Ilustrasi (Image by Olessya from Pixabay)

Selain bercumbu dan bercinta, aktivitas sepasang kekasih lainnya adalah membicarakan masa depan. Mau menikah kapan, menetap dimana, berkarier sebagai apa, punya anak berapa, sampai pada diskusi perihal pengasuhan.

Sayangnya, tidak semua pasangan muda dapat mewujudkannya. Sebagian besar pasangan, hanya menjadikannya angan-angan. Berkali-kali promo Valentine dilewati, tabungan tak kunjung cukup untuk beli properti.

Memperoleh pekerjaan itu susah, apalagi yang berupah layak dan sanggup mewujudkan impian membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah. Misalnya, UMK Yogyakarta sebesar Rp 2 juta per bulan dan harga propertinya berkisar Rp 300-500 juta untuk tipe 45. Butuh berapa lama cicilan kira-kira? Itu belum terhitung kredit mobil dan biaya kebutuhan hidup, beda provinsi beda UMP tapi harga sembakonya sama. Mau hidup dikoyak-koyak utang terus?

Bagi sepasang kekasih kelas menengah dengan UMK Yogyakarta, membicarakan impian punya rumah terasa seperti mengunyah-ngunyah es batu, bikin ngilu. Jadilah, usaha persewaan rumah itu laris manis, selain jual beli tanah dan bangunan. Dengan begitu, Yogyakarta seharusnya terkenal dengan usaha properti dan makelarnya, bukan usaha angkringan dan warung gudegnya.

Baca juga: Utang Nggak Utang Asal Kawin

Itu baru urusan rumah, belum printilan lain seperti perabot rumah tangga, menyusul tabungan untuk kebutuhan anak berupa sandang, pangan, papan, hobi, dan pendidikan. Belum lagi anggaran sebagai seorang anak, menantu, tante dan om dari keponakan-keponakan. Sepasang pasutri muda akan selalu menyisihkan rezekinya untuk merawat ibu dan bapak mereka di kampung, menganggarkan ongkos mudik setiap tahun, bagi-bagi rezeki dan oleh-oleh di acara arisan keluarga. Dengan upah yang seuprit, mereka harus memenuhi tuntutan sosial selangit.

Kecuali, kita adalah anak dari orangtua kaya yang sanggup menghadiahi pernikahan anaknya dengan rumah seisinya, mobil dan warisan di mana-mana, maka lain cerita.

Membayangkan betapa repotnya hidup berumah tangga begitu, sebagai kelas menengah miskin, apa mending pacaran saja sampai mati? Gaji kita cukup buat nonton konser, beli tiket film, memfasilitasi hobi sendiri, bayar tagihan indekos, dan sewa kamar hotel berbintang sesekali. Menikmati hidup selagi punya waktu.

Baca juga: Baiklah, Sekarang Kita Bicara Cinta dengan Logika Kepemilikan

Kita ini kan generasi yang usianya tidak panjang-panjang amat juga. Makanan olahan yang keterlaluan, udara yang tercemar emisi gas kendaraan, kadar kaporit air PAM yang jadi air putih rebusan, perawatan tubuh kimiawi, itu semua cukup berhasil membuat kita penyakitan mulai usia kepala tiga nanti.

Jadi, misalkan ke depannya ada penurunan tren pernikahan di Indonesia, mungkin orang-orang tidak perlu berpikir jauh-jauh tentang kesadaran kritis dan emansipasi perempuan yang semakin meluas atau semacamnya sebagai latar belakang. Sederhana saja, orang malas menikah karena berumah tangga itu ongkosnya mahal dan ribet. Hambok mending tabungannya buat memfasilitasi hobi dan berkarya ketimbang dipakai nikah, gitu mikirnya.

Lagi pula, seandainya hidup adalah tentang menemukan jati diri dan kebermaknaan hidup, maka menikah bukan satu-satunya jalan hidup.

Ada orang yang menemukan makna hidup melalui hidup berumah tangga dan membesarkan anak-anak. Tapi, ada pula orang yang menemukan kebermaknaan hidup dengan menulis cerita, membuat lagu, atau mendirikan sekolah informal yang mengajari anak-anak cara bercocok tanam.

Baca juga: Sebab Menikah itu Menyempurnakan Separuh dari Gengsi Sosial

Sebagian yang lain bisa saja menemukan makna hidup dari mengasuh anjing pudel atau merawat bayi-bayi simpanse yang terancam punah. Sebagian lagi, melakukan perjalanan layaknya Sun Go Kong, Pat Kai dan kawan-kawan, hidup berkelana setiap hari demi mendapat kitab suci, tak pernah berhenti bertindak sesuka hati. Jadi, ada banyak pilihan selain menikah.

Tapi, memutuskan tidak menikah bukan berarti memutuskan untuk jomblo juga. Gila apa, orang nggak butuh belaian seumur hidupnya? Afeksi itu kan salah satu kebutuhan pokok manusia. Untuk memenuhinya, orang bisa saja menjalin relasi sebagai sepasang kekasih tanpa perlu pengakuan dari negara dan pengesahan dari kerabat.

Menikah itu pilihan administratif. Menikah berarti bikin Kartu Keluarga (KK) baru, punya keluarga baru, menetap di satu domisili, peran sosial yang bertambah sebagai suami-istri, ayah-ibu, menantu, kakak ipar, om dan tante. Singkatnya, menikah itu more than love alias bukan hanya perkara bucin-bucinan. Bahkan, menikah bisa jadi strategi ekonomi dan upaya panjat kelas sosial belaka.

Artikel populer: Bucin atau Tidak, Hati-hati dengan ‘Gaslighting’

Sementara pacaran, bisa hanya sebatas love saja. Kegiatan saling mengasihi, bertukar gagasan dan fantasi, menertawakan hal yang sama tanpa mengorbankan ranah-ranah privasi, serta kompromi perihal yang pragmatis.

Tapi ya, tidak ada pilihan yang paling benar sih. Menikah atau tidak, punya konsekuensi dan bahagianya masing-masing. Karena peradaban kita telah jauh lebih maju dari era Perang Dunia dan penjajahan, buku-buku pengetahuan dan pemikiran pun bisa diakses begitu mudahnya, seharusnya kita bisa memahami kalau pilihan tidak menikah sama rasionalnya dengan pilihan untuk menikah.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini