Bagaimana Bisa Selamat dari Masalah Mental yang Hampir Membunuhku

Bagaimana Bisa Selamat dari Masalah Mental yang Hampir Membunuhku

Ilustrasi (Photo by Gabriel on Unsplash)

Pada suatu waktu di beberapa bulan terakhir, saya kembali masuk ke salah satu sarang ular, yang bernuansa mirip di mana pun mereka berada. Identik dengan warna putih, aroma klinis, dan nuansa steril yang kental di dalam tubuhnya.

Dari bagian administrasi, saya masuk ke kantor psikiater. Dia bilang, kali ini saya lebih tenang daripada sebelumnya. Kami bicara beberapa lama, lalu dokter kembali meresepkan obat. Lalu, saya pun pulang dari bangunan yang dekat dengan ular dan tongkat itu.

Tongkat Asklepius, yakni tongkat terlilit ular milik Asklepius, dewa kesehatan dan penyembuhan. Di era modern ini, bersama Tongkat Caduseus, simbol ini terus digunakan terkait dunia kesehatan dan pengobatan, semisal di bendera WHO, di universitas kedokteran, rumah sakit, klinik, dan sebagainya.

Simbol ini diwariskan dari zaman kuno, termasuk era para nabi. Ini juga dibahas dalam kitab suci, semisal dalam Al Quran, seperti di dalam QS Al-A’raf 107 dan 117, mengenai tongkat dan ular Nabi Musa.

Karena tubuh kita seperti tongkat yang dililit ular, baik satu maupun dua. Misalnya pada sistem saraf simpatetik dan parasimpatetik yang ‘melilit’ tulang belakang kita seperti ular melilit tongkat.

Di area fiksi, ini diwakili oleh Si Kembar dalam film The Matrix Reloaded (2003). Kembar identik berambut gimbal putih bagai serabut halus, pemilik kekuatan ‘intangibility’ (tak tersentuh), seperti sistem saraf otonom yang berfungsi secara bawah sadar dan ‘tak tersentuh’ manusia.

Kini, kita lihat aplikasinya di dunia nyata.

Dewasa ini, ada banyak manusia terkena masalah mental berat. Ini bisa terjadi tiba-tiba, bagai diserang ular raksasa, seperti nasib para korban serangan Basilisk di novel Harry Potter. Contoh nyatanya adalah Andrew Solomon, penulis buku The Noonday Demon, catatan depresinya, pengalamannya ‘diserang ular’.

Baca juga: Ketika Final Fantasy VIII Menyoal ‘Toxic Masculinity’ dan ‘Anxiety’

Seperti Andrew Solomon, saya juga tiba-tiba diserang ular halus, yakni ular depresi dan masalah mental. Sekitar dua tahun lalu, saya tiba-tiba disambar brutal oleh patukan ular raksasa yang menyerang keji dari kegelapan, seperti dijabarkan oleh Harlan Ellison dalam cerpennya, “Basilisk”.

Seperti tokoh Vernon Lestig di cerpen tersebut, setiap hari saya tersiksa brutal oleh siksaan di luar jangkauan kendali saya, secara kontinu dan jangka panjang. Saat tersiksa, saya selalu merasa, “Saya salah apa, dosa apa, sampai terus disiksa di dasar neraka ini?”

Rasa sakit luar biasa, bagai paku panas yang terus berdenyut di kepala. Bagai ada taring Basilisk menancap di dalam otak dan meneteskan bisa panas ke inti otak, api cair yang membakar saya hidup-hidup dari dalam, hari demi hari, tanpa henti.

Rasa sakitnya begitu luar biasa sehingga membuat saya lemah, impulsif, dan mudah marah, sehingga gampang tersinggung sekaligus mudah menyinggung orang sekitar saya. Ini sebabnya waktu itu interaksi saya dengan orang lain berkurang drastis, karena saya lemas sekaligus tidak ingin menyinggung mereka.

Seperti Vernon Lestig, saya telah digigit Basilisk, ular masalah mental. Dan seperti Lestig, saya tersiksa dan jatuh ke neraka. Di dasar neraka itu, bagai ada Voldemort berbisik di kepala saya, “Kau akan mati, kau akan mati…”

Setelah entah berapa lama, tertatih saya berdiri, lalu menatap wajah Voldemort. “Cukup sudah. Aku tidak ingin mati. Kau ular pembisik, penipu, dan pembunuh. Ini tubuhku, ini hatiku. Aku kapten di sini. Kau takkan pernah mengambilalihku,” demikian kata hati saya.

Baca juga: Bunuh Diri Bukan Cuma Perkara Iman, sebab Ada yang Bunuh Diri Atas Nama Iman

Setelah itu, saya pergi ke dokter demi dokter. Rumah sakit demi rumah sakit. Obat dan resep yang berganti, mencari yang efektif untuk kasus saya. Kegelisahan, insomnia kronis, saraf yang tidak bisa tenang alami, dan banyak lagi. Walau jalannya panjang dan berliku, akhirnya perlahan saya mulai membaik. Dokter dan obat telah menyelamatkan nyawa dan jiwa saya.

Berkat literasi kesehatan, kita sadar bahwa ini sama sekali bukan masalah dosa, kurang iman, atau kurang bersyukur. Ini adalah masalah medis dan batin kompleks yang penanganannya mesti teliti dan sabar.

Ada banyak yang bisa kita tanyai, semisal Jiemi Ardian, Andreas Kurniawan, Benny Prawira Siauw, Adjie Santosoputro, dan sebagainya.

Dalam cuitannya, dr. Jiemi Ardian menjelaskan kompleksitas faktor depresi yang ‘akar’ (penyebabnya) bisa dari mana-mana, dari sisi biologis, psikologis, dan sosial. Faktor-faktor tersebut meliputi struktur gen, faktor keturunan, stressor, trauma, pola asuh, proses pikir, mekanisme pertahanan emosional, support system, dan lain-lain.

Semua bisa kena, sama sekali bukan masalah iman atau kurang ibadah. Ibarat kanker, bisa menyerang siapa saja, termasuk mereka yang bagi kalangan awam terlihat kaya, terkenal, dan memiliki segalanya.

Ini terlihat dari bunuh dirinya Goo Hara, Sulli, Anthony Bourdain, Chris Cornell, dan Chester Bennington. Bahkan Eyang Habibie kesayangan kita semua juga sempat depresi setelah meninggalnya Bu Ainun. Alhamdulillah, waktu itu beliau didampingi tim dokter dan orang-orang terdekat, sehingga berhasil melalui masa tersebut.

Eyang Habibie didampingi tim dokter yang tidak menstigma beliau. Namun, bagaimana dengan rakyat biasa seperti kita? Masih rentan ditombaki stigma salah kaprah.

Baca juga: Benang Merah Kematian Goo Hara, Sulli, dan Perempuan di Negeri Ini

Stigma dan miskonsepsi itu memperparah masalah, memperpanjang penderitaan pasien, dan menzalimi ribuan orang. Mereka terbakar hidup-hidup dari dalam, disiksa sakit, kehampaan dan ketidakbermaknaan hidup, muncul perasaan ingin bunuh diri bukan karena ingin mati, melainkan ingin melepaskan diri dari siksa sakit dan nihilisme tak terhingga.

Contoh sangat baik dari ilustrasi penderitaan tidak terlihat serta sulit dipahami dan diekspresikan ini dijabarkan di cerpen The Depressed Person oleh David Foster Wallace, yang juga meninggal bunuh diri.

Belum lagi masalah teknis untuk diagnosis dan perawatan. Seperti dijabarkan dalam artikel “Mahalnya Biaya Melawan Depresi dan Menjaga Kesehatan Mental di Indonesia” di Vice, penanganan masalah mental juga terkendala mahalnya biaya, dan hanya tersedia 1 psikiater untuk setiap 300 ribu penderita masalah mental di Indonesia.

Pemerintah, pemuka agama, dan tokoh masyarakat wajib mencerahkan masyarakat serta mewujudkan pendanaan dan program penanganan masalah mental secara konkret dan terukur di wilayah masing-masing.

Pencerahan ini misalnya bisa dilakukan melalui seminar, kuliah umum, pengajian, khotbah, dan sebagainya. Termasuk di dalamnya langkah praktis semisal menghapus stigma, memeriksakan diri ke dokter, mengurus BPJS, dan lain-lain.

Jika masyarakat menderita masalah mental tanpa terdeteksi maupun diobati, bagaimana mungkin menjadi masyarakat madani yang kokoh? Itu mustahil.

Program konkret penanganan masalah mental itu adalah hak mereka yang butuh pertolongan, bagaikan menolong anak yatim yang lemah dan sendirian, seperti dalam QS An-Nisa ayat 2. Sungguh, mengabaikan hak mereka adalah dosa.

Selain itu, mental yang sehat, stabil, dan teguh adalah salah satu fondasi kebaikan, keimanan, dan kecemerlangan hati bagi si manusia, sehingga bisa membawa ‘cahaya’ bagi sekitarnya. Ini dilukiskan misalnya dalam QS Al-A’raf ayat 107, 108, dan 121.

Artikel populer: Film ‘Kim Ji-young’ Indonesia Banget, Laki-laki Berani Nonton Nggak?

Ini juga diwakili oleh sosok Prudentia, yang membawa ular dan cermin. Cermin di sini maksudnya adalah, ketika ‘ular’ di tubuh kita stabil dan kokoh, pikiran begitu jernih sehingga mampu merefleksikan rahasia realita, sehingga mendapat kebijaksanaan dan pengetahuan praktis seperti milik Hermes, pembawa pesan para dewa.

Apakah kita ingin kehilangan calon-calon Habibie masa depan?

Jika ada yang dipatuk ular masalah mental, perlu kita bawa ke rumah sakit dan dokter, bukan disiram air doa, karena itu seratus persen tidak nyambung.

Lalu, wajib diingat bahwa tiap orang itu kasusnya berbeda-beda. Maka jangan self-diagnosis, melainkan wajib memeriksakan diri ke dokter ahlinya. Ini sangat penting.

Demi penyembuhan, kini saya mencoba makan makanan sehat dan mengurangi makanan kemasan dan minuman bersoda. Demi menjaga kesehatan mikrobiota perut dan meningkatkan kinerja aksis perut-otak saya.

Banyak jurnal dan dokter yang bisa jadi sumber mengenai topik-topik ini. Usus-usus pun bentuknya seperti ular yang bersarang di perut kita.

Ular hampir membunuh saya, namun ular pula yang menyelamatkan saya, seperti dalam ujaran Yesus kepada Nicodemus terkait ular Nabi Musa.

Kini, seperti Andrew Solomon, saya bisa kembali berfungsi dan berkarya, walau sempat digigit Basilisk. Seperti Andrew, saya juga berhasil selamat dari racun gigitan Basilisk. Semata-mata karena kami mendapat pertolongan…

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.