10 Artikel Terbaik 2017

10 Artikel Terbaik 2017

Kami ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh pembaca dan penulis voxpop.id. Selama lebih dari dua tahun, situs web berbagi pandangan ini menjadi salah satu media alternatif pilihan, dengan pertumbuhan jumlah pengunjung lebih dari 10 kali lipat.

Itu tentunya tidak terlepas dari kontribusi ratusan penulis yang tersebar di berbagai daerah, termasuk mereka yang menetap di luar negeri.

Artikel-artikel dari para penulis seakan memenuhi keinginan pembaca yang cenderung mencari sudut pandang berbeda, unik, segar, menghibur, inspiratif, dan terhubung dengan kehidupan sehari-hari.

Setidaknya, setiap pekan, tim redaksi menerima sekitar 30-40 artikel, yang membuat kami sampai hari ini terus merancang semacam fitur baru, dimana kami bisa menayangkan lebih dari satu artikel per hari mulai 2018.

Kami juga telah membuka dan terus bersinergi dengan media lain, karena kami percaya bahwa ke depan bukan lagi era kompetisi. Era kompetisi bakal berlalu, dan memasuki era baru, yakni sinergi media.

Voxpop.id sendiri didirikan oleh para jurnalis, penulis, komikus, pengusaha, dan ahli teknologi informasi. Kami sadar, di bidang ini, pengembangan adalah sebuah keniscayaan. Selain menyajikan artikel, ke depan tentunya juga akan fokus pada penayangan komik strip, foto, video, dan e-commerce.

Kami juga mulai memperluas varian artikel, tak hanya opini, melainkan reportase dan wawancara. Sepanjang tahun ini, lebih dari 300 artikel keren tayang di voxpop.id. Nah, untuk menutup tahun 2017 yang spesial ini, kami telah memilih sejumlah artikel terbaik.

Berbeda dengan 2016 yang hanya delapan artikel terbaik, kali ini ditambah menjadi 10. Artikel-artikel tersebut dipilih berdasarkan jumlah views, kualitas konten, sebaran, dan partisipasi.

Dan, inilah 10 Artikel Terbaik 2017…

1. Bahkan untuk Urusan Vagina, Kita Dijajah dan Dibodoh-bodohi

Artikel ini ditulis oleh Rika Nova, orang yang percaya bahwa perubahan iklim adalah nyata dan perempuan bukan warga kelas dua. Saat ini, Rika yang mantan jurnalis sedang melanjutkan kuliah di Amerika, untuk jurusan sustainability and environment.

Melalui tulisan ini, ia ingin menyuarakan bahwa perempuan saat ini masih dijajah, didikte, bahkan hingga ke wilayah yang paling privat. Misalnya apa yang dilakukan oleh produsen pemutih vagina, yang mengatur-atur bahwa vagina seharusnya berwarna cerah dan harum semerbak. Vagina tidak seharusnya hitam, vagina sudah semestinya wangi bunga-bunga, supaya pria suka.

Bagaimanapun wilayah pribadi tersebut harus menjadi pemuas. Bagi Rika, itu adalah hasil perselingkungan patriarki dengan kapitalisme. Sebab, mereka tidak pernah atur-atur penis, kecuali jebakan ego maskulin soal bentuk yang besar dan panjang.

2. Karena Seks Memang Harus Bebas

Artikel ini juga ditulis oleh Rika Nova untuk meluruskan pemahaman soal seks bebas. Apa itu seks bebas? Bukankah seks memang harus bebas? Bagi Rika, seks yang tidak bebas namanya pemerkosaan. Sementara seks yang tidak bebas dan berbayar adalah transaksi.

Ambiguitas dari istilah seks bebas ini sering menjadi inti persoalan pemberagusan otonomi tubuh, pemerkosaan atas hak seksual. Parahnya, pasangan muda-mudi dipersekusi dan dituduh mesum, padahal tidak. Sementara, ketika perempuan diperkosa atau dipukuli suami hingga dijemput ajal, tak ada warga yang hendak mendobrak rumah tetangganya.

3. Misteri di Balik Akun InfoTwitwor (Eksklusif)

Adalah Kokok Dirgantoro, CEO Opal Communication dan CEO Voxpop Indonesia yang menulis artikel tersebut. Tulisan ini adalah hasil wawancara dengan pengelola akun fenomenal di Republik Twitter Indonesia: @InfoTwitwor.

Saat wawancara, @InfoTwitwor diikuti oleh lebih dari 30 ribu followers dan saat ini bergerak menuju 70 ribu followers dalam tempo tujuh bulan. Artikel ini menguak, halahh, apa motif dan cara kerja akun tersebut.

Dari situ diperoleh bahwa lebih dari 50% netizen menyukai twitwar dan drama yang lucu. Jadi, netizen sebetulnya tidak terlalu suka dengan wor-woran ala kubu yang beda junjungan. Itu..!

4. Berdamai dengan Perempuan yang Tidak Menikah dan Tidak Beranak

Namanya Dea Safira Basori, seorang feminis Jawa yang melawan segala kemungkinan untuk menemukan cinta, kehidupan, dan semangat hidupnya.

Dea menulis artikel ini untuk menunjukkan bahwa ada hal-hal yang lebih menarik dari persoalan kebelet nikah, meski ia sendiri sempat mengalami dorongan itu, bahkan pernah jatuh cinta dengan pasangan yang rumit.

Bagi Dea, tak ada istilah ‘siap atau tidak siap, harus bisa’ dalam urusan menikah dan memiliki anak. Bisa karena siap, kalau tidak siap berarti tidak bisa.

Bahwa perempuan diciptakan dengan rahim dan payudara bukan serta serta-merta untuk reproduksi, melainkan diberi akal untuk bertanggung jawab atas produksi serta kebebasan memilih.

5. Salah Paham soal Selaput Dara

Ini adalah artikel ketiga dari Rika Nova yang masuk daftar 10 Artikel Terbaik 2017 di voxpop.id. Lagi-lagi, Rika ingin membongkar kesalahpahaman yang terjadi di masyarakat, kali ini soal keperawanan.

Menurut Rika, isu perawan sebegitu lakunya di Indonesia sampai tes keperawanan harus dilembagakan dan sempat muncul apa yang namanya lelang perawan. Melalui tulisan ini, Rika ingin mematahkan itu semua, termasuk segala mitosnya.

Dia hanya berpesan singkat. “Makanya, belajar seks jangan dari 3gp, bro!”

6. Yang Sayang M dan R Banyak Sekali, Mereka Takkan Sendirian

Artikel yang ditulis oleh Kokok Dirgantoro ini juga layak masuk daftar 10 Artikel Terbaik 2017, karena memenuhi empat indikator penilaian. Kali ini, tulisannya menginspirasi banyak orang, berbeda dengan sebelumnya yang terkesan selow dan jenaka.

Tulisan ini mengisahkan pertemuan secara langsung Kokok dengan M dan R, korban persekusi di Cikupa, Tangerang. Selain M dan R, Kokok yang difasilitasi oleh Kapolres Tangerang AKBP Sabilul Alif, juga bertemu dengan N, salah satu pria paling tegar di muka bumi.

N adalah bapak dari R. Karena R dan M sudah menikah, maka N sekaligus menjadi ayah mertua dari M. Sedangkan M sendiri adalah anak yatim piatu.

Ketika berbincang dengan M dan R selama lebih dari satu jam, Kokok mengulangi penawarannya untuk mengangkat M sebagai karyawan di perusahaannya. Selain M, Kokok juga menawarkan pekerjaan kepada R.

Dan, saat bertemu dengan N, orangtua R dan M, Kokok hanya berbisik, “Bapak tidak usah sedih ya. Yang sayang sama adik R dan M banyak sekali. Insya Allah bapak dan adik-adik tidak sendirian.”

7. Pengakuan Lelaki Semenjana tentang Perempuan Cerdas

Penulis artikel ini adalah Arman Dhani yang sudah berpengalaman untuk urusan tulis-menulis. Esai bergaya satire adalah ciri khas Dhani. Salah satunya tulisan ini, yang menyindir laki-laki yang merasa takut, bila perempuan menjadi cerdas dan berkontribusi sosial. Ia menyebutnya sebagai lelaki semenjana alias medioker.

Perempuan yang berdandan kerap dianggap binal, yang tidak berdandan dianggap tak sayang suami, yang menyusui lebih baik daripada pakai susu formula. Semua ini lahir dari kebencian, misoginisme, yang dibalut dalam patriarki.

Namun, Dhani juga percaya bahwa feminis dan patriarkis itu perkara sudut pandang dan pola pikir. Bukan soal jenis kelamin. Laki-laki feminis dan perempuan patriarkis itu ada.

8. Alasan Sebenarnya Akun @PEMBIMBINGUTAMA Berkicau di Twitter

Kalau anda rajin bermain Twitter, mungkin anda akan kenal dan penasaran dengan akun @PEMBIMBINGUTAMA. Tak mengherankan memang kalau anda kepo, termasuk penulis artikel ini, Arif Utama.

Kehadiran akun @PEMBIMBINGUTAMA jelas menarik, karena kita diajak menyelami perspektif dosen. Dan, bagaimana warganet menanggapi akun @PEMBIMBINGUTAMA adalah sesuatu hal yang tak jarang mengundang gelak tawa!

Saat diwawancarai, Arif sempat bertanya, “Apakah pembuatan akun ini untuk mengubah persepsi ‘dosen killer’ di kalangan mahasiswa?”

@PEMBIMBINGUTAMA kemudian menjawab. “TIDAK ADA YANG NAMANYA DOSEN KILLER, KALAU MEMANG ADA YA SUDAH MASUK PENJARA. ANDA INI BAGAIMANA.”

Lalu, ketika disindir soal bagaimana perasaannya menjadi tempat curhat mahasiswa, ia bilang, “INGINNYA SIH BISA MENJADI TEMPAT CURHAT BAGI IBU-IBU PENGAJIAN, AGAR MASUK TV SETIAP PAGI.”

9. Kita dan Dwi Hartanto Bisa Jadi Sama, Hanya Beda Level

Adalah Syarif Maulana yang menulis artikel ini. Ia adalah dosen honorer, musisi paruh waktu, dan pengajar gitar klasik. Syarif mengelola ruang alternatif seni di Bandung bernama Garasi10.

Ia juga menyempatkan diri menulis buku. Beberapa buku yang sudah terbit adalah ‘Manusia dan Teknologi dalam 2001: A Space Odyssey’, ‘Nasib Manusia: Kisah Orang yang Tak Bisa Pulang’, dan ‘Filsafat Komunikasi: Dari Sokrates hingga Buddhisme Zen’.

Kali ini, Syarif menyoroti terungkapnya kebohongan besar dari Dwi Hartanto, anak muda yang sempat dijuluki ‘The Next Habibie’. Ia menyampaikan perspektif yang berbeda, ketika mayoritas orang menghujat Dwi Hartanto.

Jangan-jangan, menurut Syarif, kita sebenarnya malah senang dengan berbagai kebohongan yang diproduksi setiap hari. Fenomena Dwi Hartanto, yang dihujat ramai-ramai, sebenarnya hanya menyuarakan sifat tribal kita yang di dalam hati berbunyi, “Akhirnya, ada yang bohongnya lebih parah dari kita.”

10. Ngobrol Bareng @MafiaWasit, dari Pengalaman Lucu Hingga Curhat

Penulis artikel ini, Arif Utama, kembali mewawancarai narasumber yang asik. Kali ini, akun kondang di jagat maya: @MafiaWasit. Mengapa mereka harus memakai istilah ‘mafia’? Apa tujuan dari akun ini? Siapa saja yang mengelola, apakah benar ada yang masih aktif jadi wasit?

Dalam sepak bola, terutama di Indonesia, pekerjaan wasit kerap dipandang sebelah mata. Belum lagi sejumlah kisah dimana wasit menjadi sasaran suporter. Misalnya, dilempari botol. Atau bahkan, mendapat kekerasan secara fisik.

Padahal, seperti profesi lainnya, wasit adalah profesi yang memiliki kode etik tersendiri. Justru penggemar sepak bola yang tak teredukasi ini sepatutnya mempelajari tentang aturan sepak bola. Di sinilah, peran penting dari @MafiaWasit.

Demikian 10 Artikel Terbaik 2017. Kami selaku redaksi voxpop.id mengucapkan, “Selamat Tahun Baru!” Tahun berikutnya pasti lebih baik…

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.