Beberapa Bagian Penting dari ‘Crazy Rich Asians’ yang Perlu Dicermati

Beberapa Bagian Penting dari ‘Crazy Rich Asians’ yang Perlu Dicermati

Crazy Rich Asians (Center for Asian American Media/Warner Bros)

Di Amerika Serikat, orang Asia sering di stereotipikalkan sebagai contoh imigran yang baik: pekerja keras, penurut, dan tidak banyak menuntut. Selaras dengan gambaran Rachel Chu dalam film Crazy Rich Asians (CRA), seorang New Yorker tangguh yang penuh dengan mimpi-mimpi Amerika.

Film ini dibuka dengan adegan Rachel menjelaskan loss aversion, kecenderungan untuk menghindari kerugian demi memperoleh keuntungan yang setara, sebagai penegas bahwa Rachel adalah seorang profesor muda yang cerdas dan memiliki tempat yang tidak buruk di masyarakat.

Seperti halnya Black Panther, CRA juga disambut sangat baik oleh kelompok masyarakat kulit berwarna di Amerika Serikat. Maklum, sejak The Joy Luck Club dirilis pada 1993, baru kali ini ada film yang didominasi Asia. Sayangnya, Asia bagi orang Amerika Serikat sering kali merujuk pada Tionghoa semata.

Hollywood memang kerap white washing, memilih aktor berkulit putih untuk memerankan tokoh Asia, seperti Scarlett Johansson dalam Ghost in the Shell, Emma Stone dalam Aloha, atau Tilda Swinton dalam Dr Strange. Pilihan marketing yang bercampur aduk dengan rasisme.

Namun, CRA terbukti berhasil menembus box office dan setidaknya mengantongi US$ 164,7 juta dalam waktu kurang dari sebulan. Kini, kapitalisme Hollywood semakin punya bukti kuat untuk menyasar kelompok kulit berwarna dalam film-filmnya.

Terbatasnya peran di Hollywood menjadikan figur perempuan Asia melulu ditampilkan sebagai ibu macan atau perempuan naga, atau sebaliknya sebagai gadis submisif nan lugu.

Namun, dengan seluruh kasting menampilkan kelompok Chinese-American, CRA memiliki ruang untuk menampilkan banyak dimensi tanpa terjebak dalam satu stereotipikal saja. CRA menjadi pelepas dahaga, setelah kehausan bertahun-tahun atas representasi kelompok minoritas.

Meski dominasi kasting adalah Asia, si pangeran tampan Nick Young diperankan oleh aktor Euroasian. Ini mengingatkan saya pada setiap pertanyaan kepo, seperti “Kapan punya anak? Nanti anaknya lucu loh soalnya blasteran. Bisa jadi artis atau pemain film.” Inferiorisme dan rasisme yang tiada habisnya.

Baca juga: Catatan Wartawan tentang Film The Post

Meski bagian ini banyak mendapat kritik, tapi sesungguhnya kenyataan bahwa Henry Golding – pemeran Nick Young dalam CRA – adalah Euroasian justru membuka diskusi penting soal ras campuran.

Kita sering kali terlalu sibuk membela ras masing-masing, padahal percampuran ras sudah terjadi sejak jaman manusia purba. Tak banyak yang berbicara tentang hak yang dialami ras campuran.

Sayangnya, sebagai orang Asia Tenggara, kasting juga menjadi salah satu titik lemah CRA dalam menampilkan Singapura. Meski populasi Singapura didominasi oleh etnis Tionghoa, tetapi bukan berarti kelompok Melayu dan India tidak ada di masyarakat.

Kelompok non-Tionghoa dalam CRA hanya ditampilkan sebagai penjaga pintu dan tukang jualan. Untungnya, ada Putri Intan di akhir cerita, meski tak jelas dia putri dari mana. Itupun bisa jadi sudah bikin kita yang bermental inferior senang-senang saja, apalagi setelah mendengar Nick Young bercakap Melayu “sate sepuluh”.

Padahal, ini bisa jadi semakin menekankan privilese kelompok mayoritas dan stereotipikal terhadap kelompok minoritas di Singapura. Selama hampir 50 tahun, Singapura tidak memiliki presiden Melayu.

Baru tahun lalu untuk pertama kalinya, Negeri Singa tersebut memiliki presiden muslim, perempuan, dan Melayu. Sementara untuk posisi perdana menteri, percakapan apakah Singapura siap memilih minoritas tak kelar juga dibahas hingga kini.

Hal lain yang membuat gelisah sepanjang menonton film CRA, yakni bagaimana Hollywood memotret Asia. Bagi Hollywood, Asia adalah gedung-gedung pencakar langit megah, desain futuristik, dan lampu benderang berwarna-warni. Atau sebaliknya, gang-gang kumuh penuh bocah kelaparan.

Tidak ada jalan tengah di antara keduanya. Tampilan ini tentu mendistorsi dan kembali menstereotipikalkan Asia sebagai satu atau lainnya saja.

Namun, pada saat yang sama, gambaran stereotipikal ini bisa jadi ada benarnya. OXFAM mencatat bahwa kekayaan empat orang terkaya di Indonesia setara dengan 100 juta kelompok termiskin. Sementara menurut Pew Research Center, kesenjangan ekonomi antar sesama kelompok Asia di Amerika Serikat juga tercatat paling tinggi.

Selain itu, meski cuma sekilas, CRA tampak berusaha menampilkan isu-isu sosial seperti kekerasan dalam rumah tangga, hidup penuh pencitraan, dan maskulinitas toksik. Sayangnya, saya harus skip bagian ini, karena sulit dibahas tanpa menjadi spoiler.

Artikel populer: Pacaran atau Kawin dengan ‘Bule’ Sama Aja, Nggak Usah Lebay, Keleus…

CRA juga dengan apik menggambarkan jurang perbedaan antara kultur Amerika Serikat dan Asia pada umumnya. Sebagaimana banyak dijual oleh kapitalisme, Amerika Serikat sangat mengagungkan kebahagiaan individual seperti mengejar passion, hasrat, dan mimpi-mimpi.

Sementara, banyak nilai-nilai di Asia seringkali melihat kebahagiaan sebagai tujuan kolektif, lebih dari sekadar keamanan, kenyamanan, dan kesenangan satu orang, tetapi juga keteraturan dan kenyamanan dalam kelompok masyarakat.

CRA tidak melihat keduanya sebagai dualisme baik-buruk, melainkan sekadar sebagai pilihan mana suka. Meski pada akhirnya salah satu nilai dianggap lebih sesuai dengan pilihan tokoh utamanya, hal ini tak menjadikan nilai tersebut lebih benar.

CRA seolah tidak ingin ada perdebatan kultural mengenai konsep kebahagiaan dan hanya mengambil peran sebagai pemapar perbedaan kedua nilai beserta konsekuensi-konsekuensinya.

Meski secara umum cerita CRA tak berbeda jauh dengan Cinderella, perempuan biasa yang akhirnya dipersunting pangeran berlimpah harta, CRA berhasil melepaskan diri dari jerat cerita calon ibu mertua yang galak setengah mati dan menggantinya dengan calon ibu mertua yang kuat, elegan, dan rasional.

CRA juga lolos dari cerita klise perempuan yang berkelahi memperebutkan laki-laki. Juga tak ada stereotipikal ibu Asia yang keras hati dan mata duitan. Kerry Chu, ibu Rachel, adalah perempuan independen yang memutuskan nasibnya sendiri dan membantu anaknya keluar dari persoalan pelik.

Pada akhirnya, ke-Asia-an yang sebenar-benarnya dari CRA adalah ketika pertentangan nilai-nilai kebahagiaan individu dan kebahagiaan kolektif ditutup melalui kompromi tanpa harus merendahkan harga diri.

Emansipasi Rachel tidak ditunjukkan dalam pendobrakan nilai, melainkan dengan afirmasi diri, bermain cantik di antara elit sambil menjunjung nilai dan kepercayaan pribadi.

CRA menunjukkan bahwa pemenangnya adalah mereka yang dapat bertahan dalam sistem sembari menjunjung harga diri dan kebanggaan atas diri sendiri.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.