Ilustrasi Money Heist. (Image by AKCreatif from Pixabay)

Ide dasar serial Money Heist adalah perlawanan terhadap sistem. Menikmati serial ini dengan agak kompleks bikin kita mengenal dua isu dalam perekonomian. Pertama, soal kritik terhadap injeksi likuiditas. Kedua, kritik terhadap struktur finansial global.

Istilah injeksi likuiditas muncul di perampokan pertama. Saya yang awam perlu buka referensi soal kebijakan sistem moneter untuk sekadar konek sama dialognya sang ‘profesor’. Rupanya, injeksi likuiditas adalah salah satu jenis operasi moneter yang prinsipnya berniat menambah peredaran uang di masyarakat melalui bank-bank komersial. Nantinya diedarkan dalam bentuk kredit bersyarat dengan suku bunga relatif kecil.

Dengan begitu, terjadi pengembangan modal usaha di kalangan pebisnis yang dampaknya bisa memengaruhi tingkat pendapatan dan konsumsi per kapita. Jika perhitungannya tepat, inflasi dapat terkendali.

Menurut ‘profesor’, karakter utama dalam Money Heist, injeksi likuiditas lebih menguntungkan orang-orang tajir dan kurang terserap di sektor riil, alih-alih berdampak pada perekonomian rakyat kecil. Mungkin, karena yang mampu mengkredit dalam jumlah besar hanya pebisnis besar. Makanya, si ‘profesor’ menganggap injeksi likuiditas itu cara orang kaya merampok bank.

Baca juga: Beramai-ramai Cosplay Jadi “Malaikat”, kemudian Sambat?

Perlawanan pun dilakukan lewat agenda perampokan dan pencetakan uang, lalu diedarkannya melalui pesawat terbang, bukan kredit perbankan. Wkwk..

Tentunya perkara injeksi likuiditas tak sesederhana itu jika ditelaah oleh sarjanawan ekonomi. Ini sekadar upaya memahami pesannya, yakni kritik terhadap sistem moneter yang memberi kesempatan golongan kaya melipatgandakan uang.

Ide dasar perampokan kedua, adalah kritik terhadap struktur finansial global, yang mana salah satu aspeknya menjadikan cadangan emas nasional sebagai jaminan keuangan negara.

IMF melakukan update rutin tentang kepemilikan emas cadangan sesuai laporan tiap-tiap negara, tapi emas-emas itu nganggur di brankas. Hanya sebagai bukti bahwa negara punya sejumlah aset sebagai jaminan ke para investor, deposan, serta untuk memperkuat nilai mata uang, dan bukan untuk transaksi. “Cadangan emas nasional hanya berfungsi sebagai ilusi untuk bantuan psikologis,” ucap ‘profesor’.

Maka, ‘profesor’ bikin tipuan celengan emas negara dan menipu seisi dunia, lagi pula IMF tidak akan mengecek kandungan logam mulianya satu-satu, kan? Sementara, emas yang sesungguhnya diambil alih dan dijadikan sandera olehnya guna pertahanan anggota geng. Dengan begitu, negara sebenarnya di bawah kendali ‘profesor’. Kalau negara bertindak semena-mena terhadap rakyat, tinggal diingatkan saja, “Hey… jangan lupa, jaminan perekonomian negara ada di kami!”

Itu fantasi yang keren sih.

Baca juga: Sebesar-besarnya Kekuatan Militer, Seberapa Besar Dampaknya bagi Kebahagiaan Rakyat?

Kita bangsa Indonesia lantas bertanya-tanya, jika emas sepenting itu perannya, mengapa presiden kita dulu menyerahkan hasil tambang emas Papua ke Freeport-McMoRan yang merupakan perusahaan asal AS?

Jawaban yang sering kita dengar terkait itu, karena Indonesia tak punya alat penambang dan pengolah emas canggih. Barangkali kita perlu juga buka riset-riset sejarah ’65, bagaimana kebangkitan Soeharto sebagai pintu perluasan kepak sayap investasi perusahaan multinasional di bumi pertiwi, termasuk kontrak dengan Freeport? Bagaimana kondisi finansial AS saat itu dan mengapa AS ngotot ingin memperluas investasi ke Indonesia? Apakah berkat Freeport, cadangan emas nasional AS selalu di ranking pertama? Apakah Soeharto dikelabui? Lho, kok malah jadi kayak soal UAS.

Kembali membahas serial Money Heist. Dengan seluruh bangunan isu, konflik dan karakter-karakternya, Money Heist mencoba membangkitkan imajinasi tentang perlawanan. Di saat kebanyakan film bertema hero menampilkan figur musuh imajiner dengan senjata yang absurd, Money Heist memberi gambaran musuh nyata, berupa sistem dan seperangkat institusi negara. Senjata perlawanan yang ditampilkan berupa taktik dan strategi.

Baca juga: Saat Desa Dianggap Feminin, sedangkan Kota Cenderung Maskulin

Karakter-karakter anggota geng dalam Money Heist merupakan representasi dari orang-orang kalah. Anak-anak perampok, pengangguran, copet, penambang minyak, janda penyelundup narkotika, preman jalanan, gay, transgender, wanita simpanan, korban KDRT, perempuan hamil yang menjadi korban peminggiran karier di institusi kepolisian.

Kisah ini pun berakhir bahagia. Geng ‘profesor’ berhasil membuat negara tunduk dengan menyandera aset penting negara, berkat kejeniusan memadukan unsur ilmu fisika, pertambangan, sosial, politik, ekonomi, cinta, dan solidaritas.

Seandainya kerja-kerja aktivisme di kehidupan nyata bisa seberhasil fantasi dalam serial Money Heist, mungkin aktivis sekarang sudah jadi yang paling didengar aspirasinya dalam setiap kebijakan politik. Rakyat pun jadi tuan, sebagaimana hakikatnya, eksekutif dan legislatif dibentuk dan dibayar untuk melayani masyarakat, bukan sebaliknya.

Mungkin, di masa depan, hal demikian akan terwujud. Asalkan, berupaya meluaskan imajinasi generasi berikutnya. Strategi perlawanan yang canggih hanya bisa hadir dari imajinasi kanak-kanak yang luas, mengutip narasi dari karakter Tokyo. Sebab pikiran yang tua dan dewasa membuat orang makin logis sesuai aturan sistem dan norma yang berlaku.

Artikel populer: Ya, Inilah “Money Heist” ala Indonesia

Orang dewasa sibuk mencari sandang, pangan, papan, pengakuan – diakui mapan, sukses, terdidik, rupawan, dan segala macam yang menggambarkan citra ideal. Gambaran sukses yang demikian diturunkan orang dewasa ke anak-anaknya dan seterusnya, sehingga imajinasi hidup kita kini seragam: sukses dalam artian basis materil yang berlimpah dan memperoleh pengakuan sosial sebagai apa atau siapa.

Sayangnya, sistem dan struktur yang ada membuat segelintir kalangan saja yang mampu mencapai kriteria sukses tersebut. Lewat fantasinya, Alex Pina – kreator serial Money Heist – ingin mengingatkan bahwa ada imajinasi hidup di luar tradisi tersebut, yaitu imajinasi perlawanan.

Sebagai produk budaya, Money Heist berhasil menggambarkan betapa keren aktivisme melawan negara. Setidaknya, imajinasi perlawanan itu memungkinkan makin banyak anak muda terinspirasi mengupayakan hal serupa.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini