Attack on Titan. (Animelab/MAPPA)

Demam Attack on Titan resmi melanda dunia. Kalau Reza Arap sudah ikut-ikutan pakai jaket Scouting Legion dan teriak-teriak “Sasageyo”, itu artinya euforia dari tren ini sudah valid dan legit.

Dengan cerita yang tak biasa, manga Attack on Titan laku keras di pasaran. Konon, saking laris penjualan buku komiknya, sang pengarang jadi kaya raya dan akhirnya mampu naik haji. Sampai dipanggil “Pak Haji” oleh para penggemarnya. Belakangan diketahui kalau nama pengarangnya memang Hajime Isayama.

Kepopuleran Attack on Titan telah diafirmasi oleh Netflix dengan menayangkan musim terakhir dari anime tersebut. Membuat setiap pekannya dipenuhi dengan pembahasan di internet tentang alur cerita episode terbaru.

Selayang pandang tentang Attack on Titan. Awal ceritanya dibuka seperti film-film bertema disaster atau bencana. Umat manusia mengurung diri dalam tembok untuk melindungi mereka dari raksasa yang disebut Titan.

Singkat kata, umat manusia berada di ujung kepunahan karena satu per satu manusia dimangsa oleh Titan.

Namun, peradaban manusia beserta ilmu pengetahuannya telah mempelajari cara membasmi Titan. Diciptakanlah teknologi bernama 3D Manuver Gear yang membuat manusia bisa terbang seperti nyamuk di hadapan raksasa. Dengan alat tersebut, para pasukan militer bisa menaklukkan Titan dengan sekali tebasan pedang.

Baca juga: Serial Attack on Titan: Bagaimana Penguasa Mengubur Masa Lalu dan Memicu Siklus Kekerasan

Di tengah perang manusia melawan Titan, diketahui sebuah fakta yang mencengangkan. Bahwa para Titan dulunya manusia yang disuntikkan sebuah serum yang dapat mengubah manusia menjadi Titan. Itulah mengapa kemarin akun media sosial Kominfo sempat bikin klarifikasi bahwa suntik vaksin Covid-19 tidak membuat netizen berubah menjadi Titan.

Wow, selain doyan blokar-blokir, kini Kominfo mulai demen spoiler.

Seiring berjalannya alur cerita, angle konfliknya berubah menjadi manusia melawan manusia yang rebutan kekuatan Titan. Lalu, Titan vs Titan. Di situ, Titan tak lebih sebagai senjata biologis dalam perang antarnegara. Penggeraknya adalah sentimen ras Eldia dan ras Marley.

Yang tadinya anime bertema survival, berubah haluan menjadi tema politik seperti Game of Thrones. Bedanya, yang jadi rebutan bukan takhta, melainkan kekuatan Titan.

Baca juga: Nonton Drakor Kingdom tentang Politik di Tengah Wabah, Cocok Banget nih!

Keriuhan anime Attack on Titan ini menarik para akademisi untuk belajar tentang program studi masing-masing. Dengan menjadikan alur cerita Attack on Titan sebagai materi pembelajaran. Kalau netizen saja bisa belajar dari kehidupan seleb media sosial, sivitas akademika pun bisa belajar dari manga dan anime.

Kira-kira beginilah jika alur cerita Attack on Titan ditinjau dari beragam jurusan kuliah. (Awas, spoiler. Kalau tidak mau kena spoiler, silakan kuliah dan ambil jurusan yang diminati dulu. Setelah lulus, baru balik lagi ke sini).

Psikologi: Eren yang menjadi tokoh utama Attack on Titan sudah melewati lima fase depresi. Fase pertama penolakan. Ia menolak dikurung di tembok. Kedua, ia marah ketika ibunya dimakan Titan. Ketiga, ia menawarkan diri menjadi kadet dengan harapan dapat membasmi Titan. Keempat, ia depresi karena Titan sulit dikalahkan. Kelima, ia menerima kenyataan bahwa dirinya juga Titan.

Filsafat: Tembok yang mengurung manusia dari Titan adalah perumpamaan, yaitu manusia di kehidupan nyata yang terkurung dalam ketakutan karena ketidaktahuan akan kebenaran yang hakiki di luar tembok (formalitas).

Baca juga: Seumpama Nietzsche Hidup Lagi dan Jadi Dosen di Indonesia

Sejarah: Sebab sejarah ditulis oleh pemenang. Maka, penguasa punya kekuatan penuh untuk melakukan propaganda dengan menciptakan sejarah palsu yang menimbulkan kebencian semu di hati rakyat.

Ilmu Politik: Kekuatan yang besar bisa membuat seseorang menjadi korup/sangat merusak. Contohnya, Eren semula ingin memusnahkan semua Titan. Begitu menjadi Titan terkuat, malah ingin memusnahkan semua manusia. Sama seperti pendemo angkatan ’98, sedikit demi sedikit kini menjadi seperti sosok yang dulu mereka demo.

Teknik Sipil: Titan adalah bahan material terkuat untuk membuat tembok yang mampu bertahan selama ratusan tahun. Kelemahannya, bisa dirusak oleh Titan itu sendiri.

Tata Busana: Para Titan tidak pakai baju karena buta fesyen. Jadi, perlu diberikan pakaian seperti komik Attack on Titan di Malaysia yang kena sensor.

Hubungan Internasional: Di dunia nyata, ‘bule’ biasanya beda warna kulit. Di dunia anime Attack on Titan, ‘bule’-nya beda ukuran tubuh. Seandainya kondisi geopolitik sudah normal, mungkin warga Marley kalau ketemu ‘bule’ Titan dari bangsa Eldia, bakalan ngajak foto bareng.

Artikel populer: Suara-suara Sarjana yang Bekerja Tak Sesuai Jurusannya

Sastra Jepang: Bahasa Jepang sangat populer di semesta Attack on Titan atau AoT. Karakter bertampang Eropa seperti Erwin Smith dan Reiner Braun saja sangat fasih berbahasa Jepang.

Pendidikan Bahasa Inggris: Mungkin karena mereka… ndak bisa basa Enggres.

Pemasaran: Produk yang paling laku adalah ketakutan yang dipromosikan oleh negara. Namun, semua menjadi terkesan wajar dalam upaya kejar target.

Sumber Daya Manusia (HR): Tembok yang mengurung manusia dari bahaya Titan ibarat zona nyaman berbentuk korporasi. Manusia takut keluar dari perusahaan (resign) karena diteror bayang-bayang besar menjadi pengangguran di luar sana.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini