Ilustrasi kebebasan berekspresi (Image by Moshe Harosh from Pixabay)

Sebetulnya banyak orang mempersoalkan pernyataan misoginis yang dilontarkan oleh laki-laki maupun perempuan. Namun, banyak pula yang tidak mau bersuara, semisal melalui akun media sosial. Mereka takut dirisak dan tidak disukai oleh orang-orang di sekitarnya.

Memang sih, itu adalah konsekuensi ketika kita memiliki pendapat yang berbeda dari pendapat umum, apalagi pendapat umum tersebut cenderung misoginis alias membenci perempuan. Lantas, mau sampai kapan merasa takut tidak disukai oleh kebanyakan orang, terlebih orang-orang itu misoginis dan seksis?

Gini deh, apakah hidup kita akan berakhir jika tidak disukai oleh mereka? Apakah hidup kita menjadi tidak bernilai? Apakah kita bakal benar-benar tidak punya teman lagi, sehingga hidup akan terasa sepi?

Selama ini banyak perempuan takut bersuara tentang hak-haknya, karena masih menempatkan dirinya sebagai objek yang mencari pengakuan dari orang lain, terutama bila lingkungannya masih sangat patriarkal.

Baca juga: Kelihatannya Sepele, tapi Tanpa Sadar Kita Jadi Misoginis, Cek Ya!

Dalam pikirannya, ia masih membenturkan dirinya ke dinding-dinding yang membatasinya dalam berekspresi. Padahal, dinding-dinding itu hanyalah konstruk yang diciptakan untuk mengontrol perempuan, sehingga perempuan bisa diperdaya dan dieksploitasi untuk kepentingan patriarki dan kapitalisme.

Kita tentu pernah mendengar bahwa perempuan dianggap egois jika tidak menikah, tidak memiliki anak, atau memilih untuk bekerja di luar rumah. Sementara, laki-laki bisa melakukan apapun untuk mengaktualisasikan dirinya tanpa dibilang egois.

Produktivitas laki-laki juga banyak ditunjang oleh perempuan yang melakukan kerja-kerja reproduksi di rumah, baik itu perempuan sebagai ibu, istri, anak, pekerja rumah tangga, atau tukang cuci di laundry.

Jadi, tak heran kalau perempuan yang mengaktualisasikan dirinya tanpa pengakuan orang lain, atau bahkan mengkritik pendapat umum yang misoginis bakal dicap egois dan tidak disukai. Sebab selama ini perempuan dididik untuk menyenangkan dan mencari pengakuan dari orang lain.

Baca juga: Di Balik Cibiran soal Ketiak Hingga Selangkangan yang Menghitam

Padahal, untuk bisa maju, perempuan tak perlu memusingkan suara-suara orang yang tidak menyukainya tersebut. Perempuan tidak membutuhkan pengakuan orang lain agar bisa menjadi pribadi yang disukai. Perempuan hanya perlu menyukai dirinya sendiri. Karena itu, kemandirian diri baik secara mental maupun finansial sangat penting.

Coba kita lihat lagi, apakah perempuan-perempuan sebelum kita banyak yang disukai ketika mereka memperjuangkan haknya? Kartini dianggap melawan tradisi. Gerakan Wanita Indonesia difitnah dengan isu memotong penis jenderal!

Tidak disukai atau bahkan dirisak karena bersuara lantang tentang perjuangan hak adalah konsekuensi yang mesti dihadapi, bukan dihindari. Sebab, orang-orang yang merasa terusik akan menggunakan segala cara untuk menjatuhkan perempuan. Tak jarang, beberapa perempuan diserang bukan hanya pemikirannya, tapi juga tubuhnya. Kan, biadab.

Baca juga: Merdeka atas Tubuh Sendiri, Lepas dari Pandangan Lelaki

Respons misoginis tersebut justru semakin menunjukkan betapa merusaknya konstruk sosial yang mereka ciptakan untuk perempuan. Jika kita masih merasa takut, itu artinya kita membenarkan pandangan yang misoginis. Kita turut memberikan senjata kepada mereka untuk terus meneror perempuan dengan kekerasan.

Mereka memanfaatkan rasa takut tersebut agar mereka bisa terus berkuasa, supaya bisa semakin mengendalikan perempuan hingga ke alam pikiran. Masa sih dibiarkan begitu saja?

Tentunya, jika kita mengusung nilai-nilai kesetaraan, maka tak perlu ragu untuk berani bersuara. Kemudian, membentuk kelompok sistem pendukung agar pergerakan semakin masif.

Lantas, bagaimana jika kita mengalami intimidasi, semisal dengan doxxing atau menyebarluaskan informasi pribadi kita ke publik? Ya sudah hak kita untuk mendapatkan perlindungan hukum. Kebebasan berekspresi ini dijamin oleh UUD 1945 dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB. Selain itu, banyak komunitas HAM yang siap melindungi perihal kebebasan berekspresi.

Artikel populer: Merebut Kembali Kata “Betina” Sebagaimana Kata “Bitch”

Lagi pula, perubahan tidak akan terjadi jika diam saja, bukan? Apalagi, berlindung di balik rasa takut terhadap orang-orang misoginis.

Sebab semakin mencari pengakuan dari orang lain agar mereka menyukaimu, selama itu pula kamu tidak akan merasa nyaman dengan diri sendiri. Merasa gelisah karena dihantui patriarki.

Jadi puan, berhentilah minta izin dari patriarki. Jika percaya dengan kesetaraan, lakukan apa yang kamu suka dan yakini sebagai kebenaran. Agar suara kita semakin nyaring terdengar dan kaki-kaki patriarki bergetarrr…

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini