Last Christmas (Jonathan Prime/Universal Pictures)

Sejauh ini baru ada polemik larangan untuk umat muslim mengucapkan selamat Natal, tapi belum ada perdebatan yang setara itu soal menonton film Natal. Oleh karenanya, apapun agamanya, kita suka menonton Home Alone sejak seri pertama dan mungkin terus menontonnya pada Natal tahun-tahun mendatang.

Beberapa film Natal dibuat sebagai film liburan akhir tahun. Film-film itu tidak identik dengan film religi. Kemasannya bisa dinikmati semua umat. Disajikan secara universal hingga pesannya bisa diterima oleh semua penonton.

Bagi orang-orang seperti kita yang hidup di negara tropis, menonton film Hollywood bertema Natal adalah refreshing yang menyenangkan. Bagaimana salju turun di bulan Desember membuat penonton penasaran seperti apa rasanya musim dingin di negara sub-tropis yang menjadi latar tempat ceritanya. Gara-gara film Natal jugalah ada wahana bermain salju di mal-mal bisa banyak pengunjung.

Tentu saja, mereka ingin merasakan sensasi hidup sebagai tokoh utama di film Natal yang ditonton sewaktu kecil. Kendati sadar salju yang turun hanyalah imitasi layaknya es serut.

Baca juga: Polemik Ucapan Natal, Teologis atau Bisnis?

Di film Let It Snow yang diangkat dari novel John Green dkk menjadikan fenomena salju ini selayaknya ‘foodporn’. Selama film, kita disuguhi oleh salju yang menyelimuti kota. Salju di sini tak hanya sebagai tempelan semata, tapi juga penggerak cerita para tokoh-tokohnya.

Sementara itu, menjelang libur akhir tahun, sudah lumrah bagi para karyawan perkantoran saling bertukar kado seperti di film Harry Potter ketika malam Natal. Lho, mengapa orang yang tidak merayakan Natal ikut-ikutan tukar kado? Ya memang apa salahnya tukar kado? Lagi pula, Santa Claus tidak bagi-bagi kado ke orang dewasa. Sibuk syuting film pula.

Santa Claus alias Sinterklas seakan-akan wajib ada di film bertema Natal, terutama film anak-anak. Dari beberapa film anak yang ada, saya mengenal berbagai macam Santa Claus. Semisal, Santa Claus di film animasi The Polar Express yang ajaib nan fantastis. Di sini, Santa menjadi punchline di ending yang bikin takjub anak-anak penumpang kereta ajaib itu. Lalu, Santa Claus di film animasi Rise of the Guardians. Di sini, Santa punya teman se-geng dari kalangan makhluk mitologi global, seperti peri gigi, kelinci Paskah, Sandman, dan Jack Frost.

Baca juga: Makna Lain dari Dunia Jumanji, Beneran soal ‘Self-love’?

Film orisinal Netflix berjudul Klaus justru membuat sosok Santa Claus menjadi lebih manusiawi. Plotnya merekonstruksi mitos-mitos Santa Claus secara realistis ala situasi komedi. Ceritanya menjadi reliable sebagai sejarah tak resmi asal-usul kemunculan sosok Santa yang legendaris.

Selain film animasi yang disebutkan di atas, film Natal juga datang dari film drama romantis. Contohnya film berjudul Last Christmas. Walaupun ada Christmas di judulnya, ternyata unsur Natal dalam ceritanya hanya jadi latar belakang. Kalau setting waktu ceritanya diganti hari Thanksgiving atau Hanukkah juga tetap masuk.

Film Last Christmas mempertemukan Henry Golding si ‘Crazy Rich Asian’ dengan Emilia Clarke si ‘Crazy Rich Westeros’. Ceritanya mungkin klise, tapi pemerannya tidak bisa diremehkan. Henry Golding sebagai Tom tampil misterius. Kehadirannya menimbulkan rasa penasaran di hati Katarina atau Kate yang dimainkan dengan apik oleh Emilia Clarke.

Kate punya gaya hidup yang bakalan dihujat oleh penonton Sinema Pintu Taubat. Kate sering mabuk-mabukan dan seks di luar nikah. Rutinitasnya sebagai peri penjaga barang-barang yang kental dengan unsur keagamaan di toko milik Santa (Michelle Yeoh) tidak serta-merta membuat Kate menjadi sosok religius.

Baca juga: Film ‘Kim Ji-young’ Indonesia Banget, Laki-laki Berani Nonton Nggak?

Bahkan, ia nyaris tak memiliki pekerjaan karena lupa mengunci toko selepas jam kerja. Sebab, keesokan harinya, toko tersebut dirampok. Hingga akhirnya, Kate terusir dari mana-mana karena keteledorannya dan menjadi tunawisma. Sebenarnya, Kate punya rumah, tapi ogah pulang karena enggan bertemu keluarganya. Family issues lah penyebabnya.

Hingga suatu waktu, ia bertemu dengan Tom. Kate jadi tahu tentang makna hidup, bahwa setiap harinya itu berharga. Tom benar-benar perhatian. Tanpa harta kekayaan pun – seperti di Crazy Rich Asian – Henry Golding tetap terkesan sebagai sosok yang romantis.

Tidak ada ceramah eksplisit dari film Natal ini. Namun, secara tersirat, pesannya sangat universal, tentang rasa syukur atas hidup dan mengisi kehidupan itu sendiri dengan menebar kebaikan kepada sesama makhluk hidup.

Sesungguhnya, Last Christmas memang seperti FTV dengan bintang kelas A. Sinema Pintu Taubat edisi Natal. Bukankah formula yang dipakai sama? Pembangkangan dan ketidakpedulian bisa berubah oleh kebaikan hati tanpa pamrih.

Artikel populer: Lewat Kekeyi dan Rio, Kita Diingatkan tentang Putus Cinta di Era Digital

Namun, film ini lebih mengedepankan cinta dan kasih dibandingkan azab yang ujug-ujug datang untuk membuat si antagonis bertobat. Padahal, hati seseorang bisa tersentuh oleh perlakuan baik sesama manusia, tidak melulu harus dihukum pakai alur cerita.

Jika keburukan bisa melahirkan keburukan baru sebagai balasan, kebaikan pun bisa menginspirasi orang lain untuk berbuat baik. Betul, nggak? Jamaah oh jamaah…

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini