Artikel Terbaik 2018

Artikel Terbaik 2018

Ilustrasi Artikel Terbaik 2018

Terima kasih kepada seluruh pembaca, penulis, dan semua pihak yang telah berkontribusi. Voxpop.id kini menjadi salah satu media alternatif pilihan, dengan pertumbuhan yang cepat.

Voxpop.id atau Voxpop Indonesia adalah tempat berbagi pandangan yang didirikan oleh para jurnalis, penulis, komikus, pengusaha, dan ahli teknologi informasi.

Situs web ini menyajikan konten dengan sudut pandang berbeda, kreatif, inspiratif, menghibur, dan terhubung dengan kehidupan sehari-hari. Tentunya dengan gaya bahasa yang renyah tapi bergizi.

Sepanjang 2018, voxpop.id telah menayangkan lebih dari 300 artikel pilihan, yang berasal dari para penulis di sejumlah daerah. Dan, pada 2019, kontennya akan diperluas dengan menyajikan video dan e-commerce. Mohon dukungan!

Nah, untuk menutup tahun 2018, kami telah memilih 10 artikel terbaik. Artikel-artikel tersebut dipilih berdasarkan jumlah views, kualitas konten, sebaran, dan partisipasi.

Dan, inilah 10 Artikel Terbaik 2018…

1. Alasan Mengapa Saya Tidak Tertarik Nonton Film Dilan

Artikel ini ditulis oleh Hidayat Adhiningrat, seorang jurnalis kawakan di Jakarta. Tahun 2018 adalah kali kedua tulisannya masuk 10 besar. Pada 2015, artikelnya berjudul “Perkenalkan… Godot, Musuh Terbesar Gojek” juga menempati posisi satu.

Tiga tahun berselang, tepatnya saat film Dilan 1990 diangkat ke layar lebar, hatinya gusar. Maklum, kang Day adalah pembaca setia Dilan sejak  Pidi Baiq menulis kisah tersebut di blog pribadinya tahun 2013, hingga dibuat novelnya berjudul “Dia adalah Dilanku Tahun 1990”.

Tidak ada yang lebih menyenangkan dalam mengikuti kisah Dilan ketika Pidi Baiq menulis cerita itu separuh-separuh di blog. Bagaimana menanti dengan cemas dan gemas demi mengetahui sambungan cerita. Bagaimana menjadi badboy, tapi tidak playboy.

Kenapa harus jadi badboy? Ya karena bosan jadi korban ucapan, “Kamu terlalu baik buat aku.”

2. Jangan Langsung Terpesona dengan Laki-laki Aktivis, Ketahui juga Sisi Gelapnya

Adalah Dea Safira Basori, penulis artikel ini. Dea yang seorang dokter gigi kerap menyoroti isu-isu kesetaraan gender, hak minoritas, dan kelompok marjinal. Ia juga dikenal sebagai penggagas gerakan di media sosial dan aktif di komunitas feminis.

Beberapa kali tulisan dan aksinya menjadi viral. Ini juga kali kedua masuk 10 besar, setelah artikelnya berjudul “Berdamai dengan Perempuan yang Tidak Menikah dan Tidak Beranak” menempati posisi empat pada 2017.

Kali ini, Dea ingin mengungkap sisi lain dari kehidupan aktivis. Sebab, banyak sekali perempuan yang mengalami kekerasan ketika berpacaran atau menikah dengan beberapa aktivis laki-laki. Tulisannya sangat kuat dalam menghadirkan sebuah ironi.

3. 12 Pertanyaan untuk Ivan Lanin yang Perlu Kamu Ketahui Jawabannya

Tulisan ini merupakan hasil wawancara Kokok Dirgantoro dengan Ivan Lanin. Siapa yang tak kenal Kokok, eh Ivan Lanin? Ia adalah ahli bahasa Indonesia, KBBI berjalan di dunia maya.

Tulisan ini begitu segar, lucu, dan tentunya edukatif. Segala hal dikupas, mulai dari bahasa Indonesia Ivan Lanin yang dulunya buruk, kemudian insaf dan belajar bahasa Indonesia secara autodidak, hingga makanan favoritnya: bubur ayam. Diaduk!

Ini juga kali kedua tulisannya Kokok Dirgantoro masuk 10 besar, setelah wawancaranya berjudul “Misteri di Balik Akun InfoTwitwor (Eksklusif)” berada di posisi tiga pada 2017. Kokok sendiri adalah mantan wartawan yang kini menjadi pengusaha. Belakangan, ia menjadi politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

4. Kenapa Orang Indonesia Takut dengan Seks?

Bagi pembaca setia voxpop.id, nama Rika Nova sudah tak asing lagi. Tulisannya langganan menjadi terpopuler. Bahkan, pada 2017, dua artikelnya masuk 10 besar. Artikel berjudul “Bahkan untuk Urusan Vagina, Kita Dijajah dan Dibodoh-bodohi” menempati posisi satu, sedangkan artikel berjudul “Karena Seks Memang Harus Bebas” di posisi dua.

Kali ini, Rika menyoroti rancangan KUHP yang baru, dimana pemerintah hendak merebut otonomi tubuh dan mengkriminalisasi seks. Alih-alih menghadirkan pendidikan seks yang menyeluruh, pemerintah justru perang besar-besaran melawan seks.

Rika sendiri aktif di sejumlah organisasi, setelah meninggalkan profesi wartawan. Belakangan, ia menyelesaikan S2 di Amerika Serikat untuk jurusan sustainability and environment. Ia percaya bahwa perubahan iklim adalah nyata dan perempuan bukan warga kelas dua.

5. Obrolan dengan Ukhti-ukhti Penikmat Musik Punk

Artikel ini ditulis oleh Esty Dyah Imaniar, seorang penulis ulung yang karya-karyanya dipublikasikan oleh sejumlah media cetak dan online. Bukunya yang telah terbit berjudul Rules of Love.

Karya-karyanya juga dimuat dalam antologi bersama, yaitu 99 Pembidik Mimpi, Mengejar Cahaya Surga, Momentum, Jadikan Lelah Kita Lillah, serta Perempuan dan Dering Handphone.

Melalui tulisan ini, Esty mengungkapkan bahwa para ukhti juga ada yang menggemari musik punk. Usia mereka antara dua puluh hingga tiga puluhan tahun. Ada yang masih JoFiSa alias Jomblo Fi Sabilillah, ada pula yang sudah berkeluarga hingga memiliki anak. Pekerjaan mereka pun beragam, dari pelajar Ma’had, dosen, hingga ustazah pesantren Tahfidz.

P.S Mereka yang tidak mengukur keimanan seseorang dari panjangnya kain penutup kepala, sebagaimana mereka yang tidak mengukur seberapa punk seseorang dari tingginya mohawk dan banyaknya tato.

6. Kenapa sih Apapun Masalahnya, Menikah Solusinya?

Adalah Dewi Setya yang menulis artikel ini. Ia memang kerap menulis isu-isu krusial di kalangan milenial. Belakangan, urusan kawin-mawin ini menarik perhatian publik, seiring maraknya akun-akun relijies di media sosial yang mendorong anak muda agar cepat nikah.

Ditempa pengalaman berorganisasi dan lingkar diskusi, Dewi menulis artikel yang inspiratif dan menghibur ini. Ia mengkritik pernyataan tentang ‘saat wanita lelah bekerja, maka ia hanya ingin dinikahi’.

Pernyataan itu sebenarnya menunjukkan bahwa menikah versi akun-akun relijies itu juga bukan perkara cinta, melainkan pragmatisme belaka. Menyandingkan urusan nikah dengan lapar dan dahaga.

7. Surat Kecil untuk Zaadit dari Orang yang Gagal Masuk UI

Artikel satire jenaka ini ditulis oleh Jauhari Mahardhika. Tulisan ini menyikapi pola pergerakan BEM UI yang diketuai Zaadit Taqwa. Tak sulit baginya berbicara soal gerakan mahasiswa, karena Jauhari sendiri adalah mantan aktivis gerakan mahasiswa yang kini menekuni profesi wartawan dan literasi.

Tulisan ini banyak menyindir gerakan mahasiswa hari ini, yang rupanya tak banyak berubah. Gerakannya masih cenderung elitis, tapi seolah paling tahu tentang masyarakat. Selain itu, sporadis pula. Tanpa ada pengorganisasian yang matang. Hanya muncul saat momen-momen politik.

Meski demikian, masih ada segelintir mahasiswa yang terjun langsung ke masyarakat. Tapi mahasiswa yang begini biasanya sunyi. Melepas jas almamater, lalu bunuh diri kelas. Mereka juga tak suka pamer, boro-boro jadi selebgram. Bahwa kesadaran politik nantinya timbul dari sebuah pertentangan, itu adalah keniscayaan.

8. Ayolah, Banyak yang Lebih Penting daripada Kebelet Kawin dan Ngurusin Orang Pacaran

Lagi-lagi urusan kawin-mawin. Tapi, kali ini, yang menulis bukan dari generasi milenial, melainkan ibu-ibu pedagang. Namanya Margaretha Diana. Dia mempersoalkan pernikahan usia anak. Indonesia kini menduduki peringkat ke-7 sebagai negara dengan kasus pernikahan dini tertinggi di dunia.

Di sisi lain, banyak orang tua yang merasa bahwa pernikahan tersebut sebagai solusi untuk para bocah kencur. Karena itu, tulisan ini ingin mengingatkan kembali bahwa menikah bukanlah sekadar legalitas di atas kertas untuk bisa bercinta di mana saja bin kapan saja.

Selain itu, generasi muda kita jangan cuma mikir selangkangan. Anak-anak muda di luar sana sibuk mengukir prestasi, bersuara lantang demi hajat hidup orang banyak.

9. Pentingnya yang Ngebet Nikah Nonton Milly & Mamet (Ini Bukan Cinta & Rangga)

Rupanya tema kawin-mawin ini mendominasi daftar artikel terbaik kali ini. Terbukti, tulisan Alexander Arie Sadhar tentang film Milly & Mamet (Ini Bukan Cinta & Rangga) juga masuk dalam daftar. Sebuah ulasan film yang tidak biasa, tapi penuh inspirasi dan menghibur.

Tulisan ini cocok bagi yang ingin mencari dan mencuri ilmu tentang rumah tangga, yang nggak akan dikisahkan oleh orang-orang yang hobinya mendorong anak muda untuk menikah.

Melalui tulisan tersebut, Arie yang berpengalaman dalam dunia tulis menulis menyasar rumah tangga milenial. Misalnya, bagaimana hubungan dengan mertua, masalah passion dan mimpi, pekerjaan rutin, serta hidup baru bersama bayi. Tulisan ini direspons positif oleh sang sutradara, Ernest Prakasa.

10. Wujud Sesungguhnya Sabyan Gambus

Sabyan Gambus menjadi topik pembicaraan masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak muda. Mulai dari warung kopi pinggir jalan, kafe di tengah kota, sudut kampus, kantin pesantren, hingga ranah dunia maya.

Penulis artikel ini, Hamdani Mubarok, sangat jeli melihat kehadiran Sabyan Gambus yang fenomenal. Pemuda yang sedang ngangsuh kaweruh Cultural Studies di Yogyakarta ini menganggap grup musik tersebut sebagai bentuk praktik keberagamaan, yang terbentuk dari hibridasi identitas.

Itu membuktikan bahwa pada dasarnya masyarakat kita yang beragam ini cinta damai dan toleran. Hanya saja kepentingan politik telah mengoyaknya.

Demikian, Artikel Terbaik 2018. Kami selaku redaksi voxpop.id mengucapkan, “Selamat tahun baru, tetaplah berkarya!”

Seperti yang dilakukan Demiurgos, sebagaimana dikisahkan oleh Plato dalam Timaios: mengolah bahan-bahan yang sudah ada, seraya memandang kesejatian.

1 COMMENT

  1. 2019 Semangat Voxpop Indonesia! Artikel yg diusung anti mainstream, menyentil keresahan-keresahan sosial yg terjadi di kalangan masyarakat kekinian. Semoga selanjutnya semakin berkembang, semakin banyak yg tau keberadaan website bermanfaat ini. Amiin.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.