article
Ilustrasi Artikel Terbaik 2019.

Terima kasih kepada seluruh pembaca, penulis, dan semua pihak yang telah berkontribusi. Voxpop Indonesia atau Voxpop.id kini semakin menjadi salah satu media alternatif pilihan.

Sepanjang tahun ini, lebih dari 3.000 artikel masuk ke meja redaksi. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 300 artikel yang tayang. Sisanya dengan berat hati tidak dapat dipublikasikan. I love you all!

Kami coba menyajikan konten dengan sudut pandang berbeda, kreatif, inspiratif, menghibur, dan terhubung dengan kehidupan sehari-hari. Menulis hal-hal serius dengan bahasa yang membumi, sehingga efektif dalam menyampaikan pesan kepada masyarakat.

Nah, pada pengujung tahun 2019, seperti tahun-tahun sebelumnya, kami pun memilih 10 artikel terbaik. Artikel-artikel ini dipilih berdasarkan jumlah views, kualitas konten, sebaran, dan partisipasi.

Dan, inilah 10 Artikel Terbaik 2019…

1. Dari Malala, Emma, Greta, Hingga ‘Egg Boy’: Kenapa Remaja Kita Tak Se-kritis Mereka?

Artikel ini ditulis oleh Dewi Setya, seorang gadis desa. Dia bisa dibilang salah satu penulis yang setia mengiringi perjalanan Voxpop sejak awal berdiri hingga kini. Mungkin, sesuai namanya yang memiliki arti “gadis setia dan penuh cinta”, kesetiaannya pun sudah sampai level ‘Dewi’. Lantas, bagaimana dengan cintanya? Hmmm…

Ditempa pengalaman berorganisasi dan lingkar diskusi, Dewi menulis artikel yang inspiratif dan menghibur ini. Ia mengkritik anak muda di Indonesia, terutama kalangan remaja, yang belum mampu berpikir kritis seperti remaja-remaja di negara lain.

Selain temanya yang mengena, salah satu kekuatan tulisan ini adalah gaya bahasanya yang khas. Tak sedikit diselingi sindiran tipis-tipis yang dikemas secara jenaka, bikin pembaca tersenyum tapi hati menangys. Sebetulnya hampir semua tulisannya begitu. Itulah mengapa publik jadi merasa dekat. Dekat aja, jadian nggak, eh gimana?

  1. Alerta, Alerta! Para Aktivis Cabul di Sekeliling Kita

Adalah Muhammad Nanda Fauzan, penulis artikel ini. Dia bergabung dalam jajaran penulis di Voxpop tahun ini. Meski demikian, tulisannya yang renyah dan bergizi ini langsung menggebrak. Bisa dibilang ia adalah sosok “muda, beda, berbahaya”. Kalau di Liga Inggris, ibarat Marcus Rashford dari MU Trent Alexander-Arnold dari Liverpool.

Terbukti, setelah artikel ini viral, banyak pihak yang berterima kasih. Tapi, tak sedikit pula yang mencemooh. Tulisan ini sebenarnya untuk mengingatkan anak-anak muda, terutama para mahasiswa/i, bahwa siapa pun bisa menjadi sasaran empuk aktivis cabul.

Telah banyak yang bersuara, bahwa satu korban terlalu banyak. Di atas mimbar, mulut berkoar-koar anti kekerasan seksual. Di bawah, penisnya membual.

  1. Wahai Suami, kok Ngebet Banget Sampai Istri Sendiri Diperkosa?

Sebagian pembaca setia Voxpop sudah familiar dengan penulis ini. Namanya Rika Nova, tulisannya selalu masuk formasi Artikel Terbaik setiap tahun. Sebut saja artikel berjudul “Bahkan untuk Urusan Vagina, Kita Dijajah dan Dibodoh-bodohi”. Atau, tulisan berjudul “Karena Seks Memang Harus Bebas” dan “Kenapa Orang Indonesia Takut dengan Seks?”.

Kali ini, ia menyoroti kontroversi soal boleh atau tidaknya suami memaksa melakukan persetubuhan dengan istrinya. Pemerkosaan dalam pernikahan (marital rape) ini begitu nyata, terutama di negara-negara yang mengglorifikasi kultur pemerkosaan.

Rika pernah aktif di sejumlah organisasi, setelah meninggalkan profesi wartawan. Dia menyelesaikan S2 di Amerika Serikat untuk jurusan sustainability and environment. Ia percaya bahwa perubahan iklim adalah nyata dan perempuan bukan warga kelas dua.

  1. Bagaimana kalau Pacaran, lalu Berhubungan Seks, terus Ujung-ujungnya Kandas?

Namanya Dea Safira, ia adalah dokter gigi yang kerap menyoroti isu-isu kesetaraan gender, hak minoritas, dan kelompok marjinal. Dia juga penggagas gerakan di media sosial, aktif di komunitas feminis, dan pembicara di berbagai forum. Belum lama ini, ia meluncurkan buku berjudul Membunuh Hantu-Hantu Patriarki.

Dea juga termasuk penulis yang artikelnya sering masuk daftar Artikel Terbaik setiap tahun. Semisal, tulisan berjudul “Berdamai dengan Perempuan yang Tidak Menikah dan Tidak Beranak”. Lalu, tulisan yang berjudul “Jangan Langsung Terpesona dengan Laki-laki Aktivis, Ketahui juga Sisi Gelapnya” juga menampar ke mana-mana.

Kali ini, ia mempertanyakan definisi keperawanan. Selama ini, hilangnya keperawanan dinilai dari robek atau pecahnya selaput dara akibat penetrasi penis ke dalam vagina. Definisi itu hanya menaruh nilai seks pada kenikmatan lelaki berpenis saja. Padahal, seks juga berhak dinikmati oleh perempuan.

  1. Seandainya Dilan, Rangga, dan Fahri Berada dalam Satu Grup WhatsApp

Artikel ini ditulis oleh Haris Firmansyah, seorang novelis, comedy blogger, dan script writer yang pernah memelihara tuyul dalam bentuk sinetron. Ia terkenal dengan tulisan yang segar dan lucu, sekaligus mengandung kritik sosial.

Haris sangat produktif menghasilkan karya-karya menarik, yang sebagian besar berbentuk parodi. Tahun ini saja, tulisannya yang tayang di Voxpop mencapai 55 artikel atau terbanyak dibandingkan penulis lainnya. Nah, tinggal dikalikan saja dengan honor per artikel, kalkulator kami langsung hang!

Esainya kali ini menyajikan parodi tiga tokoh fiktif yang begitu populer dalam industri perfilman di Tanah Air. Dilan yang bad boy, Rangga yang jutek, dan Fahri yang bak ‘malaikat’. Dialog-dialog khas tiga tokoh itu pun disajikan secara apik, tentunya dengan beragam plesetan. Tak lupa, kritik pun diselipkan, mulai dari persoalan asmara, manuver dalam politik praktis, hingga masalah poligami.

  1. Sulli adalah Perempuan Merdeka, tapi Dibully. Sesungguhnya Dia Tidak Bunuh Diri

Ada yang bilang bahwa Voxpop itu sebetulnya mudah ditembus, asalkan tulisannya memadukan dua unsur: “Selucu Haris Firmansyah, sekritis Maryam Jameelah”. Itu ada benarnya.

Maryam Jameelah juga selalu punya sudut pandang berbeda ketika menyikapi persoalan, namun tetap logis dan relevan. Membaca tulisan-tulisannya, membuat kita mendadak berpikir, “Hmmm… betul juga ya.” Ia adalah seorang konselor yang kerap mendampingi para penyintas mental illness. Ia juga sempat aktif di beberapa organisasi dan NGO ternama.

Melalui tulisannya ini, ia menyoroti kasus bunuh diri Choi Jin-ri alias Sulli, mantan personel grup vokal f(x) asal Korea Selatan. Baginya, Sulli adalah sosok perempuan merdeka, tapi di-bully dengan kata-kata kebencian. Hingga akhirnya, Sulli memutuskan untuk berhenti melawan.

Hal ini tentu bisa terjadi di mana saja. Tak hanya di Korea Selatan yang penuh tekanan dan semua orang dituntut untuk tampil ‘sempurna’, di Indonesia pun netizen tak kalah ganasnya.

  1. Hari Ibu Bukan Ajang Pansos, Maaf, Ini Bukan Kata-kata Manis

Kalau nggak nyeleneh, bukan Kokok Dirgantoro namanya. Ketika banyak orang mengumbar kata-kata manis pada Hari Ibu, semisal “Terima kasih ibu”, “Aku sayang ibu”, “Ibu tiang keluarga”, eh doi malah nulis artikel yang bukan kata-kata manis.

Baginya, Hari Ibu seharusnya membuat kita sadar bahwa 3 perempuan dilecehkan setiap 2 jam, 8 perempuan diperkosa setiap hari sepanjang 2016-2018, ibu tak dapat recovery secara maksimal karena cuti melahirkan tidak memadai, RI belum meratifikasi konvensi ILO 183, lebih dari 400 ribu cerai talak per tahun – ada 2 juta pernikahan per tahun, serta perempuan yang rentan dan negara tak bikin women crisis center.

Tapi, kalau dipikir-pikir, CEO Voxpop Indonesia ini ada benarnya, eh? Ya gimana, Hari Ibu semestinya bukan sekadar bikin kata-kata manis, lalu menebar buih ludah palsu ke berbagai platform. Itu semestinya menjadi pergerakan harian dalam memperjuangkan para ibu, kaum perempuan.

Selama ini, Kokok dikenal sebagai pengusaha yang gigih memperjuangkan dan menerapkan kebijakan cuti hamil 6 bulan. Belakangan, mantan wartawan ini juga memutuskan untuk aktif di dunia politik.

  1. Dear Anak Beasiswa, Berhentilah Menghadiri Seminar Motivasi Kesuksesan Ala Orang Kaya

Artikel ini ditulis oleh Esty Dyah Imaniar, penulis yang jadi idola para ikhwan dan akhwat, sobat ambyar, sobat misqueen, kaum rebahan, hingga para kamerad. Karya-karyanya dipublikasikan oleh sejumlah media cetak dan online. Bukunya yang telah terbit berjudul Rules of Love.

Kali ini, Esty mengungkap sisi lain para penerima beasiswa yang berasal dari keluarga miskin, di tengah anak-anak dari keluarga kaya dan artis yang turut menikmati fasilitas tersebut. Sebagai mantan anak beasiswa, tentunya Esty mengenal baik persoalan ini. Beda dengan mantan kekasih, begitu susahnya berhubungan baik. Duhh..

Dia pun mengimbau agar anak-anak beasiswa berhentilah menghadiri seminar motivasi kesuksesan ala orang kaya. Ini bukannya anti seminar motivasi beasiswa, tapi mungkin motivasinya perlu direvisi. Jangan lagi anak miskin diiming-imingi sekolah tinggi biar kaya. Memang, kata siapa sekolah bikin kaya?

  1. Suami Perkosa Istri Diketawain, Apakah Kita Hidup di Negara ‘Rape Public’?

Salah satu Artikel Terbaik ini ditulis oleh Margaretha Diana, seorang ibu yang sehari-hari berdagang makanan. Pemikirannya progresif, pedas seperti ayam penyet level 10! Tulisan-tulisannya kerap menjewer mereka yang suka memandang rendah perempuan.

Diana ingin sekali mengajak orang-orang yang menertawakan pemerkosaan dalam pernikahan (marital rape) menyelam di Antartika. Siapa tahu kepala mereka bisa adem, terus bisa berpikir jernih.

Sebab, marital rape itu nyata. Ini bukan perkara mudah di tengah masyarakat yang melanggengkan rape culture. Lantas, apakah kita memang benar-benar hidup di negara ‘rape public’? Lho, katanya republik.

  1. Karena Pacaran Memang Harus Ideologis

Ketika artikel ini tayang, penulisnya Abdurrachman Sofyan masih berpacaran. Namun kini, ia telah meniqa. Jadi, kalau dalam pandangan materialisme historis, aihhh…, ia sudah teruji. Ada kesadaran yang terbentuk di situ.

Nah, dalam tulisan ini, Sofyan yang menjadi pegiat literasi di Komunitas Kalimetro, Malang, mendedah bagaimana kesadaran-kesadaran itu penting dalam pacaran. Maksud kesadaran di sini bukan sadar atau tidak sadar gimana-gimana lho ya, melainkan suatu hal yang terkait dengan ego. Sebab, tanpa kesadaran ini, pertikaian kecil bisa menjadi tak terselesaikan, lalu berujung pada kekerasan verbal atau bahkan fisik.

Di sisi lain, celakanya, slogan ‘Budak Cinta’ alias ‘Bucin’ masih menjadi guyonan. Padahal, dalam berpacaran yang penuh kesadaran, mestinya slogan receh semacam itu sudah terkubur dalam-dalam. Lagi pula, apapun yang mengatasnamakan perbudakan, harus dihapuskan dari muka bumi, kan?

Demikian, deretan artikel terbaik Voxpop pada 2019. Tak ada hal yang lebih membahagiakan selain ikut berkontribusi menyuarakan apa yang tak bisa disuarakan. Sampai jumpa pada 2020, semoga pada tahun yang baru itu, kita semua bisa lebih baik lagi.

Tabik!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini