Bagaimana Wiro Melawan Gerakan #219GantiRaja

Bagaimana Wiro Melawan Gerakan #219GantiRaja

Ilustrasi (ZeroTolerance via Pixabay)

Kerajaan sedang dalam kondisi gawat. Nilai tukar uang Kerajaan Singasari jatuh, serangan tenaga kerja asing menghantui Tumapel. Tempe susah didapat. Raden Sandi dari Kediri menyebut tempe sudah setipis keris, lalu ia menyerukan gerakan kebangsaan.

“Kemarin saya bertemu dengan warga di kaki Gunung Gede. Ia mengeluhkan 100 koin perak cuma dapet rempah-rempah sama pala. Warga terbebani,” katanya.

Di pedalaman, sejumlah penggede telah berhubungan dengan para pendekar oposisi. Mereka berencana mengganti raja Singasari. Di balik klaim gerakan #219GantiRaja, mereka berkeliling kerajaan untuk mencari simpati warga. Menyebarkan kabar bahwa kerajaan dalam bahaya, raja tidak becus mengurus kerajaan, dan dibutuhkan sosok baru untuk memimpin.

Waduh, bahaya.

Tapi tenang saja, jauh di pedalaman Gunung Gede, ada dua orang pendekar yang sedang berlatih. Sang guru Sinto Gendeng dan si murid Wiro Sableng. Keduanya kebetulan tengah menyelesaikan tahap akhir pelatihan untuk tampil di lomba antar kerajaan se-Asia.

“Baek-baek kamu menang kompetisi silat, siapa tahu diangkat jadi pegawai negeri di Kerajaan Singasari,” kata Sinto Gendeng.

Selama menjalani pelatihan di Gunung Gede, Wiro diajari tentang keseimbangan. Ada siang, maka ada malam. Ada langit, maka ada bumi. Untungnya mbah Sinto Gendeng nggak bahas gender. Jadinya nggak diprotes SJW, jika bilang ada laki-laki, maka ada perempuan.

Selama bersama sang guru, Wiro juga diberi pesan untuk menjalani ujian terakhir sebelum bisa diwisuda menjadi pendekar. Tugasnya mencari Mahesa Birawa. Lho, siapa itu?

Baca juga: Lebih Dalam tentang Marlina yang Menampar Kemana-mana

Jadi gini, Raden Ranaweleng dan Suci, kedua orang tua Wiro terbunuh akibat kerusuhan. Kedua orang tuanya menjadi korban. Kejadian itu menjadi sejarah hitam yang disebut sebagai kesuruhan 98 Singasari. Pelakunya adalah Mahesa Birawa.

Orang ini konon dikabarkan dekat dengan penguasa di kerajaan. Di tengah arus perjuangan kemanusiaan, lha kok kerajaan malah merangkul penjahat HAM?

Sudah-sudah, jangan disambung-sambungin, ini bukan bahas kerajaan sebelah. Terus sampai mana tadi? Oh ya, Mahesa Birawa ini ternyata punya rencana besar, seperti di awal tadi.

Putra mahkota yang sedang turba bersama bibinya, diincar. Intinya, mereka mau ditukar untuk memanggil raja keluar. Nah, kebetulan, saat Wiro turun gunung, ia ketemu dengan putra mahkota dan bibinya. Makan di warung, warung Tegal, bukan restoran waralaba.

Saat di warung itu, rombongan pangeran diserang. Wiro jelas membantu, dong. Dengan doa, dengan petisi di change.org pula. Tapi, karena dirasa kurang, maka Wiro turun ke jalan.

Sibuk kelahi, pangeran yang diculik dilupakan. Wiro mengejar, lalu ketemu dengan pemuda sehat, karena kalau dibilang gembrot nanti dikira kiri gembrot, body shaming. Namanya Bujang Gila Tapak Sakti. Eh, tahu-tahu ketemu Anggini. Rebutan pangeran, malah jatuh ke jurang. Jurang kemiskinan.

Singkat cerita, mereka sadar. Si Wiro ketemu Bidadari Angin Timur, ngasih wangsit. Intinya, kerajaan harus diselamatkan dari gerakan #219GantiRaja. “Itu bahaya,” katanya. Wiro, Bujang, bibi pangeran yang ternyata namanya Raramurni dan Anggini mencari si putra mahkota.

Artikel populer: Delapan Buku Fiksi Wajib Baca sebelum Usia 30

Di kerajaan ternyata ada pengkhianat, salah seorang saudara raja ingin mengambil alih tahta. “Warga menjadi korban, tenaga kerja asing sudah kebanyakan, kita harus melawan persekusi,” ujarnya dengan lantang.

Bukannya membantu kerajaan supaya bisa aman dan nilai tukar uang kerajaan bisa stabil, eh ini malah ingin mengganti raja.

Kurang kerjaan.

Di istana, raja dan permaisuri resah. Lha gimana, katanya 100 koin perak cuma dapet rempah-rempah sama pala. Belum lagi anak mereka hilang. “Ya sudah, saya turun ke bawah. Naik sepeda, sepeda motor. Kali ini tanpa stuntman,” kata raja yang ingin mencari anaknya.

Berangkatlah sang raja menuju tempat yang dikabarkan menyimpan putra mereka. Di tengah hutan, raja bertemu dengan Mahesa Birawa. Putra mahkotanya nggak ada, eh malah ada orang yang hendak ganti raja. Ya kelahi

Saat sibuk kelahi, Wiro Sableng muncul. Dua murid satu guru ini kelahi, terus ketahuan kalau Mahesa yang membunuh orang tua Wiro. Jadinya gundah gulana, tapi nggak sempat update status, mereka pun kelahi lagi.

Wiro kalah, ada yang meninggal dan sang raja mesti sembunyi. Sementara Mahesa naik tahta. Wiro, Anggini, Raja, dan Bujang menyusul ke istana. Berdiri di depan tembok istana, pada hari kamis, tapi bukan kamisan. Berharap agar bisa masuk menyelesaikan kasus yang lama belum kelar.

Bagaimana akhirnya? Belum tahu, ending-nya tertunda.

Lho, ini bukan resensi film Wiro Sableng?

Ya bukaaan…

*Cerita ini hanya fiksi 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.