Bagaimana Seharusnya Melihat Konflik Jerinx SID dan Via Vallen

Bagaimana Seharusnya Melihat Konflik Jerinx SID dan Via Vallen

Jerinx SID dan Via Vallen (Instagram)

Saya pertama kenal Superman is Dead (SID) waktu SMP. Sebagai remaja haus eksistensi, ikut-ikutan jadi outSIDer. Demi diakui sebagai anak gaol.

Tapi sejak SMA nggak lagi ngikutin perkembangan SID. Paling cuma dengar desas-desus, “Katanya indie, kok mau di bawah naungan label mayor?”

Waktu saya kuliah, SID makin bergengsi lewat barisan Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (forBALI). Nggak tahu deh, sejak kapan SID jadi seprogresif itu? Hingga suatu hari viral penampakan Jerinx (JRX), pentolan SID, menenteng buku Wijaya Herlambang sebagai properti dengan caption memukau.

Percayalah, saya bukan outSIDer, wong cuma hafal satu lagu. Lidah ini juga sudah terbiasa melantunkan karna su sayang, bukan lagi sayaaang opo koe krungu… Jadi, bukan juga Vyanisty. Disclaimer ini perlu ditekankan, sebab tulisan ini menyinggung sengketa lagu Sunset di Tanah Anarki alias SDTA.

Sejak kepopuleran Via Vallen sebagai princess koplo Indonesia mengalahkan siapapun, doi sebetulnya figur masa depan. Kepada teman-teman, saya sering berseloroh, “Waktu SMP ku ingin jadi penyanyi rock terkenal, waktu SMA ingin jadi jurnalis internasional, waktu kuliah ingin jadi profesor ilmu sosial. Tapi… itu dulu. Sekarang ku ingin jadi Via Vallen.”

Dalam bayangan ini, nyanyi sambil meliuk-liukkan badan sekenanya nggak susah-susah amat. Koplo juga tak menuntut teknik vokal yang muluk-muluk.

Jadi, nggak perlu ikut les vokal sejak kecil macam Agnes Monica demi punya kualitas suara. Nggak perlu juga belajar main musik atau cari-cari referensi karya musisi lain demi mencipta karya sendiri.

Tanpa itu semua, kita bisa kaya raya. Bisa beli tiket piala dunia. Jadi bintang utama opening ceremony Asian Games yang tak semua musisi ternama bisa. Wagelaseh!

Baca juga: Meramal Masa Depan Dangdut Koplo Via Vallen & Nella Kharisma

Curahan hati semacam itu tentu tak berani saya bagikan lewat caption di akun Instagram, sekalipun sepi followers. Lha, sudah miskin pertemanan kok berani-beraninya mencipta genderang permusuhan. Lagipula, semua asumsi itu pasti datang dari sifat iri hati yang harus diredam.

Mental ini memang tak sebaja Jerinx SID yang ceplas-ceplos mencurahkan segenap kejengahan. Sayangnya, kenapa baru diutarakan pas jelang rilis album sih, bli?

Terlepas dari maksud hati Jerinx yang sesungguhnya, kita bisa memakai orasi caption-nya bukan sekadar perkara bajak membajak. Setidaknya ada dua poin.

Pertama, untuk memihak sebuah nilai yang senafas dengan prinsip Lekra, seni untuk rakyat. Seni sebagai medium perlawanan.

Coba putar kembali MV (music video) SDTA. Wawancara dengan isteri Munir dan Wiji Thukul yang terselip di sana adalah penegasan atas makna dan dedikasi lagunya. Sebagai pesan melawan lupa tragedi HAM di Indonesia.

Apalagi yang ditenteng buku Kekerasan Budaya Pasca 1965, bukan majalah Rolling Stone edisi album musik terlaris Indonesia. Mbak Via paham kan?

Walau satu sisi agak heran juga, Jerinx SID adalah ambassador produk hasil kreasi buruh-buruh murah Indonesia, kelompok kelas yang diperjuangkan Munir semasa hidupnya.

Sebagai seniman kondang, gaung aktivisme SID memang harus menggelegar. Nggak seperti kita yang sikap perlawanannya sebatas beli produk KW. Sepi dan terabaikan.

Baca juga: Di Balik Viralnya Lagu Karna Su Sayang, Menurut Penciptanya

Kedua, untuk menggugah kesadaran kita akan kelamnya industri musik hari ini.

Via Vallen yang lugu dan punya berjuta umat, amat strategis guna mempropagandakan perihal seni musik yang makin dangkal, namun bernilai komersial tinggi.

Kalaupun tuduhan Jerinx SID terhadapnya soal memperkaya diri itu tidak benar, mbak Via berhak lho menunjukkan pada rakyat Indonesia yang membesarkan namanya, apa wujud dedikasi ketulusan berkaryanya?

Sudah lama saya menanggung tanya, jika Via Vallen memang memiliki hasrat dan kecintaan serius terhadap seni vokal dan musik, mengapa yang dibuka malah usaha kue bakery seperti tren artis Indonesia lainnya? Barangkali masih masuk akal bunda Inul yang buka usaha Inul Vizta.

Via Vallen juga buka channel YouTube yang isinya kumpulan video cover pribadi, yang dari viewer-nya bisa buat beli printilan sehari-hari. Padahal, dengan berjuta followers, doi bisa berkontribusi dalam gerakan melawan lupa, ibu-ibu Kendeng, dan berbagai solidaritas tanpa perlu keluar duit.

Nggak perlu jauh-jauh ke solidaritas sosial, anggaplah doi seorang manikebuis yang mendedikasikan karya seni untuk estetika belaka. Jika pun bagitu, kenapa bukan studio musik, proyek seni untuk anak-anak Indoensia, atau bahkan label rekaman sendiri yang dibikinnya?

Tanpa perlu klarifikasi soal royalti, kami percaya ini bukan soal royalti DVD. Sebab, industri musik hari ini memang tidak bertumpu pada strategi itu lagi.

Artikel populer: Wujud Sesungguhnya Sabyan Gambus

Dalam tradisi seni musik koplo, memang tak ada hak paten lagu siapa atau dipopulerkan oleh siapa. Hanya satu prinsip berkarya, asal pemirsa bisa asik-asik josss. Orang bisa menyalin semaunya dan disebarkan.

Pihak biduan memang nggak dapat royalti, tapi juga nggak rugi. Wong dia dapat penggemar, panggung, dan endorse. Nilainya bisa melebihi royalti DVD.

Dulu, Rhoma Irama merasa tersaingi oleh Inul yang pakai strategi serupa. Sampai-sampai Bang Haji mengangkat isu moral, menuduh Inul jualan eksotisme. Padahal, itu perkara model bisnis.

Inul membangun modal sekaligus pasarnya hanya dari kampung ke kampung, panggung ke panggung, dengan membiarkan siapapun merekam dan menduplikasi goyangannya dalam bentuk DVD bajakan. Sementara, Si Raja Dangdut hanya mengandalkan royalti kepingan DVD. Ini namanya disrupsi, kata Rhenald Kasali.

Apa posisi Jerinx kini mirip dengan Bang Rhoma dulu?

Walau skemanya mirip – SID di bawah label mayor, sementara Via Vallen tidak – tapi mereka jelas beda pasar. Punk rock dan koplo.

Terlepas dari siapa yang benar, patutnya kita mau mengakui bahwa industri musik memang hanya semakin menjadi tambang cari penghidupan.

Apa lacur. Masyarakat kita tak hanya berkadar gula darah tinggi, tapi juga punya kadar fanatisme kelompok yang tinggi. Komentar kritis malah jadi bahan saling caci.

4 COMMENTS

  1. “Via Vallen juga buka channel YouTube yang isinya kumpulan video cover pribadi, yang dari viewer-nya bisa buat beli printilan sehari-hari.” Ada datanya ga neh kalau benar VV memonetisasi videonya di yutub? Kalau ga keliru, doi udah konfirmasi bahwa kanal yutubnya ndak dimonetisasi tuh.

    • “Via Vallen juga buka channel YouTube yang isinya kumpulan video cover pribadi, yang dari viewer-nya bisa buat beli printilan sehari-hari.” Disana ada kata “bisa” . Bisa bkn berarti sudah dimonestasi bos. Gimana sih

      • To Railim, thanks udah mengingatkan kata “bisa” di situ. Masalahnya, “bisa” di situ adalah kata kerja untuk “buat beli printilan sehari-hari”, yang merujuk pada “dari viewer-nya”, bukan kata kerja untuk monetisasi (i.e. “bisa dimonetisasi”). Sehingga, aku memahami kalimat itu mengandaikan bahwa kanal yutub kumpulan video cover pribadi itu memang sudah menghasilkan uang (dimonetisasi), dan uang itu “bisa” buat beli printilan”.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.