Apakah Tidak Ada Cara yang Elegan ketika Mengkritisi Livi Zheng?

Apakah Tidak Ada Cara yang Elegan ketika Mengkritisi Livi Zheng?

Livi Zheng (Instagram)

Dengan segala cinta dan hormat kepada para sineas Indonesia dan film-film hebat berdana besar yang membentuk industri baru film Indonesia pasca reformasi, saya mau bilang bahwa industri film Indonesia secara umum dan para sineas kita secara khusus sesungguhnya keterlaluan dalam mengkritisi ketenaran/kampanye Livi Zheng.

Sentimentalitas yang menjangkiti filmmaker Indonesia, seperti Joko Anwar dan John De Rantau, di program Q&A Metro TV, serta media yang mengaku kritis macam Tirto.id yang saking kritisnya sampai menggunakan diksi macam “jelek” di reportase yang mereka klaim sebagai produk jurnalisme ini perlu dikaji ulang.

Koneksi Livi sudah digali habis-habisan oleh media-media yang mengaku ‘kritis’, seakan-akan dia tersangka KPK atau Nikita Mirzani. Dari sini, roasting-an yang dilakukan oleh media ‘kritis tapi ngegosip’ dan filmmaker ‘perjuangan’ terasa penuh dengan bias kelas.

Apakah tidak ada cara yang elegan daripada melacak kekayaan, koneksi, dugaan nepotisme dari seorang perempuan muda kaya yang ingin jadi filmmaker? Apa kalian tidak salah sasaran, karena alih-alih ‘mensucikan’ perfilman nasional dari nepotisme, bisa jadi tindakan ini malah membunuh cita-cita calon produser eksekutif handal di masa depan? Iya kan, bisa pull off resource sebesar ini, kurang handal apa dia?

Baca juga: Apakah Dilan 1991 Harus seperti Film Pemenang Oscar untuk Memenangkan Hati Semua Orang?

Perlu diakui bahwa memang banyak filmmaker Indonesia yang berjuang dengan mengucurkan keringat, darah dan doa: dari yang zaman Orba diperiksa BAKIN dan BAIS biar bisa bikin film hingga jadi budak patron ‘Asal Bapak Senang’, bahkan syuting dengan bedil tentara di belakang kepala demi mewujudkan film propaganda pemerintah.

Di masa pasca reformasi ini, banyak syuting yang diganggu ormas. Ada juga yang berantem sampai ancam-ancaman dengan salah satu produser supaya film besutannya tidak diotak atik, hanya untuk pada akhirnya dipotong lembaga sensor dan tidak sedikit yang berhutang kepada rentenir supaya film ambisius idealisnya bisa tayang di bioskop.

Semua itu perjuangan yang Livi tak mungkin mengerti dan tak perlu ia lewati. Apa itu salah dia? Bayangkan betapa enaknya kalau sineas Indonesia punya produser eksekutif seperti Livi Zheng: bisa bikin film di LA dan kalaupun di Indonesia, dia tinggal tunjukkan foto dia bersama Jusuf Kalla, Luhut Panjaitan, atau Tito Karnavian, maka oknum ormas dan aparat yang ‘iseng’ akan langsung bilang, “Monggo, Ci.” Access granted ke semua wilayah.

Baca juga: Ketika Film ‘Superhero’ Indonesia Punya Dua Kubu ‘Universe’ seperti Marvel dan DC

Hanung Bramantyo yang sering bikin film sejarah sampai muter lagu Indonesia Raya pada awal pemutaran film Bumi Manusia, atau Joko Anwar yang mulai pakai embel-embel ‘Patriot’ di film Gundala kayaknya nggak pernah mimpi di-endorse pejabat tinggi. Nggak bakal Jusuf Kalla bilang, “Tonton Bumi Manusia demi peradaban bangsa.” Atau, nggak bakal juga Tito Karnavian bilang, “Mari lihat Gundala yang datang lebih cepat daripada polisi.”

Pejabat tinggi biasanya akan mulai ngomong kalau ada ormas yang protes, semisal film Bumi Manusia dibuat berdasarkan novel mantan penulis Lekra dan mengandung seks di luar nikah, atau film Gundala mengandung keseksian tiada tara Tara Basro yang melewati syahwat-meter kebanyakan bigot.

Pekerjaan para pejabat atau politikus dimana-mana kan bukan nonton film, tapi membuat kenyataan dengan mengulang-ulang retorika semacam: keadaan sudah aman, ekonomi baik-baik saja, dan NKRI harga mati.

Baca juga: Cek Seberapa Dilannya Iqbaal ketika Jadi Minke di Film Bumi Manusia

Buat mereka, seperti Livi, film bagus adalah film soal heroisme diri mereka sendiri. Lagipula, kita jangan lupa, yang lebih tenar dari Livi, yang pernah muncul di film The Act of Killing – sebuah film yang benar-benar diseleksi sebagai nominasi Oscar (nominasi Best Documentary tahun 2014) – yakni Jusuf Kalla. “Preman is FREE MAN!” buat saya adalah kutipan lebih keren daripada pidato DiCaprio dalam The Wolf of Wall Street.

Muluk sekali kalau adu jangkrik di TV dan media sok kritis dianggap bisa mendidik publik. Indonesia Lawyers Club saja nggak nyumbang banyak, selain pertengkaran rumah tangga dan lempar-lemparan cangkir kopi jagung di warkop. Verifikasi filmmaker juga tidak akan mendidik pejabat atau massa rakyat. Yang harus disasar bukanlah Livi, bukan juga keluarga, apalagi koneksinya.

Yang harus disasar adalah ‘psikiater’ yang memberikan Livi ‘obat’ tiap bulan untuk fokus pada cita-citanya dengan cara selective attention. Dengan itulah dia bisa percaya, sepenuh hati dan jiwa, bahwa dia masuk nominasi Oscar.

Artikel populer: Jika Keluarga Cemara Disutradarai Ernest Prakasa, Joko Anwar, dan Sineas Lainnya

Harusnya dia di-rehipnosis: Livi… Kamu produser eksekutif hebat… Kamu mau mendukung, mendanai, dan membantu dengan kemudahan koneksimu untuk filmnya Joko Anwar, John De Rantau, Mouly Surya, Richard Oh, Hanung Bramantyo, Ernest Prakasa, Paul Agusta, Riri Riza, dan filmmaker lokal lainnya… Kamu mau meminta para pejabat baca Cinema Poetica…

Coba ulangi lagi.

Livi… Kamu produser eksekutif hebat… Kamu mau mendukung, mendanai, dan membantu dengan kemudahan koneksimu untuk filmnya Joko Anwar, John De Rantau, Mouly Surya, Richard Oh, Hanung Bramantyo, Ernest Prakasa, Paul Agusta, Riri Riza, dan filmmaker lokal lainnya… Kamu mau meminta para pejabat baca Cinema Poetica…

Livii…

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.