Ateis Tidak Serasional seperti Dugaan Banyak Orang

Ateis Tidak Serasional seperti Dugaan Banyak Orang

Ilustrasi (Tookapic via Pixabay)

Lois Lee, Senior Research Fellow, Department of Religious Studies, University of Kent

***

Banyak orang ateis berpikir kepercayaan yang mereka anut adalah hasil dari pemikiran rasional. Mereka menggunakan argumen seperti “Saya tidak percaya pada Tuhan, saya percaya pada sains” untuk menjelaskan bahwa bukti dan logika mendasari pemikiran mereka daripada keyakinan supranatural dan dogma.

Tapi hanya karena percaya pada penelitian ilmiah berbasis bukti – yang tunduk pada pemeriksaan dan prosedur yang ketat – tidak berarti pikiran Anda bekerja dengan cara yang sama.

Ketika Anda bertanya kepada ateis mengapa mereka menjadi ateis, mereka sering menceritakan momen eureka ketika mereka menyadari bahwa agama tidak masuk akal.

Anehnya, mungkin banyak orang beragama benar-benar mengambil sebuah pandangan serupa tentang ateisme. Hal ini muncul ketika para teolog dan para penganut agama lainnya berspekulasi bahwa para ateis pasti sekelompok orang yang menyedihkan, yang tidak mendapatkan kepuasan filosofis, etis, mitos, dan estetis yang dimiliki oleh orang-orang religius – terjebak dalam dunia rasionalitas yang dingin.

Sains ateisme

Tapi pada kenyataannya, sains semakin menunjukkan bahwa para ateis tidak lebih rasional daripada teis. Sesungguhnya, ateis sama rentannya dengan siapapun untuk masuk ke dalam ‘pikiran kelompok atau group think’ bentuk-bentuk kognisi non-rasional lainnya.

Misalnya, orang-orang religius dan non-religius mengikuti orang-orang karismatik tanpa mempertanyakannya. Pikiran kita sering lebih memilih perasaan benar ketimbang kebenaran itu sendiri, sebagaimana psikolog sosial Jonathan Haidt telah jelajahi.

Baca juga: Kaum Sekuler dan Ateis yang Hidup di Indonesia

Bahkan keyakinan ateis sendiri sedikit hubungannya dengan rasionalitas. Kita sekarang tahu, misalnya, anak-anak non-religius dari orang tua religius melepaskan keyakinan mereka untuk alasan yang tidak ada hubungannya dengan pemikiran intelektual.

Penelitian kognitif terbaru menunjukkan bahwa faktor yang menentukan adalah belajar dari apa yang orang tua lakukan daripada apa yang mereka katakan.

Jadi, jika orang tua mengatakan bahwa mereka orang Kristen, tapi mereka telah jauh dari kebiasaan – seperti berdoa atau pergi ke gereja – anak-anak mereka sama sekali tidak percaya bahwa agama masuk akal.

Hal itu sangat rasional, tapi anak-anak tidak memproses hal tersebut pada tingkat kognitif. Sepanjang sejarah evolusi kita, manusia sering kekurangan waktu untuk meneliti dan menimbang bukti – yang diperlukan membuat penilaian cepat.

Itu berarti bahwa anak-anak sampai batas tertentu hanya menyerap informasi penting, yang dalam hal ini keyakinan agama tidak tampak penting seperti yang dikatakan orang tua.

Bahkan anak-anak yang lebih tua dan remaja yang benar-benar merenungkan topik agama mungkin tidak berpikir secara independen seperti yang mereka pikirkan.

Penelitian yang sedang berkembang di Inggris menunjukkan bahwa orang tua ateis (dan lainnya) menyampaikan keyakinan mereka kepada anak-anaknya dengan cara yang sama, seperti dilakukan oleh orang tua yang religius – melalui budaya dan argumen.

Baca juga: Anak Muda Amerika Menolak Kapitalisme, tapi Tak Yakin dengan Sosialisme, lalu Apa Penggantinya?

Beberapa orang tua berpandangan bahwa anak-anak mereka harus memilih kepercayaan mereka untuk diri mereka sendiri. Tapi, yang mereka lakukan adalah menyampaikan cara berpikir tertentu tentang agama, seperti gagasan bahwa agama adalah masalah pilihan daripada kebenaran Ilahi.

Tidak mengherankan bahwa hampir semua anak-anak di Inggris, sekitar 95%, akhirnya ‘memilih’ untuk menjadi ateis.

Sains versus keyakinan

Tapi apakah ateis lebih cenderung berpegangan pada sains ketimbang orang-orang religius?

Banyak sistem kepercayaan yang sedikit banyak cocok dengan pengetahuan ilmiah. Beberapa sistem kepercayaan sangat kritis terhadap sains dan menganggapnya terlalu banyak mempengaruhi kehidupan. Sementara, sistem kepercayaan lain sangat peduli untuk mempelajari dan menanggapi pengetahuan ilmiah.

Tapi, perbedaan ini tidak memetakan dengan rapi apakah Anda religius atau tidak. Beberapa tradisi Protestan, misalnya, melihat rasionalitas atau pemikiran ilmiah sebagai pusat kehidupan religius mereka.

Di sisi lain, generasi baru ateis postmodern menyoroti batas-batas pengetahuan manusia dan melihat ilmu pengetahuan sebagai sangat terbatas, bahkan bermasalah, terutama ketika masuk ke pertanyaan eksistensial dan etis.

Para ateis ini, mungkin mengikuti pemikir seperti Charles Baudelaire yang berpandangan bahwa pengetahuan sejati hanya ditemukan dalam ekspresi artistik.

Banyak ateis suka menganggap diri mereka sebagai pro-sains, sementara sains dan teknologi itu sendiri kadang-kadang bisa menjadi dasar pemikiran agama atau keyakinan.

Misalnya, munculnya gerakan trans-humanis yang berpusat pada keyakinan bahwa manusia dapat dan harus melampaui keadaan alami dan keterbatasan mereka saat ini melalui penggunaan teknologi. Itu adalah contoh bagaimana inovasi teknologi mendorong munculnya gerakan baru yang memiliki banyak kesamaan dengan religiusitas.

Artikel populer: Punk Tak Lagi Berideologi Kiri, Sebagian Menjadi Islami

Bahkan bagi orang-orang ateis yang skeptis terhadap trans-humanisme, peran sains tak hanya soal rasionalitas – sains dapat memberikan pemenuhan filosofis, etis, mitos, dan estetika yang disediakan agama bagi pemeluknya.

Ilmu pengetahuan tentang dunia biologis, misalnya, jauh lebih dari sekadar topik keingintahuan intelektual bagi sebagian ateis. Itu memberikan makna dan kenyamanan yang sama dengan kepercayaan pada Tuhan yang memberi makna bagi penganutnya.

Para psikolog menunjukkan bahwa kepercayaan dalam sains meningkat dalam menghadapi stres dan kecemasan eksistensial, seperti halnya keyakinan agama yang semakin intensif bagi penganutnya dalam situasi-situasi seperti itu.

Jelas, gagasan bahwa menjadi ateis disebabkan alasan rasional saja mulai terlihat irasional.

Kabar baiknya adalah rasionalitas itu terlalu dilebih-lebihkan. Kecerdasan manusia lebih banyak bersandar pada pemikiran rasional. Seperti yang dikatakan Haidt tentang ‘pikiran lurus’, kita sebenarnya ‘dirancang’ untuk melakukan ‘moralitas’ – bahkan jika kita tidak melakukannya dengan cara rasional seperti yang kita pikirkan.

Kemampuan untuk membuat keputusan cepat, mengikuti hasrat kita dan bertindak berdasarkan intuisi juga merupakan kualitas manusia yang penting dan penting untuk kesuksesan.

Untung manusia telah menemukan sains, sesuatu yang tidak seperti pikiran kita, rasional dan berdasarkan bukti. Ketika kita membutuhkan bukti yang tepat, sains dapat menyediakannya – selama topik tersebut dapat diuji.

Yang terpenting, bukti ilmiah cenderung tidak mendukung pandangan bahwa ateisme tentang pemikiran rasional dan teisme tentang pemenuhan eksistensial.

Kenyataannya manusia tidak seperti sains. Tidak satupun dari kita yang tidak pernah tidak rasional, ataupun tidak memiliki sumber makna eksistensial dan kenyamanan.

Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca sumber artikel.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.