Ayah Konghucu, Ibu Islam, Anak Memilih Katolik Meski Jadi Minoritas Itu Berat

Ayah Konghucu, Ibu Islam, Anak Memilih Katolik Meski Jadi Minoritas Itu Berat

Ilustrasi (Averie Woodard via Unsplash)

Belum lama tersiar kabar bahwa ada seorang pelukis, namanya Slamet Jumiarto, yang ditolak tinggal di Dusun Karet, Desa Pleret, Bantul, Yogyakarta. Alasannya karena agama mas Slamet ini berbeda dengan agama penduduk di dusun tersebut.

Setelah negosiasi, sempat sih, mas Slamet diperbolehkan untuk tinggal di situ, tapi selama 6 bulan saja. Enam bulan cyynnnn, bukan waktu yang lama lho. Kalau nanem pohon mangga belum sempat berbuah tuh. Kalau pacaran, diminta putus pas lagi sayang-sayangnya.

Saya pun mbatin, ”Yaelaaahhh, Jogja lageeeee.” Ya gimana, dalam beberapa tahun terakhir, Jogja kayaknya juara banget untuk kasus-kasus intoleransi. Maap ya, bukannya mau nuduh Jogja kita tercynta, tapi silakan cek deh.

Beberapa kasus intoleransi di sana nggak cuma menyangkut orang yang masih hidup, tapi juga orang yang sudah meninggal. Saya sedih lho melihat Jogja sekarang, masa orang yang sudah tiada juga tak luput dari arogansi? Segala nisan salib kayu di kompleks pemakaman RS Bethesda Yogyakarta dirusak. Mengapa?

Baca juga: Bagaimana Kalau Keluarga Kita Sendiri yang Intoleran?

Hambok kalau kelebihan energi gitu mending ikutan trash challenge daripada mengusik orang yang sudah rest in peace. Kayaknya masih banyak tuh tempat-tempat umum yang belum bersih. Cobalah melipir ke pasar-pasar tradisional atau pantai, nah kalian angkat semua sampahnya, jangan malah angkat nisan salib di pemakaman.

Gara-gara kasus intoleransi yang terjadi belakangan ini, saya jadi teringat perjalanan panjang saya sendiri dalam memilih agama. Saya sendiri beragama Katolik, tepatnya memutuskan menjadi seorang Katolik sejak SMU. Masa-masa dimana mulai mengenal yang namanya tanggung jawab. Gaya bet, hehehe.

Terlahir dari orangtua dengan agama yang berbeda-beda, membuat saya ingin tahu lebih jauh tentang agama. Apa sih agama? Apa perlu seseorang punya agama? Apa pentingnya agama dalam hidup kita? Apa iya, setiap anak harus punya agama yang sama dengan orangtuanya?

Baca juga: Saya Islam, Moderat, dan Toleran, Bukan Liberal

Ya piye, almarhum ayah dulu beragama Konghucu. Sedangkan ibu terbiasa sholat, karena beliau memang beragama Islam. Sejak awal, orangtua saya membebaskan anak-anaknya untuk beragama sesuai panggilan jiwa masing-masing. Anak-anak boleh saja agamanya beda dengan orangtua.

Lagipula, agama itu panggilan jiwa tho? Hak paling pribadi, privilese paling istimewa (sudah privilese, istimewa pula) yang dimiliki setiap manusia di muka bumi. Dengan catatan, bahwa nanti ada tanggung jawab akan hak dan kewajiban sebagai umat beragama, sebagai manusia yang memanusiakan orang lain, baik yang hidup maupun yang sudah tiada.

Proses menuju ketetapan hati dalam memilih agama terbilang cukup lama dibandingkan teman-teman. Ya iyalah, wong mereka sudah memeluk agama tertentu sejak dalam kandungan. Namun, saya bersyukur, pandangan bahwa agama adalah warisan orangtua gugur di keluarga kami. Bukankah sesuatu yang didasari panggilan jiwa akan terasa begitu ikhlas?

Baca juga: Aktivis HAM Itu Bernama Ibrahim, Bapak Tiga Agama: Islam, Nasrani, Yahudi

Hingga akhirnya, saya mengenal ajaran Kristus lewat jalan bernama Katolik. Awalnya lumayan ribet. Nggak cuma mesti rajin ke gereja setiap minggunya, tapi juga harus ikut proses katekisasi, katekumen alias sekolah minggu tanpa absen, dan itu ada tesnya tiga kali dalam satu tahun.

Kalau lolos tes tahap pertama, bisa melanjutkan katekumen, belajar lagi untuk tes tahap kedua. Kalau tahap kedua lolos, melanjutkan lagi hingga tes tahap ketiga. Kalau tahap ketiga lolos, baru deh menyiapkan acara baptis untuk menerima sakramen pembaptisan, ditahbiskan menjadi seorang Katolik.

Selama proses yang tes melulu itu, apa iya semua bisa lolos? Tentu tidak sayangku, banyak juga yang nggak lulus. Mereka bisa mengulangnya tahun depan. Atau, biasanya diarahkan ke agama awal sebelum memutuskan convert ke Katolik. Biar dibimbing ulang oleh pemuka agama yang lebih kompeten di agama yang sebelumnya ia anut.

Artikel populer: Dari ‘Kafir’ ke ‘Non-Muslim’ dan Ide Kesetaraan di Pesantren dan NU

Kelar cerita baptis, masih ada lagi lho, proses katekisasi untuk menerima sakramen Krisma atau penguatan iman untuk menjadi manusia Katolik yang dewasa. Ini menjadi syarat mutlak seorang Katolik yang akan melakukan penerimaan sakramen perkawinan.

Kalau belum menerima Krisma, ya nikahnya ditunda dulu ya sayangku, kecuali kalau kamu memang hanya akan menerima pemberkatan pernikahan saja. Nah lo, bingung nggak, apa bedanya antara penerimaan sakramen perkawinan dan pemberkatan perkawinan? Coba googling aja deh, siapa tahu nyasar. Hahahaha.

Intinya, kalau mau menikah secara Katolik, prosesnya memang nggak gampang. Apalagi kalau salah satu calon pernah menikah lalu bercerai, entah cerai mati maupun cerai hidup.

Dan, masih banyak lagi cyyynnn, nggak kelar-kelar nih.

Mungkin untuk urusan iman kelar, tapi mental? Terlebih, hidup sebagai minoritas di negeri kita tercynta ini. Dipanggil kafir, ditolak tinggal, ditolak nyari kos-kosan, sampai ditolak jasadnya setelah meninggal.

Menjadi minoritas itu berat cyyynnn, biar kami saja.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.