Bacaan untuk Laki-laki yang Beli Pembalut

Bacaan untuk Laki-laki yang Beli Pembalut

Ilustrasi laki-laki (Photo by Ali Tareq on Unsplash)

Sore itu, di sebuah desa di Banten, seorang laki-laki kurus gondrong menghentikan laju sepeda motornya di parkiran minimarket. Ia masuk dengan rasa percaya diri yang tak tertanggungkan, untuk kemudian menjadi objek cemooh orang-orang yang menunggu giliran di meja kasir.

Alih-alih bertanya “Nggak sekalian pulsanya, Mas?” atau “Lima ratus rupiahnya untuk donasi, ya?” sebagaimana SOP yang diterapkan di minimarket tersebut, kasirnya malah bertanya, “Pembalutnya buat siapa, Mas?”

Spontan, pertanyaan itu memicu tawa beberapa orang. Entah di mana letak lucunya, tapi pria tadi merasa dipecundangi oleh dunia. Padahal sebelum itu, ia sudah percaya diri sejak dalam pikiran parkiran. Iya, pria itu adalah saya.

Memang tidak ada yang istimewa saat pria membeli pembalut. Itu seharusnya menjadi transaksi biasa-biasa saja, sama seperti membeli rokok atau kopi atau minyak kutus-kutus.

Tapi setelah mengemban tugas mulia dari ibunda sore itu, saya jadi paham bahwa membeli pembalut bukan perkara sepele di negeri ini. Ia beberapa tingkat lebih berat ketimbang mengajak bocah ke minimarket, bocah yang sering guling-guling dan menangis di depan meja kasir minta dibelikan kinderjoy – ini hanya berlaku bagi sobat misqueen.

Baca juga: Kamu Bercandanya Seksis dan Itu Nggak Ada Lucu-lucunya

Kejadian satu tahun silam itu masih saya ingat betul setiap detailnya, dan belakangan ini warganet di Twitter ramai membincangkan hal serupa; seorang pria dan pembalut. Pangkalnya adalah seorang yang mengunggah ulang konten Tiktok dan memberi caption sekaligus doa tampaknya – bahwa pria yang rela menahan malu untuk membeli pembalut sangat langka.

Ujungnya? Ya seperti biasa, perbincangan warganet lebih sering berpangkal tapi tak berujung seperti kisah cintamu, kemudian digantikan oleh perbincangan lain. Mantap memang arus informasi ini.

Sesuatu yang tampak sepele, semisal pria membeli pembalut, tetap saja dianggap rumit. Mengapa? Karena sebagian dari kita masih menganggap segala tanda dan simbol yang bertaut dengan perempuan sebagai objek lelucon – kalau bukan objek seks. Padahal, nggak ada lucu-lucunya.

Sebab itu, di tengah kepungan masyarakat patriarkal saat ini, pria yang membeli pembalut, semisal untuk pasangannya, bukanlah seorang pecundang yang bisa ditertawakan beramai-ramai.

Kita juga dapat mencermati itu dari tulisan berjudul “Sebut Saja Menstruasi, Kenapa Merasa Risih?” yang ditulis oleh kak Aura Asmaradana atau “Mulailah Menghadiahi Pasanganmu dengan Cawan Menstruasi” oleh mbak Dea Safira. Keduanya menggambarkan persoalan dengan apik, dan mereka adalah penulis favorit saya.

Baca juga: Wahai Pemuja Ilusi Maskulinitas, Apalah Artinya Penis kalau Isi Kepala Rapuh?

Atau, kita bisa melihat bagaimana Elone Kastratia merayakan Hari Perempuan Internasional pada 2015. Ia menjadikan pembalut sebagai medium penyampaian pesan kesetaraan, dengan menempelnya di sudut kota Karlsruhe, Jerman.

Selain heroik, propaganda semacam ini juga dapat mengirim pesan yang kuat. Coba tengok salah satu pesannya yang berbunyi, “Bayangkan jika pria jijik dengan pemerkosaan, seperti mereka jijik pada menstruasi.”

Sumber: gaiadergi.com

Di jagat digital, kampanye melepas stigma buruk pada menstruasi dan pembalut dapat kita lihat dalam tagar #PadManChallenge. Beberapa artis Bollywood kenamaan seperti Aamir Khan, Katrina Kaif, Madhuri Dixit, Deepika Padukone, Arjun Kapoor, dan lain-lain turut meramaikan kampanye ini.

Mereka, dengan percaya diri, berpose se-unyu mungkin dengan pembalut, dan masyarakat India berbondong-bondong ambil bagian. Hasilnya, di Instagram sebanyak 24 ribu sekian ratus unggahan terpampang yang dibubuhi #padmanchallenge.

Kampanye itu juga sekaligus promosi film Padman (2018) yang diadaptasi dari buku biografi berjudul The Legend of Lakshmi Prasad karya Twinkle Khanna. Percaya atau tidak, Padman adalah satu dari sekian banyak film India yang turut membuat saya mengepalkan tangan sembari berujar – meminjam judul buku Mahfud Ikhwan – “Aku dan film India melawan dunia”.

Baca juga: Laki-laki Nggak Usah Gengsi Minta Bantuan Perempuan, Begitu juga Sebaliknya

Dalam dunia nyata, Padman adalah Arunachalam Muruganantham, seorang pria yang merasa terpukul oleh praktik tradisional saat perempuan menghadapi menstruasi. Ia menciptakan mesin sederhana pembuat pembalut, yang kelak menyabet penghargaan Inovasi Teknologi Akar Rumput dari Yayasan Inovasi Nasional. Beberapa film yang mengangkat kisah hidupnya antara lain: Menstrual Man (2013), Phullu (2017), dan Period. End of Sentence (2018).

Film Padman sendiri berhasil menggambarkan secara detail bagaimana menstruasi di India adalah sesuatu yang tabu, baik melalui kode yang disamarkan maupun dialog yang tampak jenaka tetapi penuh ironi. Semisal, penutupan akses publik pada perempuan, mitos-mitos, dan rasa malu yang ditanggung akibat menstruasi dapat digambarkan dalam satu adegan yang komikal.

Coba perhatikan ucapan “Kami para perempuan lebih suka mati dengan penyakit ketimbang hidup menanggung malu” yang keluar dari mulut Gayatri (sang Istri, diperankan Radhika Apte) saat Lakshmi (suami, diperankan Akshay Kumar) memberikan pembalut yang ia rancang. Sebab, selama ini, istrinya hanya menggunakan kain rombeng dan kotor sebagai bebat darah.

Pada masa itu (2001) hanya sekitar 12% perempuan India yang aktif menggunakan pembalut. Mulai dari harga yang terlampau tinggi, nilai-nilai tradisional yang dianut, dan ajaran agama – dalam perspektif misoginis – turut membentangkan jarak antara perempuan dan akses terhadap hak kesehatan. Dan, untuk mengatasi itu, selama bertahun-tahun perempuan India dipasung dalam jerat alienasi.

Artikel populer: Lelaki Memasak di Dapur Itu B Aja

Lakshmi mendapat sederet kecaman dan cemooh, mulai dari komunitas terkecil seperti keluarga hingga anggapan gila dari tetangga dan ‘tetua desa’. Sampai kemudian, ia berpisah dengan Gayatri. Ia pergi dari desa asalnya menuju kota untuk mempelajari cara membuat pembalut yang benar agar istrinya terhindar dari penyakit.

Stop sampai di sini ceritanya, nggak mau spoiler akutu.

Sebagai titik klimaks sekaligus adegan terbaik dalam film ini adalah pidato Lakshmi saat ia memenuhi undangan dari PBB. Dengan kemampuan Bahasa Inggris yang kelewat acak-acakan, ia menolak penerjemah dan tampil percaya diri di hadapan delegasi.

Siapa Manusia Bulan pertama? Neil. Siapa Manusia Everest pertama? Tenzing.  Siapa Padman pertama? Lakshmikant Chauhan.” Tepuk tangan memenuhi ruangan.

Secara gamblang dalam pidato itu, Lakshmi hanya mendaulat diri sebagai Padman pertama, bukan satu-satunya. Lantas, maukah kita menjadi Padman di dunia kita? Jika tak sanggup membuat inovasi mentereng, paling minimal ya jangan malas, malu, atau risih ketika disuruh beli pembalut sama pasangan, Lur!

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.