Bagaimana kalau Pacaran, lalu Berhubungan Seks, terus Ujung-ujungnya Kandas?

Bagaimana kalau Pacaran, lalu Berhubungan Seks, terus Ujung-ujungnya Kandas?

Ilustrasi perempuan (Photo by Yuris Alhumaydy on Unsplash)

Tak ada yang salah ketika kita bersedih karena ditinggal kekasih. Kita adalah manusia, memahami kesedihan yang mendalam adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Mungkin, kita akan terlihat lemah ketika menangis, tapi menangislah sebelum menangis itu dilarang.

Tentu, ada sebagian dari kita yang tidak bisa menerima situasinya. Memang semenyakitkan itu. Terlebih, rasa sakit adalah sesuatu yang dihindari selama ini. Atau, terlalu gengsi mengakui seseorang yang telah menyakiti kita. Seolah-olah ada yang salah dalam diri kita.

Sebab itu, bolehlah sesekali diubah cara pandangnya. Bisa jadi dia meninggalkan kita, karena dia yang sebetulnya tidak mampu atau tidak sepadan dengan apa yang kita perjuangkan. Kan, tak ada salahnya kita memperjuangkan cinta, gagasan, ataupun cita-cita.

Baca juga: Menjadi ‘Survivor’ Patah Hati, Termasuk dari Teman yang Positif tapi Beracun

Terlebih, dia suka memanipulasi dengan segala ‘kebaikan’ dirinya agar kita mau bertekuk lutut, kemudian kita dicampakkan begitu saja. Monmaap, walaupun dia tampak saleh, pintar, atau mapan, ya buat apa? Dialah yang sejatinya tidak baik.

Seharusnya kita juga bersyukur, bukankah lebih baik keburukannya itu diperlihatkan sejak awal daripada menghabiskan sisa hidup kita dengannya? Bayangkan, kalau kita tidak ditinggalkan, kerak neraka di muka bumi.

Memang sih, bagi pasangan yang sudah berhubungan cukup lama, tak akan semudah itu. Menghabiskan waktu bertahun-tahun, nyatanya cukup sampai di sini. Duh..

Tapi, begini deh, bukankah kebahagiaan itu seharusnya milik bersama, equal, tidak timpang ke satu pihak? Kalau tidak setara, bukan pola hubungan yang sehat. Kalau dipaksakan, bisa lebih menyakitkan ketimbang ditinggalkan sekarang.

Baca juga: Manusia Tidak Dirancang untuk Bahagia, Jadi buat Apa Mengejar Kebahagiaan?

Mending kita lanjut ke proses kehidupan berikutnya. Ingat, kita itu berharga. Pantas menghabiskan waktu dengan orang-orang yang lebih layak.

Tentunya, ketika kita memantaskan diri dengan mengenyam pendidikan tinggi, kemandirian ekonomi, atau lainnya, harap dicatat bahwa itu untuk kualitas kehidupan yang lebih baik. Bukan caper. Bukan untuk memenuhi syarat menjadi calon istri idaman laki-laki patriarkis misoginis. Jangan GR!

Menjadi berharga dan berdaya adalah poin penting dalam sebuah hubungan. Karena itu, kalau ada orang yang menyakiti dan mencampakkan kita begitu saja, bisa jadi orang itu yang sebetulnya tidak layak.

Lantas, bagaimana kalau sudah terlanjur berhubungan seksual selama pacaran, misalnya? Lalu, di kemudian hari, cowoknya memutuskan hubungan secara sepihak. Sementara, ceweknya sudah tidak ‘perawan’ lagi. Apakah masih berharga dan berdaya?

Iyaa dong!

Baca juga: ‘Toxic Relationship’? Udah Putus Aja! Tapi Gimana kalau Udah Nggak Perawan?

Lagipula, definisi tentang keperawanan itu sendiri patut dipertanyakan. Selama ini, hilangnya keperawanan dinilai dari robek atau pecahnya selaput dara akibat penetrasi penis ke dalam vagina. Definisi itu hanya menaruh nilai seks pada kenikmatan lelaki berpenis saja. Padahal, seks juga berhak dinikmati oleh perempuan, baik yang bervagina maupun tidak bervagina.

Sedangkan hubungan seks juga tak selamanya harus dengan orang lain. Kita bisa berhubungan seks dengan diri sendiri. Banyak orang, termasuk perempuan, pernah menikmati tubuhnya sendiri sebelum berhubungan seksual dengan orang lain.

Lha, memangnya kenapa kalau kita tahu cara menikmati seks dengan diri sendiri? Kenapa juga kalau kita sudah terbiasa menikmatinya? Terus, kenapa kalau sudah tidak ‘perawan’?

Artikel populer: Salah Paham soal Selaput Dara

Kalau ada seseorang yang memusingkan hal itu, berarti kita pantas mendapatkan yang lebih baik dari dia. Buat apa memusingkan diri dengan standar nilai orang lain dan membuat kita tidak bahagia? Kita lebih berharga dari standar orang lain.

Percayalah, kita tak akan pernah bahagia kalau menaruh dan mengikuti standar orang lain. Setelah putus, kita harus bisa memberdayakan diri dengan mengubah cara pandang. Salah satunya mencintai dan menerima diri kita sendiri.

Tidak ada yang salah ketika bersedih karena ditinggal kekasih, namun tidak ada salahnya juga menerima diri kita sendiri. Sebab, ketika diputusin, kita hanya putus dengan orang lain yang bisa jadi tidak layak bersama kita. Namun, kita tidak putus dengan diri sendiri yang memang pantas mendapatkan cinta.

5 COMMENTS

  1. terimakasih telah mengubah cara pandang saya terhadap diri sendiri yang sebagai seorang wanita yang patut mendapatkan cinta yang layak terutama dari diri sendiri 🙂

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.