Bagaimana Menghadapi Orang yang Bilang Kamu “Gendutan” atau “Kurusan”

Bagaimana Menghadapi Orang yang Bilang Kamu “Gendutan” atau “Kurusan”

Ilustrasi (Agnesliinnea/Pixabay)

“Eh, lu gendutan ya sekarang?”

“Kok sekarang jerawatan, sih?”

“Ya ampun, kurus banget. Lagi banyak pikiran ya?”

Mungkin banyak di antara kalian yang sering ngomong atau dikomentarin begitu. Biasanya, ketika ketemu teman yang sudah lama tidak berjumpa. Saya pun dulu begitu, untuk sekadar basa-basi biar terkesan asyik. Tapi nyatanya, tidak seasyik itu.

Pada suatu waktu, berat badan saya sempat naik hingga 12 kg dalam satu tahun. Saat itulah, banyak orang berkomentar yang membuat saya menjadi tidak percaya diri. Bahkan, sampai berkali-kali menolak ajakan beberapa teman untuk sekadar nongkrong bareng.

Di dalam kamar, saya mengurung diri. Sesekali menangis. Ingin rasanya memutus tali silaturahmi, karena merasa tidak sanggup lagi menghadapi orang-orang yang selalu mengomentari berat badan yang naik kala itu.

Lalu, di hadapan cermin, ada semacam perasaan yang membuncah. Rasanya ingin marah saja, tapi kepada siapa? Diri sendiri? Dalam hati, saya berbicara:

“Coba aja lu kurusan, gak akan ada yang ngehina lu deh pasti.”

“Tapi iya sih, gendut banget ya.”

“Pasti pake baju apa aja gak akan cocok.”

Baca juga: ‘Body Shaming’ Nggak Lucu, Karena Cantik Itu Hanya Mitos

Secara tidak sadar, malah menjadi pelaku body shaming terhadap diri sendiri. Butuh banyak waktu untuk bisa menerima kondisi tersebut. Bagaimana berusaha memahami bahwa tubuh, apapun keadaannya, sebagai satu kesatuan yang berhak mendapatkan pengakuan, penghargaan, dan cinta dari si pemiliknya.

Selanjutnya, mencoba belajar bagaimana menerima tubuh sendiri, apapun kondisinya. Hingga akhirnya mendapat tugas untuk membuat sebuah social project tentang isu sosial yang berkembang di masyarakat. Goal dari proyek sosial ini adalah memberikan edukasi dan mengubah pola pikir masyarakat.

Bersama empat rekan yang semuanya perempuan, akhirnya memilih body shaming sebagai tema, karena memang sangat terkait dengan keseharian, terutama di lingkaran pertemanan setiap orang. Nama social project ini adalah “Kamu Cantik”.

Yup, pada dasarnya, semua perempuan itu cantik. Jangan kasih kendor say untuk body shaming, karena itu adalah salah satu bentuk kekerasan verbal. Tindakan mengomentari ‘kekurangan’ fisik bisa mengancam keberfungsian seseorang dalam lingkungan sosial.

Semula, banyak orang yang meremehkan edukasi sosial “Kamu Cantik” ini. Nggak heran lah ya, sebab selama ini masyarakat kita telah menganggap bahwa ucapan “eh, lu kok gendutan” sebagai sesuatu yang lumrah. Bahkan, kerap dijadikan guyonan.

Baca juga: Lagi-lagi Perempuan Ditimbang dari Berat Badannya

Dan, ada pula yang menuduh bilang bahwa promo “Kamu Cantik” ini sebagai bentuk marketing dari produk skincare. Memang agak rempi di era ‘hidup tak seindah feed Instagram’ ini. Ideologi endorsement adalah koentji.

Tapi berkat militansi tanpa batas, ce ilee, proyek sosial ini mulai mendapat respons yang tinggi, termasuk dari para influencer. Mereka pun ikut mengkampanyekannya. Makasih ya kakak-kakak, gratis pula. Hehehe.

Dari situ, mulailah berkembang banyak cerita dari netizen, terutama perempuan, soal body shaming. Selama ini, mereka menganggap bahwa tubuh mereka layak untuk mendapatkan komentar apapun dari orang lain. Walaupun, pada kenyataannya, mereka sangat terpuruk atas komentar yang menyakitkan itu, dan terpaksa memendamnya sendiri selama bertahun-tahun.

“Omongan mereka membuat aku jadi pribadi yang kurang bersyukur.”

“Aku nyesek saat orang-orang menertawakan kulitku yang gelap, dan itu aku dapat dari keluargaku sendiri.”

“Saya pernah dipermalukan karena memiliki payudara yang kecil. Sejak saat itu, saya merasa tidak pantas mendapatkan jodoh.”

Itu hanya beberapa contoh pesan dari mereka. Tapi bisa kita lihat, kekerasan verbal bernama body shaming tidak pernah mendapat tempat dalam kehidupan seseorang.

Baca juga: Kita Tetap Bisa Pakai Makeup dan Skincare Sekaligus Melawan Standarisasi Kecantikan

Karena itu, tubuhmu otoritasmu menjadi sangat relevan. Kamu lah yang memiliki hak penuh atas tubuhmu. Jangan biarkan orang lain mempermalukan tubuhmu hanya karena tidak sesuai dengan standar kecantikan yang mereka agungkan selama ini.

Banyak orang yang mungkin gagal dalam memahami bahwa komentar atas tubuh seseorang sama sekali tidak penting dan tidak memiliki urgensi untuk diucapkan.

Apakah kita pernah berpikir bahwa mereka yang warna kulitnya menggelap bisa jadi setiap hari harus naik ojek online, karena finansialnya belum cukup untuk memiliki kendaraan pribadi yang lebih nyaman?

Apakah kita pernah berpikir bahwa mereka yang memiliki ukuran tubuh lebih besar mungkin sedang menikmati uang dari kerja kerasnya bertahun-tahun untuk mencoba berbagai makanan yang belum pernah dicoba sebelumnya?

Apakah kita pernah berpikir bahwa mereka yang berjerawat mungkin sedang berjuang melawan segala masalah dalam hidupnya, sehingga hormon stres dalam tubuhnya memproduksi sebum secara berlebihan dan menimbulkan jerawat?

Kalau belum, mari kita mulai berpikir. Mulailah mengucapkan kalimat yang bisa membuat seseorang merasa bangkit dan menjadikannya pribadi yang lebih positif. Jika memang ada perubahan dalam fisik seseorang, cukup disimpan untuk dirimu sendiri.

Artikel populer: Kepada Lelaki Nusantara yang Masih Nafsu dan Nyinyirin Pakaian Seksi

Lalu, bagaimana jika itu mengancam kesehatannya? Sampaikanlah dengan santun. Tekankan bahwa pesanmu bukan perihal estetika. Jelaskan bahwa setiap tubuh layak untuk mendapatkan kesehatan dari pemiliknya.

Bagi kamu yang sering mendapat komentar yang mengarah pada penghinaan atas tubuhmu, tutup telingamu sekarang. Jangan memberikan celah bagi para komentator karbitan untuk mengganggu ranah tubuhmu.

Jika masih terus terjadi, sampaikan keberatanmu. Kamu memiliki hak untuk melakukan itu. Ingat, kamu berharga karena kecantikanmu adalah kamu. Jangan sampai penghinaan atas tubuhmu justru menutup segala potensi dalam dirimu. Sekali lagi, jangan.

Terakhir, jangan lupa memaafkan mereka yang pernah atau sedang mengolok tubuhmu. Mungkin, itu hanya bentuk ke-insecure-an mereka atas kehadiranmu. Maafkan, mereka hanya belum mengerti.

Oh ya, satu lagi. Jangan lupa memaafkan dirimu atas segala protesmu terhadap tubuhmu. Mulai sekarang, harus lebih sayang lagi sama tubuhmu sendiri. Setelah itu, baru yang-yangan sama orang lain, eh?

1 COMMENT

  1. SEPERTI KATA MAMAK MEIRA ANASTASIA: UBAH INSECURE JADI BERSYUKUR !

    TERIMA KASIH VOXOP (SUARA RAKYAT). TERUSLAH MENYUARAKAN SUARA-SUARA RAKYAT. SUKSES SELALU !

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.