Bagusan Film Ahok atau Hanum & Rangga, ya?

Bagusan Film Ahok atau Hanum & Rangga, ya?

Ilustrasi (MD Pictures dan Instagram/amancalledahok)

Belakangan ini kita disuguhi film biopik yang keren banget, sebut saja Bohemian Rhapsody, film tentang grup musik Queen yang lebih menyoroti kehidupan sang vokalis, Freddie Mercury.

Bukan hal yang aneh, jika film Hollywood banyak diperbincangkan. Sebab, Hollywood masih menjadi tolak ukur atau standar mutu sebuah film. Tapi, terlepas dari itu, Bohemian Rhapsody memang film bagus.

Di Indonesia sendiri, muncul pula film biopik. Bedanya, film biopik ini diproduksi saat tokohnya masih hidup. Film-film seperti itu memang sedang ngetren, setelah film Habibie & Ainun meledak di pasaran.

Kali ini, yang juga ramai diperbincangkan adalah film A Man Called Ahok dan Hanum & Rangga: Faith & The City. Dari dua film itu, memangnya mana yang paling banyak ditonton? Aih, tunggu dulu. Lalu, bagaimana rating-nya di IMDb? Ah, sudahlah.

Yang pasti, film A Man Called Ahok serta Hanum & Rangga sukses… Sukses bikin riuh di tahun politik. Keduanya dianggap sebagai representasi dari kubu-kubu yang berseteru dalam kancah politik praktis. Padahal, belum tentu begitu.

Tetapi, mau bagaimana lagi? Faktanya memang seperti itu. Boro-boro spoiler tentang kedua film tersebut atau pembahasan alur cerita, seperti yang biasa kita jumpai saat pemutaran film Hollywood, yang ada malah pembahasannya semakin melebar.

Mulai dari merebaknya kabar tiket nonton gratis, penonton yang dibayar dengan voucher, hingga pengerahan massa untuk menonton di bioskop oleh salah satu partai politik melalui surat edaran resmi.

Baca juga: Film ‘The Nun’ dan Para Politikus Kita

A Man Called Ahok, seperti yang publik ketahui, adalah film yang mengangkat kisah nyata mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Film ini lebih berfokus pada kisah Ahok sewaktu tinggal di Gantong, Belitung Timur, Provinsi Bangka Belitung.

Jika dikerucutkan lagi, film ini menceritakan hubungan pasang surut Ahok dengan ayahnya, Alm Indra Tjahaja Purnama alias Tjoeng Kiem Nam.

Kiem adalah seorang pengusaha tambang yang dermawan. Ia rajin membantu orang-orang yang membutuhkan. Ia bahkan rela mengutang demi membantu orang lain. Sebab, ia percaya bahwa memberi tidak akan mengurangi rezeki, malah rezeki itu akan bertambah.

Usaha tambang milik Kiem justru mengalami rintangan dari hadirnya tukang peras di setiap proyek. Tukang peras ini melanggengkan sistem korup.

Ahok pun bersepakat bahwa sistem ini hanya merugikan warga Belitung. Ahok pun menemukan salah satu solusi terbaik untuk menghentikan praktek ini, yakni dengan menjadi pejabat.

Film ini sebenarnya ingin menunjukkan pada penonton bahwa sikap keras Ahok selama ini tidak serta-merta hadir begitu saja ketika ia menjabat gubernur DKI Jakarta. Sikap tersebut lahir berkat tempaan dan didikan ayahnya.

Sepanjang durasi film, Anda akan banyak menemukan aksi-aksi heroik Ahok. Tentu, Anda boleh setuju atau tidak setuju soal cerita ini. Ceritanya ya, bukan melebar ke mana-mana dengan menganggap ini sebagai bentuk dari pencitraan. Lha, memangnya pencitraan buat apa lagi?

Baca juga: Andai Amien Rais Bukan Seorang Politikus

Kemudian, film Hanum & Rangga: Faith & The City. Film ini merupakan adaptasi dari kisah nyata Hanum Salsabiela Rais dan suaminya, Rangga Almahendra. Hanum, seperti yang banyak orang tahu, adalah putri dari politikus Amien Rais.

Hanum dan Rangga sebetulnya bukan tokoh baru, karena mereka lebih dulu hadir dalam film 99 Cahaya di Langit Eropa, serta Bulan Terbelah di Langit Amerika 1 dan 2. Dan, Hanum & Rangga: Faith & The City merupakan kelanjutan dari film-film tersebut.

Hanum adalah jurnalis yang mendapat tugas untuk meliput dampak tragedi 9/11, dengan judul provokatif: Apakah Dunia Akan Lebih Baik Tanpa Islam? Sedangkan tokoh Rangga adalah kandidat doktor di Wina, Austria, yang mendapat tugas dari dosennya mencari seorang dermawan untuk ditanya alasan mengapa mau beramal untuk dunia.

Cerita pun berkembang, artikel yang ditulis Hanum terkenal. Berkat artikelnya, Hanum ditawari magang oleh GNTV, stasiun TV yang dipimpin Andy Cooper, jurnalis yang digambarkan sebagai seorang ateis.

Hanum dan Rangga seolah-olah bertugas untuk menegakkan nama Islam di Eropa, di mana masyarakat muslim menjadi minoritas.

Sementara, film Hanum & Rangga: Faith & The City lebih bercerita soal ujian dalam pernikahan. Tentang bagaimana mempertahankan cinta, ketika harus memilih antara menjadi wanita karier atau menjaga keutuhan keluarga. Sebuah kisah di mana impian dan kebanggaan berbenturan langsung dengan iman dan cinta.

Artikel populer: Agar Kamu Nggak Kecewa-kecewa Amat, saat Nonton Film dari Sebuah Novel

Tentu, sama halnya dengan film A Man Called Ahok, Anda boleh beropini apa saja tentang film Hanum & Rangga: Faith & The City. Namun, akan menjadi membosankan ketika kedua film tersebut melulu dikaitkan dengan politik.

Tak dipungkiri, memang, film kerap dijadikan bahan propaganda politik. Bahkan, Benito Mussolini, seorang pemimpin Partai Fasis Nasional di Italia melahirkan sebuah pernyataan yang terkenal, “Sinema adalah senjata terkuat.”

Film menjadi sarana paling ampuh untuk menyalurkan isu politik. Film merupakan rangkuman dokumentasi kehidupan sosial dari satu individu atau pun kelompok. Film mewakili satu realitas dalam arti sebenarnya atau pun imajinasi belaka.

Lewat film, kita bisa diperlihatkan akan kehidupan masa lampau, masa kini, hingga pemikiran-pemikiran manusia. Dengan demikian, dapat diartikan bahwa film bukan hanya menampilkan gambar bergerak, namun di dalamnya terkandung muatan politik, gaya hidup, dan harapan.

Meski demikian, sebagai manusia yang katanya berpendidikan, tidak menjadikan film hanya untuk ditonton mentah-mentah dan tidak terjerumus dalam praktik adu domba karena perbedaan pandangan politik. Kita harus berpikir jernih, jangan terbawa suasana oleh mereka yang mengaku intelektual, tapi menyimpan otaknya di dengkul.

Bagi saya, lebih elok jika kita mengapresiasi film secara berbobot. Saling memberikan dukungan dengan komentar-komentar membangun, karena persatuan Indonesia lebih utama daripada apa pun. Asikk.

Jadi, lebih bagus film Ahok atau Hanum & Rangga?

Ya, Bohemian Rhapsody lah, haha…

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.