Asyiknya Punya Privilese, tapi Disenggol Sedikit kok Ngegas?

Asyiknya Punya Privilese, tapi Disenggol Sedikit kok Ngegas?

Ilustrasi (Image by mohamed Hassan from Pixabay)

Parasnya lugu, gaya bicaranya penuh percaya diri, ditambah dengan pernyataannya yang mampu menghasilkan US$ 1.000 dalam satu hari tanpa keluar rumah, penganggur mana yang tidak terkesima?! Sudah pasti mas-mas di iklan “jutaan orang bahkan tidak menyadari” yang viral itu jadi idola banyak orang yang ingin kaya mendadak.

Lucu, memang. Senggol sedikit soal kekayaan, antusias kemudian.

Keinginan untuk cepat kaya dengan cara sederhana tanpa perlu banyak tenaga itu seolah menunjukkan betapa persoalan kelas sosial yang tak ada habisnya. Kalau nggak percaya coba deh perhatiin gimana perbincangan di media sosial akhir-akhir ini, yang mulai cukup meresahkan, menggemaskan, dan sesekali bikin bulu kaki bergedik.

Bagaimana tidak, terlihat sekali perdebatan antar kelas berlangsung dengan sengit. Mulai dari perbincangan BPJS yang bikin kaum libertarian paternalism menyerang bahwa tidak sepakat dengan kenaikan iuran BPJS dan sistem kelasnya, sambil cocoklogi kalau itu produk kaum komunis-sosialis Kuba. Wiihhh…

Baca juga: Cek Seberapa Borjuis atau Proletarnya Kamu setelah Nonton Parasite

Terus, ada lagi diskusi yang geger gegara berlanjut ke narasi “orang kaya selalu salah” dan “kenapa sih suka banget balapan miskin?”. Intinya, banyak banget netijen yang punya privilese merasa terluka dan terintimidasi ketika membahas narasi tentang keistimewaan tersebut.

Padahal, yang terluka sebetulnya bukan cuma datang dari kelas privilese pipel loh, tapi juga datang dari kaum yang berliur waktu menyaksikan iklan cara cepat menjadi kaya sambil rebahan, kaum yang harus menahan sabar kalau doi lebih memilih yang lebih mapan daripada pengangguran.

Penderitaan para penganggur semakin paripurna ketika tak sengaja membaca akun-akun pendidikan finansial yang mengunggah testimoni para fresh graduate dengan gaji double digit, ditambah penambahan aset ratusan juta rupiah kurang dari setahun. Itu belum termasuk tabungan untuk holiday ke luar negeri empat kali dalam setahun.

Bagi kalian semua yang menganggap kelas hanya persoalan malas dan rajin, berusaha dan tidak berusaha, kaya dan miskin, sebaiknya cuci muka dulu dan coba melihat realitasnya. Persoalan kelas nggak cuma berkutat di wilayah sempit asumsi dan bias pribadi individu.

Baca juga: Selamat Datang! Barisan Pelamar Kerja yang Tak Punya Akses dan Peluang

Persoalan kelas merupakan persoalan ketimpangan distribusi akses yang terlampau akut. Baru-baru ini, SMERU Research Institute mengeluarkan sebuah publikasi yang luar biasa mencerahkan. Publikasi ini menjawab stigma pemalas yang dilekatkan bertahun-tahun pada kelas menengah ke bawah.

Lembaga independen yang meneliti dan mengkaji kebijakan publik itu merilis hasil penelitian berjudul “Effect of Growing Up Poor on Labor Market Outcomes: Evidence from Indonesia”. Penelitian tersebut mengungkapkan, anak-anak berusia 8-17 tahun melalui hidup dalam kemiskinan, ternyata tumbuh dewasa dan memperoleh pendapatan 87% lebih rendah dari mereka yang kecilnya tidak miskin.

Kesimpulan ini didapat lewat penelitian longitudinal terhadap 22.000 orang dari 7.224 keluarga pada tahun 1993, 2000, 2007, dan 2014.

Para subjek penelitian ini berasal dari 13 provinsi dan mewakili 83% populasi Indonesia. Para peneliti mencatat mereka yang berusia 8-17 pada 2000 dan 2007. Dan ternyata, temuan ini mirip dengan berbagai temuan di negara lain.

Baca juga: Selain Cinta Bertepuk Sebelah Tangan, Kerja Bertepuk Sebelah ‘Passion’ adalah Kesengsaraan

Dalam narasi yang muncul di media sosial, banyak sekali kaum berprivilese yang menolak fakta ketimpangan tersebut. Narasi yang muncul seperti “ya wajar orang miskin menganggap pendidikan tidak penting” hingga narasi “terus kalau faktanya begitu, lantas salah orang kaya?”. Lah, kok jadi ngegas?!

Tentu saja, kita tak boleh cepat-cepat mengarahkan kecurigaan, sebab membongkar ketimpangan bukanlah upaya untuk mendiskreditkan si kaya. Tapi, dengan melihat fakta kecilnya peluang, justru jadi upaya yang bagus untuk merobohkan tembok bias pribadi yang menghalau kita untuk mencapai kesejahteraan yang sama.

Dalam masyarakat majemuk, perbedaan yang signifikan memang wajar terjadi. Satu keistimewaan yang lain merupakan bentuk opresi pada kelas yang lainnya. Seperti yang sering saya sebutkan, ketimpangan adalah akar utama kemiskinan. Keterbatasan akses membuat mereka yang terlahir miskin tak akan punya ruang untuk melakukan lompatan kelas.

Wajar saja ujaran atas kebencian meningkat, dan nyinyiran terhadap kelompok yang lebih kaya akan terus ada dan berlipat ganda. Sebagaimana kelompok kaya akan terus merasa terluka, jika privilesenya diungkit-ungkit. Sebab, ketimpangan itu benar-benar nyata.

Artikel populer: Makna Lain di Balik Seleksi CPNS, Jutaan Orang bahkan Tidak Menyadari

Namun, kita masih bisa berusaha, karena membongkar ketimpangan memang harus dimulai dengan membongkar privilese pribadi. Sering kali saya berpikir, apa jadinya saya tanpa beasiswa? Tentu tak akan mampu menempuh wisuda dua kali dan semata jadi orang miskin tak berpendidikan.

Tanpa kesempatan yang terbuka, harus diakui bahwa kita akan bernasib sama dengan para subjek dari SMERU Research Institute yang tentu sangat liyan di mata sebagian orang.

Bagi mereka yang punya privilese, rekeningnya bisa jadi tak kenal surut, peluang menjadi kaya terhampar luas, bayang-bayang tak bisa makan sirna, dan tentunya merasa mudah mendapatkan cinta, uhukk. Sementara itu, usaha-usaha kaum proletar tak pernah berdiri sendiri, kesempatan yang ada begitu terbatas dan memilih yang beruntung.

Tantangannya adalah, maukah kita berbagi kesempatan kepada mereka yang dianggap pemalas? Maukah berbagi ruang pada semua yang kita anggap hanya tukang mengeluh?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.