Bagaimana Turis Asing Diperlakukan saat Bencana di Daerah Wisata

Bagaimana Turis Asing Diperlakukan saat Bencana di Daerah Wisata

Ilustrasi turis asing (Michel Bertolotti via Pixabay)

Membaca soal gempa di Lombok melalui media asing adalah menyedihkan. Biasanya berita akan dibuka oleh pengalaman turis asing yang kebetulan berada di lokasi bencana.

Pengalaman ini sudah hampir pasti melulu soal betapa mengerikannya kejadian tersebut, kemudian dilanjutkan dengan keluhan betapa tidak sigapnya Pemerintah Indonesia dalam mengelola dan menangani bencana. Selanjutnya, baru dibahas situasi terkini.

Hal itu sebetulnya tidak aneh. Dalam ilmu jurnalistik dikenal istilah kedekatan objek berita. Pembaca media Australia tentu akan lebih tertarik membaca berita yang terkait orang Australia. Begitu juga dengan media Inggris.

Sementara itu, dalam ilmu psikologi, dikenal istilah teori Efek Korban, dimana kisah-kisah personal akan lebih menarik pembaca ketimbang sekadar angka-angka jumlah korban.

Dalam hal ini, berita kemudian menjadi persoalan marketing juga, bagaimana caranya menarik pembaca di negeri antah-berantah agar mau tahu soal gempa yang membunuh ratusan orang.

Saya jadi bertanya-tanya, apa iya kemanusiaan kita sebatas itu hingga ‘teknik jualan’ pun diperlukan untuk berita bencana? Sebatas kedekatan dan kisah yang menarik hati?

Kalau demikian, apa kemudian nyawa wisatawan asing jadi dianggap lebih penting daripada nyawa orang-orang Indonesia, nyawa warga Lombok yang telah melayang hingga ratusan?

Pada saat yang sama, Pemerintah Indonesia juga telah mengutamakan evakuasi warga negara asing dari beberapa wilayah yang dianggap rawan. Privilese orang asing di Indonesia memang tiada habisnya, terutama di daerah-daerah wisata.

Sebab itu, sebagai orang Indonesia, gemas juga membaca keluhan turis asing yang menilai pemerintah tidak tanggap bencana. Salah satu alasan dari tudingan tersebut ketika turis asing enggan membayar kapal untuk keluar dari salah satu gili di Lombok. Menurut dia, pemerintah seharusnya memberi kapal gratis.

Padahal, Pemerintah Indonesia memang tidak menginisiasi evakuasi, karena BNPB menyatakan tiga gili terbilang aman. Karena itu, seperti disebutkan dalam komentar berita, si turis asing kemungkinan memang sedang berhadapan dengan kapal komersial.

Bisa jadi Pemerintah Indonesia memang tidak memiliki kemampuan dan sumber daya yang setara dengan negara-negara di Utara dunia seperti Amerika Serikat, Kanada, atau negara-negara di Eropa. Namun, bukankah kewajiban pemerintah ada pada warga negaranya terlebih dahulu?

Gemas juga membaca berita yang lebih fokus menyoroti turis asing, yang pada akhirnya akan pulang ke rumah, tetap punya rumah, dan baik-baik saja. Sementara, teman-teman saya di Lombok harus tidur di bawah tenda, di lapangan, bersama anaknya yang masih balita.

Dari mana privilese orang asing ini? Jangan-jangan, kita sendiri yang memupuknya, sehingga mereka merasa lebih penting dan ingin didahulukan?

Sudah bukan rahasia ketika dalam situasi non-bencana alam, turis asing – terutama berkulit putih – lebih dihargai sekaligus lebih banyak mendapat kemudahan di Indonesia.

Misalnya, beberapa tempat yang memiliki dress code harus berpakaian rapi dan bersepatu ternyata menetapkan aturan yang lebih longgar kepada orang asing bersandal jepit. Contoh lain, penjaga toko di daerah wisata juga cenderung lebih perhatian kepada turis asing.

Pada saat yang sama, mereka menjadi tidak begitu ramah kepada bangsa sendiri. Seorang teman yang bersuamikan orang Eropa sering mengeluhkan bahwa pramusaji hanya mau bicara dengan suaminya.

Suatu ketika, saya dan pasangan pernah makan di suatu restoran di pulau wisata. Saat kami baru datang, restoran begitu sepi. Setelah memesan dan menunggu selama sejam, makanan tak kunjung datang. Padahal, cuma salad.

Dua kali kami menanyakan perihal pesanan yang cuma salad itu, namun saya malah didamprat, “Susah berurusan sama orang lokal, kita kan sama-sama lokal, harus maklum, lah!” katanya.

Sementara, ketika pasangan saya yang bertanya, mereka justru meminta beribu-ribu maaf, sangat ramah, dan seketika pesanan kami pun muncul. Kebetulan pasangan saya berkulit putih.

Jadi, sebagai orang lokal, apakah saya harus maklum dengan pelayanan seperti itu?

Seorang teman malah pernah berkata bahwa dia terkadang menggunakan Bahasa Inggris ketika bertransaksi di daerah wisata agar mendapat perlakuan yang baik.

Orang asing maupun turis asing tentu menyadari privilese sebagai orang asing di Indonesia. Sebagian dari mereka akhirnya memiliki mentalitas superior, merasa lebih unggul. Tidak hanya soal kulit, melainkan dari segi ekonomi.

Ngeselin?

Iya. Tapi memang begitu keadaannya.

Privilese ini begitu melekat bahkan dalam situasi bencana. Banyak turis asing yang ingin diistimewakan dan diprioritaskan, lupa bahwa bagaimanapun juga mereka berada di negara selatan dunia yang seringkali minim sumber daya.

Mengapa demikian? Ya karena kekayaannya dibawa ke Eropa atau negara-negara di utara dunia, baik melalui penjajahan fisik maupun berupa perjanjian dagang dan moneter yang tidak menguntungkan. Belum lagi menghitung sumber daya yang hilang akibat korupsi dan pemerintahan yang tidak efektif.

Sebab itu, sudah saatnya kita tidak mengistimewakan orang asing dalam kondisi apapun. Perlakukan mereka selayaknya manusia saja, setara dengan orang lokal diperlakukan. Agar mereka juga tidak merasa harus jadi yang utama ketika terjadi bencana.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.