Bagaimana Caranya Bisa Bahagia sebelum Menikah?

Bagaimana Caranya Bisa Bahagia sebelum Menikah?

Ilustrasi (Daniel Sampaio via Pixabay)

Beberapa waktu lalu, saya putus dengan kekasih. Bubar, meskipun sempat merencanakan untuk menikah. Alasan ingin menikah memang sederhana. Ia berkebangsaan asing, jadi bakal mudah untuk bersama dan berpindah-pindah, jika menikah secara resmi.

Namun, karena satu dan lain hal, menikah hanya tinggal kenangan. Sudah pasti sedih, apalagi penyebabnya bukan dari faktor internal, melainkan eksternal. Lantas, saya coba mempertanyakan kembali mengapa bersedih? Sedih karena gagal bersama atau batal menikah?

Tampaknya ada yang mengganjal di hati ini, ketika harus bersedih gara-gara batal menikah. Seharusnya biasa-biasa saja, sebab bagi saya menikah hanya formalitas. Memudahkan birokrasi untuk hidup bersama.

Bahwa menikah tidak akan otomatis membuat orang bahagia, karena ada banyak cara untuk bahagia. Kita harus sudah bisa bahagia sebelum akhirnya menikah. Dengan begitu, jika gagal menikah, kita pun tetap bahagia.

Percaya?

Baiklah, data Badan Pusat Statistik (BPS) tentang indeks kebahagiaan penduduk Indonesia pada 2017, menyebutkan bahwa orang yang belum menikah alias lajang ternyata memiliki indeks kebahagiaan tertinggi dari status perkawinan.

Indeks kebahagiaan orang yang melajang, termasuk jomblo, mencapai angka 71,53. Sementara penduduk dengan status menikah memiliki indeks kebahagian 71,09, penduduk dengan status cerai hidup sebesar 67,83, dan penduduk dengan status cerai mati sebesar 68,37.

Makanya, jangan suka merisak orang yang masih single. Jangan-jangan, mereka yang merisak sebetulnya kurang bahagia. Betul, tidak?

Baca juga: Menikah, ya Menikah, Tak Perlu Dirisak Siapa Bekerja Siapa Mengurus Rumah

Tapi, saya paham, jika orang menginginkan teman hidup, meski banyak orang yang menuntut agar teman hidupnya melakukan hal-hal yang katanya bisa membuat mereka bahagia.

Di situlah sumber masalahnya. Ketika kita menuntut pasangan, yang ada akan terus menerus menemui kekecewaan. Sebab, apa yang kita harapkan tidak sesuai ekspektasi. Terlalu berharap.

Kita harus bisa bahagia saat melajang, sehingga menjadi episentrum bagi kebahagiaan-kebahagiaan lainnya. Bagaimana kita bisa membahagiakan orang lain, kalau kita tidak bisa membahagiakan diri sendiri?

Jangan sampai karena kita tidak bahagia dengan diri sendiri, akhirnya menuntut orang lain untuk membahagiakan kita. Atau, kita ternyata tidak senang dengan diri sendiri, sehingga mengharapkan orang lain untuk membuat kita senang. Lha? Bisa-bisa orang yang kelak bersama kita bakal sengsara.

Banyak sekali pasangan muda yang bercerai, karena pasangan mereka tidak seperti apa yang dibayangkan atau pernikahan yang dijalani tidak sesuai harapan. Terbuai dengan meme-meme ajakan nikah muda di internet.

Selama ini, meme tersebut kerap dibarengi oleh ragam tuntutan perkerjaan domestik kepada perempuan. Menjalani pernikahan dijadikan sebuah jebakan agar perempuan mau begitu saja melakukan pekerjaan-pekerjaan rumahan sesuai selera pembuat meme.

Lha, situ siapa kok kepedean nuntut perempuan harus ini-itu? Seolah melakukan pekerjaan domestik adalah kebahagiaan utama perempuan. Kenapa kebahagiaan ditakar dari serangkaian pekerjaan?

Lagipula, ngapain nuntut-nuntut kebahagiaan dari orang lain, memang dirinya sendiri nggak bisa bahagia?

Artikel populer: Berdamai dengan Perempuan yang Tidak Menikah dan Tidak Beranak

Kebiasaan banget membebani perempuan dengan tuntutan domestik, seperti memasak, bersih-bersih, bikinin kopi, dan sejenisnya. Apakah laki-laki sebegitu anti mengurus pekerjaan rumahan? Apakah merasa derajatnya lebih tinggi atau jangan-jangan nggak mampu melakukannya sendiri?

Ya kalau begitu, makna sesungguhnya pernikahan yang kamu pahami seperti apa?

Ini sebetulnya pertanyaan mendasar bagi kamu yang kebelet menikah. Daripada kebelet tanpa pemahaman yang logis, mending menyibukkan diri dengan ragam hobi, pekerjaan, dan ilmu pengetahuan yang bisa membuat kamu bahagia.

Dengan begitu, kita bisa bahagia tanpa harus bergantung pada orang lain. Dan, jika kelak bertemu jodoh, yang kita lakukan justru melipatgandakan kebahagiaan yang ada. Bukan dengan saling menuntut.

Banyak perempuan yang bercerita bahwa mereka tidak bahagia dengan pasangannya, karena ragam tuntutan dan pengekangan. Padahal, statusnya masih pacaran.

Anehnya, sudah tahu nggak bahagia selama pacaran, eh malah lanjut ke jenjang pernikahan. Apalagi, belum paham dengan apa yang namanya UU Perkawinan.

UU tersebut banyak menangin laki-laki. Perempuan direduksi hidupnya menjadi sekadar pemenuh kebutuhan, pengemban kewajiban, dan alat reproduksi.

Seringkali keinginan untuk memenuhi status sosial menjadi hambatan bagi perempuan dalam mencapai kebahagiaannya tanpa campur tangan orang lain.

Perempuan kudu sadar bahwa kebahagiaan dirinya lebih penting dari laki-laki yang tiba-tiba datang dan menuntut perempuan agar mau melakukan serangkaian pekerjaan yang tak bisa dikerjakan sendiri.

Kebahagiaan adalah sesuatu yang kita peroleh sendiri. Dan, ketika kamu gagal menikah, anggap saja itu adalah cara semesta memberitahumu bahwa kamu perlu bahagia dengan melajang dan menciptakan kebahagiaan untuk dirimu sendiri.

Sekian. Jangan lupa bahagia!

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.