Asian Games Bikin Asia Bersatu, di Negeri Sendiri Nanti Dulu

Asian Games Bikin Asia Bersatu, di Negeri Sendiri Nanti Dulu

Kontingen Indonesia (asiangames2018.id)

Jika saya memakai kata ‘kita’ pada 2014, mungkin saya bakal diklaim simpatisan Jokowi. Tapi, tahun ini, kata tersebut telah kembali ke jati dirinya sebagai penanda pihak ketiga.

Sekarang, jika saya memekik “Ah, kampret!” saat gemas menyaksikan atlet kita berlaga di cabang bulu tangkis, saya bakal dibilang, “Oooh, jadi lo Jokower ya!”

Alamak! Memasuki pilpres selalu saja ada kata yang tidak lagi netral dibuatnya.

Sementara, sejak mbak Via Vallen ditunjuk membawakan lagu ‘Meraih Bintang’ di atas gemerlap panggung opening ceremony Asian Games 2018, euforia Asian Games masih membekas.

Tapi, agak gimana gitu mengingat mbak Via yang mungkin latihan vokal maupun jam terbangnya belum selama dan sebanyak Rosa, Anggun, atau Agnez Mo, justru jadi bintang utama.

Ya begitulah Indonesia. Yang lagi kondang yang mewakili, bagaimanapun kualitasnya, apapun konten karyanya.

Toh, kita harus tetap berpraduga positif, menjatuhkan pilihan pada Via Vallen barangkali terkait erat dengan upaya meminimalisir bujet. Siapa lagi simbol penyanyi hitz yang merakyat kalau bukan doi? Kapan coba kita nonton konser Via Vallen mesti beli tiket? Bisa membengkak anggaran, jika yang dipilih adalah Syahrini.

Ngomong-ngomong soal Asian Games, ini bukan sekadar ajang kompetisi olahraga. Konon, banyak pihak menggadang-gadang ajang ini sebagai jalan diplomasi politik. Beberapa waktu lalu, The Conversation juga menerbitkan artikel bertema serupa, judulnya “Mampukah Asian Games Mendorong Perdamaian?”

Sewaktu kuliah, saya cukup sering mendengar tema-tema demikian menjadi bahan skripsi mahasiswa. Selain festival kebudayaan, festival olahraga sering dikaitkan dengan agenda soft power diplomacy. Begitu mahasiswa jurusan HI menyebutnya.

Itulah mengapa Menteri Luar Negeri ikut andil jauh-jauh hari. Didampingi Ketua Panitia Penyelenggara Asian Games (INASGOC), Erick Thohir, mengadakan gerak jalan dua putaran Gelora Bung Karno (GBK) dengan mengundang para dubes berbagai negara. Kegiatan yang dinamai diplomatic walk tersebut diselenggarakan dalam rangka menyambut Asian Games ke-18.

Baca juga: Asian Games dan Hal-hal yang Belum Selesai

Di tiga cabor, Korea Selatan dan Korea Utara melebur di bawah bendera unifikasi Korea dengan visi “One Dream, One Korea”, menjadikan ajang ini semakin digadang sebagai sarana diplomasi perdamaian. Laman online New York Times hingga mengulasnya dengan judul “Koreas Extend Conciliatory Steps to Asian Games”.

Pakde Jokowi yang secara personal mengundang Kim Jong-un dan Moon Jae-in pun merepresentasikan Indonesia sebagai peaceful country. Politik luar negeri poros maritim kini tak ubahnya a thousand friend zero enemy, seperti zaman Pak Beye.

Menggantikan Vietnam yang dilanda masalah finansial sebagai tuan rumah sesungguhnya, mungkin merupakan keputusan politik yang riskan, namun menjadi ideal juga menjelang pilpres.

Riskan karena berbagai kondisi nasional kita. Dari segi ekonomi, nilai tukar rupiah mengalami depresiasi disertai defisit neraca perdagangan, dimana nilai impor jauh lebih tinggi ketimbang ekspor. Padahal, seharusnya pelemahan rupiah bisa menaikkan komoditas ekspor.

Salah satu pangkalnya bisa jadi visi pembangunan infrastruktur Jokowi yang menyumbang banyak nilai impor demi kebutuhan bahan baku, dimana menjadi tuan rumah Asian Games turut menyokong visi tersebut.

Berhasil menyelenggarakan ajang ini dengan sukses bakal lumayan untuk menjadi modal politik bagi incumbent ke depan, apalagi dengan anggaran yang konon tak besar-besar amat.

Di sisi lain, Asian Games sekilas terlihat begitu ideal dalam konteks masyarakat kita yang sedang menyambut pilpres. Opening ceremony yang diselenggarakan tepat seusai hari kemerdekaan menampilkan potret nusantara begitu harmonis.

Panggung tersebut seakan-akan ingin mempertahankan semangat kesatuan lebih dari 260 juta penduduknya melalui kebanggaan menjadi host ajang olahraga terbesar kedua di dunia.

Jadi, sebelum mulai gontok-gontokan sengit, saling meng-unfriend dan meng-unfollow kerabat, mari kita sama-sama melebur jadi satu kubu pendukung timnas Indonesia dulu.

Sayangnya, kenyataan tak seideal itu. Indonesia memang memiliki ragam identitas etnis berupa-rupa, namun bukan itu yang menuai disharmonisasi. Pilihan politik yang disulut populisme agama adalah alasan kubu-kubu tercipta, bahkan dengan penuh militansi.

Artikel populer: Kenali Mereka, Setan-setan yang Santun dan Berlagak Moralis

Terbukti, belum lama usai sorak sorai selebrasi, linimasa media sosial sudah mengendus isu yang bakal memantik dua gelombang massa, antara konservatif dan moderat. Kali ini, seorang ibu bernama Meiliana di Tanjungbalai, Sumatera Utara, yang mesti menjadi korban dengan vonis 18 bulan penjara.

Asian Games sebagai sarana public diplomacy, mungkin cukup mampu menampilkan wajah Indonesia terkesan humanis dan pasifis di luar sana. Juga dalam meyakinkan Indonesia sebagai negara mengalami pertumbuhan ekonomi baik, apalagi dengan berhasil menyelenggarakan ajang bergengsi.

Namun, seberapa ia mampu mempersatukan kita di dalam negeri? Cukup seisi linimasa di Facebook dan Twitter saja yang tahu debat sengit antara kubu-kubu politik.

Apalah arti rutinitas Asian Games, paling mentok hanya menjadi ajang menaikkan kadar citra negara di mata dunia, sementara Pilpres 2019 adalah soal nasib kita semua, penduduk Indonesia. Mungkin demikian bagi sebagian kalangan.

Berdebat dan saling ngotot akan pasangan masing-masing, baik demi kursi jabatan atau murni rasionalitas politik menjadi lebih penting ketimbang kemenangan atau kekalahan timnas.

Namun, kisruh di media sosial ternyata tak selalu mencerminkan yang sesungguhnya di kehidupan nyata.

Di kampung tempat saya berdomisili, para bapak lebih memilih santai bareng di pos ronda sembari menyaksikan timnas bertanding. Tapi ini bukan dilatarbelakangi semangat kesatuan dan jiwa nasionalisme yang membuncah, melainkan sekadar hiburan setelah seharian memburuh demi taraf hidup yang kian membengkak.

Masyarakat pos ronda tersebut sekiranya yang menjadi potret kalangan paling dominan sebagai DPT Pemilu. Kami yang tak memiliki kepekaan politik untuk mendebatkan paslon, mengkritisi kinerja, apalagi hingga paham peta percaturan politik.

Bisa jadi karena memang pengetahuan yang tak menjangkau kami ataupun pesimisme terhadap sebentuk entitas negara.

Jadi, siapa sih sebenarnya yang sering ribut-ribut di linimasa media sosial? Jangan-jangan, memang hanya barisan buzzer politik beserta segelintir praktisi dan aktivis parpol?

Well, seandainya di Asian Games ada cabor goyang jempol di layar gawai, mungkin Indonesia yang paling memiliki bibit atlet paling mumpuni.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.