Ilustrasi Artikel Terbaik 2020.

Terima kasih kepada seluruh pembaca, penulis, dan semua pihak yang telah berkontribusi. Voxpop.id yang didukung oleh lebih dari 200 kontributor menjadi media alternatif pilihan yang semakin bertumbuh.

Situs web ini menyajikan konten dengan sudut pandang berbeda, kreatif, inspiratif, menghibur, dan terhubung dengan kehidupan sehari-hari. Tentunya dengan gaya bahasa yang renyah dan bergizi.

Sepanjang 2020, lebih dari 4.000 artikel masuk ke redaksi. Dari jumlah tersebut, sekitar 300 artikel yang tayang. Menulis, mirip dengan apa yang dilakukan oleh Demiurgos – sebagaimana dikisahkan oleh Plato dalam Timaios: mengolah bahan-bahan yang ada, seraya memandang kesejatian. Hwaiting..!

Nah, seperti tahun-tahun sebelumnya, kami pun memilih 10 artikel terbaik. Artikel-artikel tersebut dipilih berdasarkan jumlah views, kualitas konten, sebaran, dan partisipasi.

Dan, inilah 10 artikel terbaik 2020…

1. Dua Tiga Tutup Botol, Dunia Kita kok Konyolnya Pol?!

Artikel ini ditulis oleh Aprilia Kumala, penulis lepas yang suka main tebak-tebakan. Tulisannya kali ini dikemas begitu unik. Pesannya kuat dan memiliki makna yang mendalam. Pencinta serial Harry Potter ini menyoroti berbagai hal dalam satu rangkaian, mulai dari fenomena Tik Tok, cinta, kekuasaan, pandemi, hingga Upin & Ipin.

Selama ini, ia memang dikenal sebagai penulis muda yang menghasilkan tulisan-tulisan segar, hangat, dan kritis. Ia adalah penulis buku berjudul Saya Sebetulnya Bisa Menjadi Polisi Bahasa, Tapi Lebih Memilih Menjadi yang Setia.

2. Cerita Orangtua, Guru, dan Anak selama Belajar dari Rumah

Salah satu artikel terbaik ini ditulis oleh Margaretha Diana, seorang ibu yang sehari-hari berdagang makanan. Pemikirannya progresif, pedas seperti penyetan! Alhasil, tulisannya kerap menjewer, terutama mereka yang suka merendahkan perempuan.

Kali ini, dia coba mengungkap bagaimana keseharian orangtua, guru, dan anak ketika belajar dari rumah selama pandemi Covid-19. Ada kisah yang menginspirasi, ada yang menyebalkan, lucu, dan mengaduk-aduk emosi. Tentunya memiliki sudut pandang yang berbeda dan kritis.

3. Indonesia Tanpa Pacaran Wajib Nonton Film (500) Days of Summer

Adalah Haris Firmansyah, seorang novelis dan comedy blogger, yang menulis artikel ini. Dia mengkritik gerakan Indonesia Tanpa Pacaran (ITP). Ia memang dikenal sebagai penulis dengan karya-karyanya yang segar dan lucu, sekaligus mengandung kritik sosial.

Di Voxpop.id, Haris sangat produktif dan salah satu penulis favorit. Sebagian besar karyanya berbentuk parodi, membuat ia berbeda dengan penulis-penulis muda lainnya. Ia telah menulis sejumlah buku, yaitu Unforgettable Baper Moments, Wrecking Eleven, 3 Koplak Mengejar Cinta, Good Hobby VS Bad Habit, All About Teen Idols, Cireng Forever, Nyengir Ketupat, dan Date Note.

4. Maaf Harus Jujur, Organ Ekstra Kampus semacam HMI, PMII, GMNI dll Kini Kalah Pamor

Tulisan yang berani dan konstruktif. Penulisnya adalah Addarori Ibnu Wardi, aktivis GMNI yang pernah mengenyam pendidikan di beberapa pesantren tapi semuanya tidak sampai rampung. Ia pun pernah aktif di Radar Metro sebagai jurnalis.

Addarori mengungkapkan bahwa akhir-akhir ini organisasi mahasiswa (ormawa) ekstra kampus yang tergabung dalam Kelompok Cipayung semacam HMI, PMII, GMNI, PMKRI, dan GMKI jarang dibahas oleh masyarakat, terutama di kalangan pemuda milenial.

5. Nonton Drakor tentang Perselingkuhan yang Bikin Pikiranmu Jadi ‘Glowing’

Selain seru dan mengaduk-aduk emosi bak roller coaster, drama Korea juga sarat makna dan relevan dengan kehidupan kita sehari-hari. Penulis yang kerap menulis soal drakor dan hubungannya dengan kita adalah Maryam Jameelah. Kali ini, ia membahas The World of The Married, drama seri yang meraih rating tertinggi sepanjang sejarah jaringan televisi kabel di Korea Selatan.

Ia selalu punya sudut pandang berbeda ketika menyikapi persoalan, namun tetap logis. Mila, sapaan akrabnya, adalah seorang konselor yang kerap mendampingi para penyintas mental illness. Ia juga sempat aktif di beberapa organisasi dan NGO ternama.

6. Saat Perempuan Dituntut Cantik dan Laki-laki Dituntut Kaya

Artikel ini ditulis oleh Dewi Setya, seorang gadis desa. Ditempa pengalaman berorganisasi dan lingkar diskusi, Dewi menulis artikel yang inspiratif dan menghibur ini. Ia mengupas tema yang sangat mengena. Tentang prasangka bahwa perempuan diidentikkan dengan kerupawanan dan laki-laki diidentikkan dengan kemapanan.

Salah satu kekuatan Dewi dalam menulis adalah gaya bahasanya yang khas. Tak sedikit diselingi sindiran tipis-tipis yang dikemas secara jenaka, bikin pembaca tersenyum tapi hati menangys.

7. Ngaku Anak Kiri, tapi Otak Patriarki

Namanya Dea Safira, ia adalah dokter gigi yang kerap menyoroti isu-isu kesetaraan gender, hak minoritas, dan kelompok marginal. Dia juga penggagas gerakan di media sosial, aktif di komunitas feminis, dan pembicara di berbagai forum. Ia menulis buku berjudul Membunuh Hantu-Hantu Patriarki.

Kali ini, ia mengkritik laki-laki ‘anak kiri’ yang mengatakan bahwa pergerakan perempuan hari ini tidak tahu akar penindasan. ‘Anak kiri’ itu pun cenderung menghakimi apa yang dialami perempuan. “Duh, rasanya ingin tepok jidat! Jidat dia, maksudnya,” ujar Dea.

8. Ketika Perempuan Curhat Jadi Korban Fakboi

Tulisan Ruby Astari ini memprotes orang-orang yang sinis ketika mengomentari perempuan yang nangis-nangis minta dikawinin setelah ‘diperawanin’. Mereka bahkan cenderung memaklumi si fakboi. Ruby yang pengajar bahasa Inggris dan penulis lepas ini memang sering kali menggugat patriarki.

Fakboi semacam istilah untuk laki-laki yang sama sekali nggak respek sama perempuan. Mendekati banyak perempuan cuma untuk berhubungan seksual, menganggap perempuan sebagai objek.

9. Bucin atau Tidak, Hati-hati dengan ‘Gaslighting’

Adalah Rulfhi Pratama, pegiat di Komunitas Aleut, yang mengupas secara rinci mengenai isu gaslighting. Tulisan ini mencerahkan, terlebih belakangan kita mengenal istilah bucin alias ‘budak cinta’. Sebutan yang disematkan pada mereka yang ‘tunduk’ terhadap pasangan.

Kalaupun merasa tidak keberatan atau bahkan menolak disebut bucin, tetaplah berhati-hati dan menjaga nalar agar tidak menjadi korban gaslighting. Sebab, hubungan asmara bukan soal pengabdian, melainkan hubungan yang setara.

10. Ternyata Lagu Peradaban .Feast Lebih Keras dari Musik Metal?

Tulisan cadas dan geramnya sampai kebas. Siapa lagi kalau bukan Wisnu Wiradana Sudirham? Dengan cerdas, ia menawarkan perspektif yang mampu menjawab polemik soal lagu berjudul “Peradaban” yang dipopulerkan oleh grup musik .Feast. Lagu yang katanya lebih keras dari musik metal.

Wisnu yang pekerja serabutan dan pengamat penderitaan orang lain ini, ehmm, juga mengingatkan bahwa perseteruan, semisal terhadap grup musik yang tengah populer, kerap terjadi di industri musik. Sejarah akan terus berulang: awalnya sebagai tragedi, lalu menjadi lelucon bagi yang menyadari.

Demikian, deretan artikel terbaik Voxpop pada 2020.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini