Ilustrasi (Image by Juraj Varga from Pixabay)

Sejak COVID-19 masih dinamai Novel Coronavirus, permintaan masker di seluruh dunia sudah meningkat. Pada akhir Januari, seorang teman – apoteker di Hong Kong – bilang bahwa di tempatnya tidak ada lagi masker. Shortage masker melanda dunia. Bayangkan, kelangkaan itu terjadi di negeri semaju Hong Kong.

Di Indonesia, kelangkaan mulai terasa sejak Januari, lalu puncaknya terjadi pada bulan Maret saat pengumuman tentang pasien yang positif terinfeksi Virus Corona (COVID-19). Ketika itu, masker langsung diborong habis tanpa sisa. Betul-betul sulit diperoleh di belahan manapun di Indonesia.

Kejahatan kolektif bangsa ini dalam bidang permaskeran sempat membiarkan 2 orang survivor kanker di Mempawah, Susanto Tan dan Celine kehabisan masker. Padahal, bagi survivor kanker seperti bapak dan anak ini, termasuk pasien-pasien lain yang kelar kemoterapi, masker adalah senjata andalan untuk menghindari infeksi yang sangat mungkin menyerang mereka yang sedang lemah-lemahnya sistem imun.

Seorang teman penyintas kanker kelenjar getah bening (limfoma) pernah berkisah bahwa dirinya pernah dalam kondisi hendak mati gara-gara infeksi. Ketika itu, anaknya baru lahir, dia habis kemoterapi, banyak yang mengunjungi, dan secara natural dirinya membuka masker saking banyaknya orang yang datang.

Baca juga: Virus Corona: Cara Media Meliput Malah Sering Bikin Takut dan Panik

Sementara, tulisan ini mulai saya ketik di dalam kereta makan KA Argo Parahyangan dari Bandung ke Jakarta. Tepat di kursi tempat saya mengetik, ada sebuah masker bekas yang tergeletak. Sesudah itu, di Gambir, sembari menunggu ojek online, saya juga melihat masker bekas tergeletak di trotoar.

Ngeri, kan?

Masker diborong karena semua takut COVID-19. Sekarang, anggaplah ada COVID-19 dan droplet tempat virus itu melekat berhasil dicegah masuk ke tubuh oleh bagian hijau dari masker. Tapi, ketika kemudian droplet yang menempel di masker itu dibuang semena-mena, apa nggak menebar penyakit itu namanya?

Atau, anggaplah ada orang yang kena COVID-19 tapi belum ngeh, kemudian pakai masker, lantas membuangnya sembarangan dengan posisi bagian halus atau putih ke arah udara. Maka, sang virus tinggal melihat peluang kontak dengan inang berikutnya saja untuk dapat memperbanyak diri.

Sebagai gambaran, pasca ramai-ramainya kehabisan masker, Presiden Jokowi pernah menyebut bahwa stok masker di Indonesia aman karena ada 50 juta masker. Dengan memukul rata ukuran masker adalah 14×24 cm, maka seluruh stok masker di Indonesia itu – jika dibentangkan – luasnya bisa mencapai lebih dari 150 hektare. Jumlah itu hanya sedikit lebih luas dari kompleks Gelora Bung Karno (GBK). Jadi, bayangkan seluruh masker itu dijahit, maka bisa menutupi GBK secara sempurna.

Baca juga: ‘Panic Buying’ Hanya Mereka yang Berduit, Sobat Misqueen Bisa Apa?

Pada kesempatan lain, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebutkan bahwa setiap bulan dibutuhkan 89 juta masker medis untuk merespons COVID-19, termasuk 76 juta sarung tangan dan 1,6 juta kacamata. Dengan perhitungan yang sama, maka 89 juta masker itu setara 300 hektare atau separuh dari Yogyakarta International Airport (YIA).

Padahal, masker itu konsepnya sekali pakai. Artinya, dalam sehari, seorang pemakai masker pasti akan menyumbang 0,0336 meter persegi sampah. Silakan dikali dengan jumlah masker yang dipakai. Jumlahnya bisa dipastikan tidak sedikit.

Ketika kita masih berjuang mengatasi sampah sedotan plastik dan mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai, pada saat yang sama kita juga sedang memburu barang yang begitu digunakan dalam beberapa jam sudah dipastikan menjadi limbah. Agak sedih juga, jadinya.

Masih banyak orang yang nggak paham bagaimana nyampah masker dengan baik. Hal ini memang kurang tersosialisasi karena basis penggunaan masker itu di fasilitas kesehatan. Di tempat itu, masker termasuk limbah medis yang pemusnahannya sudah diatur.

Lha, kalau penggunaan masker oleh umum, bagaimana? Karena edukasinya minim, jadilah masker diperlakukan dengan cara-cara yang justru rawan menimbulkan penyebaran penyakit.

Pertama, masker dilepas dengan tangan memegang bagian luar. Anggaplah virus pada droplet benar-benar ada dan tertahan pada bagian itu, maka tangan yang menyentuhnya berarti membuat virus pindah ke tangan. Cukup ngupil sekali, hilang sudah faedah penggunaan masker sepanjang hari.

Baca juga: Level Hoaks Kesehatan di Atas Politik: Sehat Harus, Bodoh Jangan

Pada intinya sih, bagian dalam itu menyerap cairan batuk atau bersin dari dalam, supaya tidak menyebar ke luar. Sedangkan bagian luar menjaga agar hal-hal buruk dari luar tidak masuk ke dalam dengan cara menangkringkannya pada lapisan hijau tersebut. Artinya, dua-duanya sebaiknya tidak kontak dengan tangan lagi sesudah dipakai.

Kedua, masker sejatinya dibuang dengan menutup baik bagian luar dan dalam. Umumnya sih dibungkus plastik lagi sebelum dibuang, tapi kan nanti jadi semakin nyampah. Kalau di fasilitas kesehatan, masker dimusnahkan dengan tata cara tertentu bersama-sama limbah medis lain. Penggunaan umum ini bikin dilema juga sebenarnya. Yang jelas, membuang masker di sembarang tempat pada dasarnya memang tidak disarankan. Apalagi, meninggalkannya di kursi kereta makan. Asem.

Ketiga, banyak masker dibuang tanpa dirusak terlebih dahulu. Bukan apa-apa, di negeri dengan kreativitas tingkat tinggi seperti Indonesia, selalu ada potensi masker bekas itu dipungut lantas diperbaharui menjadi masker seolah-olah baru. Apalagi, di zaman masker langka seperti sekarang.

Artikel populer: Dua Tiga Tutup Botol, Dunia Kita kok Konyolnya Pol?!

Sejauh ini, kita terjebak pada kondisi butuh masker dan mau tidak mau harus mengesampingkan potensi dampak negatifnya terhadap alam. Satu hal yang pasti saat ini untuk benar-benar memaknai faedah penggunaan masker, setidaknya kita harus memastikan bahwa telah membuang masker dalam kondisi sedemikian rupa, sehingga kotoran yang ada pada bagian luar masker akan diam di situ dan tidak berpindah ke orang lain. Begitu dulu.

Tentu pengelolaan masker ini semakin mirip dengan bagaimana cara menghadapi mantan. Jika benar-benar sudah selesai dan ingin dilepas, ada baiknya dikelola dulu secara baik-baik agar tidak jadi perkara di tempat lain, apalagi kalau perkaranya adalah warisan dari kita.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini