Nadiem Makarim (Kemdikbud)

Nama Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kembali menjadi sorotan karena pidatonya. Beliau mengatakan bahwa gelar tidak menjamin kompetensi dan kelulusan bukan jaminan kesiapan berkarya. Wow. Sekilas inspiratif, tapi rentan disalahpahami.

Sebelumnya, pidato Nadiem pada Hari Guru  juga sempat viral. Dalam pidatonya, ia mengimbau untuk para guru: mengajak kelas berdiskusi, bukan hanya mendengar. Berikan kesempatan kepada murid untuk mengajar di kelas. Cetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas. Temukan suatu bakat dalam diri murid yang kurang percaya diri. Tawarkan bantuan kepada guru yang sedang mengalami kesulitan.

Dari poin-poin pidatonya yang penuh terobosan dan berpihak kepada kemajuan sistem pendidikan, Nadiem telah menunjukkan kelasnya. Tak hanya cocok sebagai Mendikbud, tetapi beliau punya kompetensi yang seharusnya dimiliki oleh guru BP/BK di setiap sekolah menengah.

Guru Bimbingan Penyuluhan/Konseling atau konselor pendidikan memang diperlukan di sekolah, selain guru mata pelajaran umum. Tugasnya adalah memastikan murid punya tempat mengadu dan berkeluh kesah tentang aktivitas belajarnya.

Baca juga: ‘Nge-roasting’ Menteri Pilihan Jokowi bak ‘Stand Up Comedy’

Sang guru BP melayani konsultasi para murid terkait bimbingan pribadi, sosial, belajar, dan karier. Namun, pada praktiknya, guru BP justru kerap jadi momok di sekolah. Lantaran sering memberi hukuman: baju seragam tidak dimasukkan, disuruh push up. Gondrong, dicukur asal-asalan. Rok kependekan, digunting.

Dalam kisah fiksi seperti film Dilan, guru BP bernama Suripto digambarkan sebagai antagonis karena menjadi penghalang saat Dilan menggoda Milea di lapangan upacara. Begitu juga pada sebuah utas di Twitter tentang seorang wisudawan yang mengaku pernah mendapatkan ucapan menyakitkan dari guru BK. Katanya, ia divonis oleh guru BK tidak bisa masuk perguruan tinggi negeri (PTN). Namun, ia membuktikan dirinya mampu menjadi apa yang ia impikan. Tak hanya masuk PTN, bahkan ia lulus dengan predikat cum laude.

Sebenarnya, pernyataan wisudawan terkait guru BK ini sempat jadi perdebatan. Apakah benar memang guru BK itu meremehkannya? Ataukah, beliau hanya memberikan peringatan kepadanya bahwa kalau tidak rajin belajar dan masih mempertahankan kenakalannya akan menyulitkannya ketika berniat masuk universitas impian. Jika demikian, berarti guru BK ini hanya menjalankan tugasnya untuk membimbing murid ke jalan yang lurus.

Baca juga: Pleidoi Mahasiswa untuk Dosen yang Tergila-gila dengan Etika saat ‘Chatting’

Namun, sampai utasnya viral dan dihapus, guru BK yang dimaksud di tweet itu tidak muncul untuk memberikan klarifikasi. Ya mungkin guru BK-nya tidak punya channel Youtube.

Menjadi guru, terutama guru BP, memang berat. Kamu nggak akan kuat, biar Suripto saja. Di tengah masyarakat yang sudah melek isu abusive relationship, guru tidak boleh bermain fisik ketika proses belajar dan mengajar. Jika pada zaman baby boomer, cubitan dan tamparan jadi hal yang wajar. Jangan lakukan hal yang sama kepada milenial, bisa-bisa viral.

Jangankan kekerasan fisik, kekerasan verbal pun bisa jadi bumerang untuk guru. Setelah utas tentang wisudawan cum laude yang diremehkan guru itu viral, bagai gerakan #MeToo, mulai bermunculan warganet-warganet yang mengaku sempat mendapatkan ucapan tak enak dari gurunya ketika sekolah. Sebagian besar dari mereka bisa menjadikan momen buruk itu sebagai titik balik untuk bangkit demi meraih kesuksesan duniawi. Namun, yang masih terpuruk juga pasti ada.

Baca juga: OK Boomer, Adaptasi ‘Harvest Moon’ ke Dunia Nyata untuk Selamatkan Anak Bangsa

Sosok yang ideal menjadi guru BP mungkin seperti Nadiem Makarim. Sebenarnya, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil juga cocok jadi guru BP. Dengan kebijakan menanam pohon ala Kang Emil, murid yang nakal bisa dihukum menanam pohon. Semakin banyak kenakalan remaja, semakin hijau bumi pertiwi. Namun, sebelum wacana Kang Emil menghijaukan Jawa Barat, Nadiem sudah lebih dulu menghijaukan jalanan kota-kota di seluruh Indonesia dengan jaket ojol.

Ketika ada murid yang mendapat nilai ujian jelek, Nadiem bisa membesarkan hati muridnya dengan berkata, “Nilai tidak menjamin kepintaran.” Ketika ada murid yang mengeluh tidak punya bakat apa-apa, Nadiem akan bantu mencarikan bakatnya sampai dapat. Dari mulai bakat di bidang kuliner, transportasi, otomotif, kurir, tukang pijat, cleaning service, laundry, perbaikan barang elektronik, obat-obatan, sampai jasa kecantikan.

Ketika ada murid yang menangis karena tidak lulus Ujian Nasional (UN), Nadiem bisa mengangkat beban muridnya itu dengan menghapus UN itu sendiri. Dengan begitu, anak sekolah bisa lebih santai menjadi kaum rebahan. Nggak perlu bimbel sampai sore, apalagi repot-repot mengerjakan soal prediksi UN. Biarlah detik-detik UN dan kepayahannya menjadi kenangan untuk generasi 90-an saja.

Artikel populer: Seumpama Nietzsche Hidup Lagi dan Jadi Dosen di Indonesia

Murid yang pesimis mungkin menganggap pernyataan Nadiem tentang “gelar bukan segalanya” sebagai seruan permisif untuk bermalas-malasan. Apalagi, Nadiem pernah mengatakan bahwa “masuk kelas tidak menjamin belajar”. Wah, anak STM bisa menjadikan kalimat Mendikbud itu sebagai landasan teori untuk hobi bolosnya. “Masuk kelas saja tidak menjamin belajar, mending nggak usah masuk kelas sekalian.”

Padahal, orang yang mengatakan itu adalah lulusan Harvard University. Tentu saja, maksudnya bukan berarti tidak usah kuliah, anjuran bolos sekolah, dan nggak perlu berusaha lulus. Justru sebaliknya, orang yang masuk kelas terus dan lulus kuliah di universitas ternama saja belum tentu bisa bersaing di dunia kerja atau usaha, bagaimana yang tidak?

Mungkin memang ada lulusan SMP bisa jadi menteri dan mahasiswa yang drop out bisa sukses sebagai pemilik perusahaan teknologi, tapi tidak semua orang punya privilese dan keberuntungan yang sama. Sama seperti orang yang mengatakan bahwa kekayaan bukanlah jaminan kebahagiaan. Nah, pastikan kamu memiliki kekayaan itu untuk menguji kebenaran teori tersebut. Hehehe.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini