Atta Halilintar Masuk Soal Ujian Anak SD? Ashiaaap!

Atta Halilintar Masuk Soal Ujian Anak SD? Ashiaaap!

Atta Halilintar (Instagram)

Atta Halilintar, Raja Youtube Indonesia kini mencatatkan namanya sebagai Raja Youtube Asean. Gelar ini disematkan padanya setelah jumlah subscriber mencapai angka 11 juta. Rekor ini tercatat sebagai subscriber terbanyak untuk kawasan Asia Tenggara.

Atta Halilintar pemilik jargon “Aysiaaaaap” ini rajin membuat konten video kreatif tentang kehidupan sehari-hari, eksperimen sosial, prank, musik, grebek rumah artis hingga kolaborasi dengan artis atau youtuber lain. Melalui Social Blade diketahui pendapatan Atta Halilintar yang bersumber dari youtube sekitar Rp 579 juta hingga Rp 9 miliar per bulan. (Sumber: Celebesmedia. ID)

Narasi di atas menjadi pembuka Ulangan Kenaikan Kelas (UKK) Tahun Pelajaran 2018-2019 untuk pelajaran Bahasa Indonesia kelas V Sekolah Dasar (SD) di Serang, Banten.

Ada 6 soal yang terkait dengan teks bacaan tersebut. Seluruh jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu secara terang benderang ada dalam teks, setidaknya pada 5 soal pertama.

Soal UKK ini kemudian mengundang komentar dari banyak pihak. Akademisi, anggota dewan, artis, sampai netijen maha benar mengumbar pendapatnya di berbagai platform. Termasuk saya, ding, melalui Voxpop. Heuheu.

Pihak yang kontra – sayangnya – adalah pemangku kepentingan. Dari berbagai media online, pernyataan Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Serang, Wasis Dewanto, menjadi salah satu yang cukup trending.

Poin pernyataannya adalah pihak sekolah yang membuat soal, tanpa supervisi dari Dindik. Ia menyayangkan adanya soal tersebut, karena semestinya menonjolkan tentang ke-Indonesiaan atau tokoh nasional, serta – yang menurut saya cukup menggelikan – sekolah dan guru yang membuat soal akan diberi pembinaan.

Baca juga: Mari Buktikan Siapa Sebetulnya yang Menang, TV atau YouTube?

Komentar-komentar lain dari orang-orang penting juga senada. Ada yang bilang bahwa seharusnya soal ujian lebih mengarah pada pertanyaan yang bersifat menumbuhkembangkan rasa nasionalisme atau nilai-nilai religius keberagaman di Indonesia.

Ada pula yang ngomong bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang penduduknya bisa menghargai dan melaksanakan nilai luhur sejarahnya. Sementara, yang lain bilang bahwa konten Atta lepas dari keseharian orang-orang di Kota Serang.

Tapi rasanya, secara konsep tidak ada yang salah dengan 6 soal yang muncul dalam ujian Bahasa Indonesia tersebut. Kalaupun ada yang salah, seharusnya lebih pada teks yang dikutip, terutama kesalahan dalam tata tulis seperti penempatan tanda koma maupun beberapa kata yang seharusnya ditulis miring.

Kesalahan itu cukup mengganggu, karena ini mata ujian Bahasa Indonesia yang seharusnya sangat tertib ejaan.

Lagipula, masa sih harus selalu dibebani dengan nasionalisme, nilai-nilai religius, nilai luhur sejarah, hingga keseharian di sebuah kota? Mestinya tidak. Nanti ketuker dong antara ujian Bahasa Indonesia dan Pendidikan Kewarganegaraan. Kalaupun iya, jangan-jangan nanti soal cerita dalam ujian Matematika juga harus nasionalis, religius, dan bla bla bla.

Terus, kalau bawa-bawa nasionalisme tapi yang menjadi subjek narasi adalah tokoh-tokoh yang jalur pergerakannya agak ke kiri, ya bakal jadi masalah lagi. Bikin yang ada nilai sejarah, eh ternyata peristiwanya kalau diperdalam lagi bisa diperdebatkan kebenarannya. Kan repot benar ini jadinya.

Baca juga: Nasionalisme yang Bukan Kaleng-kaleng

Saya berulang kali ikut ujian yang modelnya pertanyaan-pertanyaan melalui teks, dari mulai SD, SMP, SMA, tes masuk universitas, tes CPNS – ini berkali-kali gagal pula –, tes TOEFL, hingga terakhir ujian seleksi masuk S2. Rasanya tidak sedikit pun pernah membahas konten dari teks bacaan begitu keluar ruang ujian. Mending bahas jawabannya, dan itu pun saya tidak terlalu suka. Sebab, kalau tahu jawabannya salah, linu hati ini.

Terlebih, dengan jumlah soal yang puluhan, fokus siswa juga sudah terbagi. Bagi yang tidak mengenal Atta Halilintar, rasanya juga nggak akan serta merta mencari tahu soal anak sulung Gen Halilintar itu begitu keluar dari ruang ujian. Bisa saja yang diingat adalah soal pada bacaan lain, misalnya tentang Malin Kundang pada rangkaian soal berikutnya. Tapi seringnya seluruh soal dilupakan semua, ding.

Tampaknya, guru pembuat soal mencoba menghilangkan gap dengan siswa peserta ujian. Agak betul ketika disebut tidak semua orang tahu Atta Halilintar. Namun, bisa diyakini bahwa banyak anak SD tahu Atta.

Apalagi, di era ‘hidup tak seindah feed Instagram’ saat ini, tinggal pencet gambar kaca pembesar, kita bisa bersua konten-konten yang bahkan tidak kita ketahui sebelumnya. Hanya karena orang yang kita follow melakukan action pada konten tersebut.

Baca juga: Menjadi ‘YouTubers’ yang Dihujat Netizen, tapi Dikagumi Presiden

Dan, jangan salah paham dengan anak SD zaman sekarang. Kemarin, ketika kondangan teman kantor, saya mendapati anak tunggal dari seorang atasan menayangkan prosesi masuk pengantin secara live di IG-nya. Ya, bikin live untuk pernikahan orang yang bahkan dia tidak kenal, karena itu sekadar teman bapaknya. Sudah begitu, yang join banyak pula dan beragam komentar tang-ting-tung masuk tanpa henti.

Apakah para pemangku kepentingan yang urun komentar tadi sudah memahami gap generasi dan mencermati upaya guru pembuat soal dalam meminimalkan gap itu, alih-alih hanya mencerca kinerjanya?

Sekarang ini, anak TK saja punya channel YouTube, sebagian besar isinya unboxing atau review mainan terbaru. Beberapa waktu silam, keponakan saya datang ke rumah sembari berlari hanya untuk minta tolong dibuatkan video YouTube dia lagi nge-dance dengan latar belakang musik dari salah satu video youtuber kondang, DanTDM. Video itu kemudian disebarkan ke teman-temannya untuk di-like dan share.

Seorang teman yang berprofesi sebagai guru SMP juga berkisah bahwa tidak sedikit murid-muridnya yang mulai bercita-cita menjadi youtuber, alih-alih dokter, pilot, apalagi PNS.

Komentar yang muncul di media sosial sejatinya terpecah dua. Pertama, para pemangku kepentingan yang hanya tahu bahwa Atta adalah youtuber dan youtuber adalah jelek. Kedua, netijen yang nggak suka dengan konten-konten Atta.

Artikel populer: Tanda-tanda Mulai Bosan dengan Instagram dan Alasan Mengapa Tetap Bertahan

Jadi, sebaiknya lain kali muncul guru lain membuat teks bacaan tentang Ria Ricis, Vincent Raditya, Kevin Anggara, hingga Irvan Kartawiria. Setidaknya, keresahan netijen maha benar di linimasa bisa terakomodasi dengan bervariasinya youtuber yang dikenalkan oleh guru-guru melalui soal ujian.

Banyak pemimpin modern di berbagai institusi masa kini yang mengetahui betul adanya gap antar generasi dan mencoba menciptakan jembatan dengan menggandeng orang-orang yang paham kondisi. Dengan begitu, tujuan organisasi suatu institusi bisa tetap tercapai dengan jangkauan audiens yang luas.

Lha, ini ada guru yang mencoba hal baru malah mau ‘dibina’ dan bukannya digandeng untuk dikembangkan potensinya?

Bahkan, kalau dilihat secara jeli, guru pembuat soal menyelipkan pesan melalui pertanyaan ‘Tanggapan yang tepat berdasarkan teks bacaan tersebut adalah’, yang pilihan jawabannya cukup menyentil kelakuan anak SD kekinian. Misalnya pada pilihan C: kesuksesan bisa diraih dengan modal menonton youtube dan D: kesuksesan bisa diraih dengan rajin menonton video.

Sang guru sebetulnya sedang mengarahkan siswa untuk sampai pada pilihan A: kesuksesan bisa diraih dengan modal kreatif. Dan, nilai-nilai yang diharapkan oleh para komentator sudah ada dalam soal ini. Dengan demikian, malah bisa ketahuan bahwa sejumlah siswa yang menjawab A telah memiliki kesadaran bahwa YouTube-an doang nggak akan bikin maju, namun kreativitas adalah jalannya.

Pola pikir semulia itu saja masih disalahkan, boleh jadi karena memang kemampuan kita hanya bisa mencari kesalahan orang lain. Bukan menciptakan solusi.

Ashiaaap!

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.