikut andil.

Kalau sudah begini, apa sebaiknya isi kepala mereka saja yang disunat?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini