Ilustrasi perempuan. (Photo by Laura Chouette on Unsplash)

Ketika perempuan bicara soal sex toy, banyak lelaki yang merasa terintimidasi. Alasannya, kalau perempuan lebih suka sex toy, nanti nggak butuh lagi penis lelaki. Padahal, ada atau tidak ada sex toy, perempuan tetap bisa bermasturbasi sendiri. Misalnya dengan jari.

Bahkan, banyak yang menggunakan guling untuk membantu perempuan bermasturbasi. Pada momen itu, guling adalah sex toy.

Sebenarnya perempuan sudah berdaya dari sananya untuk urusan kenikmatan seksual. Namun, banyak lelaki yang merasa insecure, kemudian melarang-larang dan memberi stigma sebagai upaya mengontrol perempuan agar seksualitasnya hanya didefinisikan berdasarkan sudut pandang penis lelaki.

Sebab, jika perempuan tahu soal kenikmatan orgasme, lalu tidak mendapatkannya saat berhubungan seks dengan lelaki, maka perempuan akan mengupayakan kesetaraan dalam hal orgasme. Itu mengusik pikiran banyak lelaki.

Baca juga: Bahkan untuk Urusan Libido dan Orgasme Saja, Perempuan juga Diatur-atur

Lantas, apa salah ketika perempuan menginginkan orgasme? Toh, lelaki pun menginginkan hal serupa bagi dirinya. Apakah lelaki terlalu malas untuk membuat perempuan mencapai puncak kenikmatan seksual? Di sisi lain, perempuan nggak boleh bersenang-senang dengan sex toy.

Bermasturbasi dengan sex toy dan berhubungan seksual dengan pasangan tentu dua hal berbeda. Sex toy bisa memberikan kenikmatan hingga puncak, sedangkan berhubungan seksual bisa memberikan dekapan dan kehangatan yang mana tidak bisa didapatkan dari sex toy. Jadi, kalau pasanganmu suka sex toy, apakah perlu kamu merasa tidak percaya diri alias insecure?

Ya tidak perlu.

Kalau memang memahami kebutuhan dan kenikmatan pasanganmu, dia tidak akan mudah berpaling darimu. Dia tetap akan membutuhkan kehangatanmu. Semestinya berterima kasih kepada sex toy.

Baca juga: Perbanyak Dialog tentang Seks, jika Tidak Kapan Perempuan Bisa Dapat Kepuasan?

Ketika kamu tidak bisa memenuhi kebutuhan seksualnya, semisal sedang di luar kota atau LDR, maka sex toy bisa menemani dia. Tak sedikit perempuan yang akhirnya lebih memilih sex toy daripada selingkuh, lho!

Selain itu, sex toy bisa menghindari perempuan dari infeksi menular seksual. Banyak perempuan jomblo lebih memilih menggunakan sex toy daripada harus tidur dengan banyak lelaki dan terkena infeksi menular seksual. Sex toy menjadi penyelamat ketika kesepian.

Orang-orang terutama lelaki yang takut dengan perempuan yang suka sex toy adalah lelaki insecure dan rapuh. Ia terjebak dalam ilusi maskulinitas. Mereka adalah orang-orang yang malas menyenangkan pasangannya, merasa tak perlu berusaha membuat pasangan perempuannya menggapai orgasme. Bahkan, mereka menganggap bahwa kenikmatan perempuan tidak ada.

Baca juga: Pacar Kamu Gagah? Perkasa? ‘Toxic Masculinity’ Nggak?

Mereka tidak suka dengan perempuan yang suka sex toy, karena mereka hendak mengompensasi rasa tidak percaya diri dengan kemampuannya di ranjang yang mungkin biasa-biasa saja.

Yup, budaya patriarki telah mengakar hingga ke urusan ranjang dan kenikmatan, sehingga terjadi ketimpangan dalam hal orgasme. Faktanya, sekitar 64% perempuan mendapatkan orgasme dari stimulasi klitoral berdasarkan sebuah jurnal yang terbit pada 2016.

Lagi pula, aneh juga dengan orang-orang yang menolak sex toy dalam kehidupan seksual mereka dan pasangannya. Masa sih mereka tidak senang kalau pasangannya bisa mendapatkan kenikmatan dan merasa puas dengan kehidupan seksualnya?

Artikel populer: Perempuan juga Berhak Blak-blakan soal Seks

Kalau yang ditakutkan adalah, bahwa itu bukan mereka yang memberikan kenikmatan kepada pasangannya masing-masing, maka mereka lah yang egois. Karena merasa ‘jantan’, malah menghilangkan hak pasangan untuk merasakan kenikmatan seksual.

Jadi, tidak perlu merasa insecure dengan sex toy, karena sebenarnya itu malah bisa meningkatkan keintiman dalam hubungan. Jangan pula merasa kecil hati, beranilah berjiwa besar. Biar si dia makin semangat dan sayang kamu…

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini