Bagaimana Melepaskan Diri dari Relasi Kuasa Hubungan Seksual

Bagaimana Melepaskan Diri dari Relasi Kuasa Hubungan Seksual

Ilustrasi (Image by Melissa Angela Flor from Pixabay)

“Mama, aku mau biskuit punya kaka,” kata seorang anak kecil merengek kepada ibunya di bus Trans Jakarta, suatu sore. Mendengar ucapan itu, sang ibu ngomong ke kakak, “Kaka bagi ke adek ya.” Kemudian, si kakak memberikan sepotong biskuit kepada adiknya. Si adik tetap merengek, karena tampaknya menginginkan semua biskuit kakaknya.

“Kak, kasih adek semua, nanti adek nangis loh. Mama belikan lagi nanti di rumah,” ucap sang ibu. Namun, si kakak hanya menggelengkan kepala dan enggan memberikan semua biskuitnya. Adiknya lalu menangis, keras, dan amarah ibu hampir meledak. Si kakak akhirnya memberikan semua biskuitnya. Ada ekspresi kesedihan yang luar biasa.

Saya hanya terpaku menyaksikan ketiganya. Pada usia yang sebegitu muda, sang kakak dipaksa untuk kehilangan asertivitasnya. Asertivitas adalah kemampuan untuk mengomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan, tapi tetap menjaga serta menghargai hak-hak dan perasaan orang lain.

Baca juga: Anak-anak Jadi Nggak Kritis, Orang Tua Memang Lebih Menyukai Itu

Asertivitas menjadi salah satu unsur terpenting dalam pembentukan ego dan kepribadian individu. Asertivitas semestinya dipupuk sejak kecil dan dilatih agar individu dapat mengambil keputusan tegas atas dasar consent ketika dewasa kelak.

Beberapa orang mungkin berpikir, “Ya wajarlah namanya juga saudara. Ya baguslah kakak ngalah sama adiknya.” Percayalah, bisa jadi maksudnya baik, tapi caranya salah.

Jika kakak tadi memberikan semua biskuit ke adiknya dengan consent atau persetujuan, ekspresinya tak akan menunjukkan kesedihan. Dia justru akan bergembira karena berbagi makanan kepada adiknya. Tidak ada beban bagi individu yang bersikap asertif.

Tetapi, sayangnya, banyak anak di Indonesia yang tidak dilatih untuk bersikap asertif. Sebab, masyarakat kita sering kali melakukan diskriminasi usia (ageisme). Misalnya, yang gede harus ngalah sama yang kecil dan sebagainya. Kamu pernah mengalami?

Baca juga: Dari Malala, Emma, Greta, Hingga ‘Egg Boy’: Kenapa Remaja Kita Tak Se-kritis Mereka?

Akibatnya, asertivitas digerus oleh pandangan tentang perbedaan umur tersebut. Jika setiap hari anak-anak menerima perlakuan seperti sang kakak tadi, mereka akan terkondisikan untuk terus menerus mengalah, meski bertentangan dengan keinginannya.

Mungkin kisah adik meminta biskuit tadi terkesan receh oleh sebagian masyarakat. Padahal, itu bisa berbahaya.

Coba bayangkan seorang remaja perempuan yang tidak pernah dididik asertif oleh orangtuanya. Ketika ia menjalani relasi pertamanya dengan seorang laki-laki dan lelaki itu minta hubungan seksual, ia bakal sulit menolak dan cenderung lebih mudah jatuh pada relasi kuasa. Padahal, ia tidak ingin ngeseks.

Itu terjadi karena remaja perempuan tersebut tidak dibiasakan berkata “tidak” sejak dini untuk sesuatu yang tak dikehendaki. Asertivitas ini bisa menjadi tameng terkuat untuk melindungi individu, termasuk dari kejahatan revenge porn.

Revenge porn adalah tindakan mempublikasikan konten seksual seseorang yang dilakukan oleh partner atau mantan kekasih/istri tanpa sepengetahuan orang yang bersangkutan.

Baca juga: Seks Menyenangkan Tanpa Balas Dendam

Baru baru ini, netizen dikejutkan oleh viralnya kasus revenge porn yang menimpa seorang artis perempuan berbakat. Sebagian netizen kita yang terkenal baik dan budiman menyalahkan si artis. Kok mau-maunya?

Artis tersebut tidak sendirian. Sebab, banyak perempuan yang terjebak dalam ketimpangan relasi kuasa dengan pasangannya. Namun, ia tidak mampu mengomunikasikan apa yang diinginkan, karena tidak terbiasa bersikap asertif sejak kecil.

Sudah begitu, videonya disebar pula yang tentunya tanpa sepengetahuan. Jadi makin runyam. Kamu juga nggak usah minta link atau videonya. Di media sosial meledek, mengecam, mengutuk, tapi diam-diam malah menikmati.

Tetap fokus gaes…

Dalam konteks sosial-politik, rendahnya asertivitas secara tidak langsung akan membungkam semangat perlawanan ketika merasa tertindas. Misalnya pada kasus perampasan tanah. Sudah tahu dirugikan, tapi tidak protes karena merasa tak ada jalan lain.

Artikel populer: Kucing Aja Kawin Pakai ‘Consent’, Nah kalau Manusia?

Sekarang, coba kita lihat diri sendiri. Apakah selama ini kita telah mengomunikasikan keinginan, pikiran, dan pendapat dengan baik? Misalnya, mengatakan “tidak” untuk sesuatu yang benar-benar tidak kita kehendaki? Atau, jangan-jangan malah menyerah.

Jika kita merasa terlanjur jatuh dalam pola pendidikan seperti itu, ada baiknya mulai berlatih untuk menjadi lebih asertif. Bisa dimulai dengan memahami diri sendiri, mengidentifikasi perasaan, keinginan, dan bagaimana emosi kita bekerja.

Selanjutnya, kita perlu melatih diri untuk membantu orang lain memahami diri kita, soal batasan dan emosi. Kemudian, membantu orang lain untuk memahami konflik-konflik yang kita hadapi. Dengan begitu, potensi konflik antara kita dan orang lain bisa berkurang.

Jadi, asertivitas ini bukan persoalan receh. Ini menyangkut kepentingan umat, aihhh… Individu yang asertif memiliki kendali atas perilaku mereka dan menghormati hak orang lain. Mulailah bersikap asertif.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.