Asian Games dan Hal-hal yang Belum Selesai

Asian Games dan Hal-hal yang Belum Selesai

Maskot Asian Games 2018 (Foto: dok. Asian Games 2018)

Sebelumnya, saya selalu berpikir bahwa sebagian besar orang di Jakarta dan sekitarnya, paling tidak, sudah tahu apa itu Asian Games. Maksudnya ini ibukota dan hampir sebagian besar penghuninya adalah orang-orang yang mempunyai akses terdepan terhadap semua informasi baik dari pemerintah maupun media.

Dan, untuk gelaran akbar yang mengundang banyak negara dari segala penjuru Benua Asia, Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang, masih mengundang banyak tanya bagi orang awam.

Pada suatu obrolan saat tengah diantar pengemudi ojek online, saya terkesiap ketika dia bertanya kenapa tidak ada Australia di daftar timnas sepak bola yang akan bertanding melawan Indonesia dan negara-negara lainnya di Asian Games 2018?

Itu pertanyaan sederhana, namun yang sederhana begini yang acapkali cukup kompleks untuk dijelaskan. Saya pribadi cukup kesulitan menjelaskan hal ini tanpa terlihat sok tahu, menggurui, atau merendahkan pengetahuan orang lain.

Tapi yang paling pelik, agar lebih informatif, perlu dijelaskan terlebih dahulu apa bedanya Asian Games dengan turnamen sepak bola lain yang dibawahi oleh AFC (Federasi Sepak Bola Asia), dan itu membuatnya makin pelik.

Kadang, hal sederhana seperti ini yang luput disampaikan atau disosialisasikan oleh panitia pelaksana Asian Games. Mungkin, panitia menganggap bahwa semua masyarakat sudah tahu tentang Asian Games.

Sebab itu, untuk menarik animo dan membuat gaungnya terasa di Jakarta dan Palembang, bahkan di seluruh penjuru negeri, panitia tampaknya hanya perlu memperkenalkan para atlet nasional yang akan bertanding, sejumlah venue yang siap pakai, hingga ucapan selamat dan sukses lewat aneka rupa spanduk dan grafiti.

Tak hanya itu, sejumlah peraturan terkait demi memudahkan jalannya acara akbar ini juga diujicoba dan diterapkan sejadi-jadinya. Ya, peraturan ganjil-genap yang itu!

Di sisi lain, semestinya media juga perlu menjelaskan beberapa hal yang bagi mereka mungkin terasa jelas, tapi sebenarnya sangat asing sekali bagi kebanyakan orang awam.

Maksudnya, aneh nggak sih ketika satu media besar dan tergolong arus utama sampai harus menjelaskan kenapa tidak ada Australia di daftar negara-negara peserta Asian Games 2018?

Itu pasti terasa aneh bagi para editor atau jurnalis-jurnalis di media setempat. Sebab, bagi mereka, hal itu adalah pengetahuan dasar. Namun, bagi orang yang sangat awam, informasi seperti itu perlu mereka ketahui.

Lagipula, bukankah itu fungsi utama media? Menyampaikan fakta yang ingin atau harus diketahui masyarakat, meskipun itu adalah hal-hal yang sangat sederhana?

Baca juga: Sosialisme Adalah Kejutan Dalam Sepak Bola, tapi Kapitalisme Menikmatinya

Masyarakat terutama di Jakarta malah lebih tahu tentang separator jalan yang dicat warna-warni untuk menyambut Asian Games. Ada yang dicat pakai warna-warna pastel, ada pula yang warnanya mencolok. Apa itu namanya? Beautifikasi?

Maklum, upaya Jakarta bersolek ini seolah menjadi politis. Bukan rahasia lagi bahwa sisa-sisa Pilkada Jakarta masih terasa hingga kini. Kinerja gubernur dan wakilnya pada masa pemerintahan saat ini kerap dicibir.

Ini cukup aneh dan menyedihkan, karena Asian Games 2018 sudah di depan mata. Pesta olahraga Asia ini merupakan hajatan kita bersama sebagai satu bangsa.

Hal-hal picik seperti politik praktis sepatutnya dikesampingkan dulu. Jakarta selaku salah satu tuan rumah ingin bersolek, namun upayanya untuk mempercantik diri menuai banyak cibiran.

Saya tidak bilang apa yang dilakukan Anies Baswedan dalam mempersiapkan Jakarta untuk Asian Games 2018 adalah upaya yang sia-sia. Namun, segala hal yang dilakukannya, mulai dari membuat grafiti warna-warni hingga tiang bendera dari bambu, seperti terbebani.

Saya rasa, pada titik itu, kita lupa bahwa Asian Games 2018 dan segala dinamikanya tidak perlu dikaitkan dengan agenda politik apapun.

Artikel populer: Wujud Sesungguhnya Sabyan Gambus

Asian Games 2018 memang berada di ‘jalur panas’ yang hawanya menyengat karena menjelang Pilpres 2019. Terlebih, masih tersisa ampas-ampas Pilkada Jakarta 2017.

Tapi, apakah kita akan selalu jadi bangsa yang cupet, yang selalu mengorbankan kepentingan yang lebih besar ketimbang urusan politik praktis yang kadang menyebalkan?

Padahal, di tengah peliknya rencana pelaksanaan Asian Games 2018, pagelaran akbar yang mengundang banyak negara di satu kontinen, kita seharusnya sadar. Inilah cara terbaik untuk menunjukkan prestasi seraya menghadirkan Indonesia sebagai negara yang aman, nyaman, dan bersahabat.

Bahwa Asian Games 2018 adalah marwah kita bersama. Toh, kalau nantinya berjalan lancar dan sukses besar, bukankah rakyat Indonesia juga yang bangga? Kalau saya sih begitu, nggak tahu kalau kamu.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.