Bagaimana Anak Milenial Mengenang Eyang Habibie

Bagaimana Anak Milenial Mengenang Eyang Habibie

B.J. Habibie (Habibie Center)

Saya masih ingat betul tayangan di Televisi Republik Indonesia (TVRI) tahun 1995 yang menyiarkan secara langsung uji coba terbang pesawat N250. Saat itu, saya yang masih bocah sempat heran. Mengapa harus diuji coba, bahkan disiarkan di televisi? Bukankah sudah ada pesawat yang mampu tinggal landas, bahkan ukurannya lebih besar, yang juga bisa kita lihat di televisi, majalah, dan koran?

Lalu, ketika beranjak remaja, saya baru sadar ternyata pesawat tersebut adalah asli buatan anak bangsa, dan Prof B.J. Habibie adalah tokoh di balik itu. Pria yang tampak ‘unik’ ketika tampil di televisi dengan gaya bicaranya yang khas dan bersemangat itu adalah seorang jenius aeronautika yang diakui dunia.

Ada perasaan kagum terhadap bapak asal Parepare, Sulawesi Selatan tersebut. Bahkan, ketika guru di sekolah bertanya tentang apa cita-citamu kelak, yang ada di kepala ini hanya Habibie dan pesawat terbang.

Baca juga: Pemikiran Pram yang ‘Jleb’ Banget untuk Anak Muda Kekinian

Kemudian, spontan saya bilang, “Ingin menjadi astronot.” Rasanya ingin sekali ‘terbang’ melampaui cita-cita kebanyakan anak-anak lainnya yang rata-rata ingin menjadi dokter, tentara, dan guru. Kalau perlu, melompat lebih tinggi dari Eyang Habibie.

Tahun 2030, generasi muda yang sering disebut sebagai generasi milenial akan meledak jumlahnya menjadi 90-100 juta jiwa. Energi kaum muda ini tersebar di seluruh provinsi. Itu artinya, bakal terbuka sebuah daya ungkit dalam membangun daerahnya.

Jumlah generasi muda tersebut adalah ‘golden key’ sekaligus ‘gold generation’ bonus demografi. Ratusan juta anak muda akan bersaing dan berkontribusi lebih progresif dengan kreativitas, inovasi, gagasan, dan karya. Syaratnya hanya satu: “Berani terbang dengan mimpinya”.

Namun, kita tentu patut awas dengan gejolak resesi yang riaknya pelan-pelan mulai muncul ke permukaan. Faktor eksternal perang dagang antara negeri “Panda” dan “Paman Sam” sepertinya menjadi model ‘perang’ kekinian yang bisa berdampak ke mana-mana, termasuk negeri kita.

Baca juga: Muda Belum Tentu Kaya, Tua Habis Harta: Milenial

Belum lagi, pada tahun ini, tingkat pengangguran cukup tinggi di negara kita yang mencapai 6,82 juta jiwa. Bagai anomali, pengangguran tersebut justru banyak dijejali oleh generasi muda terdidik (diploma & sarjana) yang mendekati angka 900 ribu jiwa.

Generasi muda itu seharusnya produktif. Negara kita kurang dari 11 tahun lagi menuju puncak bonus demografi. Jika kondisi itu terus berlanjut, belum lagi ditambah faktor eksternal, bukan tidak mungkin kita justru terjerembab dalam jurang bencana demografi.

Tentu saja, kita tidak dapat menyalahkan keadaan dan berserah diri pada ‘bantuan’ asing seperti pada 1998, yang hingga hari ini masih menyisakan utang-utang. Jelas, itu bisa menghambat kegesitan negara dalam memenuhi amanat UUD 1945, yaitu memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Impian mulia tersebut bukanlah sekadar bersifat utopis, jika para policy maker berani mengambil rencana strategis untuk memajukan potensi sumber daya manusia (SDM) yang memiliki daya saing tangguh menghadapi gejolak perubahan zaman dengan mengadaptasi inovasi teknologi ke berbagai sektor.

Baca juga: Sering Dicap sebagai ‘Kutu Loncat’, Pekerja Milenial Sebenarnya Bisa Setia

Generasi muda kita sesungguhnya punya potensi untuk mengadaptasi perkembangan inovasi teknologi dengan lebih agility, karena akses infrastruktur sudah cukup baik dan sangat jauh berbeda pada era tahun 70-an hingga 90-an saat Habibie melaksanakan proses eksekusi impiannya.

Tinggal sekarang, bagaimana keberanian dan kreativitas generasi  muda menyiasatinya. Seperti yang disampaikan Thomas L Friedman melalui bukunya yang terkenal itu, The World Is Flat: A Brief History of the Twenty-First Century, bahwa dunia sekarang sudah semakin ‘datar’, karena memiliki kesempatan yang sama. Itu disebabkan oleh akses informasi digital, sehingga membentuk komunitas global yang mudah untuk saling berkolaborasi.

Habibie dan teorinya sudah membuktikan mimpinya terwujud bahkan mendapatkan pengakuan dunia. Tak main-main, Crack Progression Theory yang diciptakan Habibie masih dijadikan pedoman dalam pembuatan pesawat terbang di seluruh dunia hingga saat ini. Berkat temuan pentingnya itu, Habibie dijuluki Mr Crack.

Artikel populer: Dari Malala, Emma, Greta, Hingga ‘Egg Boy’: Kenapa Remaja Kita Tak Se-kritis Mereka?

Ya, Mr Crack, yang dulunya seorang bocah dari luar Pulau Jawa, yang saat remaja kehilangan sang ayah, mencoba keluar dan melintasi samudera guna menembus dunia. Jatuh, perih, dan kesal. Namun, sepertinya proses tak mengkhianati hasil.

Kemudian, dengan jiwa besar, ia kembali ke Tanah Air yang dicintainya. Mengemban tugas sebagai menteri, lalu wakil presiden dan puncaknya: presiden. Tugas lebih berat pun menanti, mengawal proses transisi demokrasi kala itu.

Kini, di atas sana, mungkin dia akan menunggu 100 juta generasi milenial pemberani untuk menggerakkan roda zaman. Kalau kata Soekarno bahwa ia hanya butuh 10 pemuda untuk mengguncang dunia, apalagi ini dengan 100 juta?

Audaces fortuna iuvat, keberuntungan memihak para pemberani.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.