Ilustrasi. (Pexels/Pixabay)

Sebagai lajang yang tinggal sendirian di sebuah rumah, saya sering mendapatkan ragam perilaku yang mengarah pada ancaman kekerasan seksual. Sebab orang melihat kesendirian saya sebagai kesempatan. Mulai dari menawarkan diri untuk masuk ke rumah hingga bentuk manipulasi lainnya agar seseorang bisa masuk. Padahal, tinggal sendiri untuk meminimalisir risiko yang tak diinginkan.

Dalam beberapa kasus, selain target kekerasan seksual, perempuan lajang yang tinggal sendiri juga terancam tindak kejahatan seperti pencurian. Tak jarang terbesit dalam pikiran, “Apakah saya harus menikah hanya untuk merasa aman di rumah sendiri?” Aneh sekali bukan? Demi merasa aman dan nyaman, harus melihat menikah sebagai satu-satunya solusi. Padahal, tidak begitu juga.

Untuk beberapa perempuan, terutama janda yang hidup dalam komunitas kecil, menikah memang bisa menjadi sebuah solusi untuk dapat bertahan hidup dan bebas dari gangguan. Sejumlah perempuan bahkan rela menjadi istri kedua hanya untuk melepas status janda, agar tidak diganggu orang-orang yang secara khusus menargetkan janda untuk tindakan pelecehan. Apalagi, kalau ada yang punya fetish janda.

Baca juga: Lihatlah, Mereka bahkan Bergembira di Atas Derita Para Janda

Tak hanya janda, anak perempuan yang belum cukup usia pun sering dinikahkan demi alasan ekonomi kepada lelaki yang jauh lebih tua. Lagi-lagi, menikah dilihat sebagai satu-satunya solusi bagi keluarga yang tak pernah melihat potensi perempuan. Padahal, jika anak perempuan dianggap sebagai beban keluarga, bukankah solusinya adalah menyekolahkannya agar ia bisa berdaya secara ekonomi?

Belakangan, malah sering beredar meme yang menyebut bahwa solusi bagi perempuan yang sudah bosan kuliah adalah menikah. Alasannya ‘biar ada yang nafkahin’.

Dalam beberapa konteks, menikah memang dapat menjadi solusi. Contohnya, jika pasangan sudah hidup bersama dalam waktu yang cukup lama, menikah dapat mengurangi beban pajak dan pengeluaran rumah tangga. Menikah juga bisa menguntungkan, jika kantor memberikan tunjangan suami dan istri.

Selain itu, negara masih mengistimewakan pasangan yang menikah untuk memiliki anak. Akses untuk mengurus dokumen anak akan lebih mudah, jika ada surat nikah. Pasangan yang menikah juga akan lebih mudah bermigrasi ke luar negeri, bila mereka terikat secara hukum.

Baca juga: Perempuan Boleh Bekerja, tapi Syarat dan Ketentuan Berlaku?

Pasangan yang menikah juga akan mudah mengurus pasangannya, jika sakit atau meninggal. Ia juga akan mudah mendapatkan hak waris untuk dapat mengurus anak-anaknya. Ini adalah sekian keuntungan menikah yang sering kali tidak disadari.

Ada pula perempuan yang menikah untuk terlepas dari keluarga yang terus membebani pikiran dan ekonominya. Dan, itu terbukti berhasil membuat dirinya berdaya dan terbebaskan di tengah masyarakat yang patriarkal. Ia bahkan menjadi berdaya secara ekonomi dan dapat mengembangkan potensinya secara penuh tanpa terusik dengan keluarga yang mengekangnya.

Namun, menikah juga tidak bisa menjadi solusi, jika hanya akan membawa masalah. Sebab itu, sejauh manakah kita melihat pernikahan, apakah sebagai beban atau jalan keluar? Apakah menikah hanya sebagai alat saja, bukan lagi sebagai perayaan untuk menyatukan cinta dua insan?

Baca juga: Yang Luput dalam Ekonomi, Dampaknya ke Para Istri

Menikah bisa menjadi nasib buruk bagi perempuan, bila perempuan tidak memiliki kemampuan ekonomi yang mandiri. Apalagi, jika ada yang berpikir bahwa menikah sebagai jalan pintas agar aman secara ekonomi. Sebab ia tak mendapatkannya, bila tak berdaya secara ekonomi.

Kenyataannya, banyak perempuan yang masuk ke institusi pernikahan karena alasan ekonomi alias tidak berada dalam relasi yang setara. Ia sangat bergantung pada pasangannya. Belum lagi, ia bisa menjadi beban bagi pasangannya, terlebih jika patriarki masih menuntut lelaki untuk mencari nafkah seorang diri.

Namun, bagi pasangan yang menjalin relasi secara setara, serta saling berkonsultasi dan berkontribusi satu sama lain, pernikahan adalah solusi sementara – bahkan di negara yang patriarkis. Tentunya dalam hubungan yang setara, pernikahan dapat menjadi perlindungan bagi pasangan heteronormatif.

Artikel populer: Sebetulnya Apa yang Dicari Perempuan dengan Menunda Pernikahan?

Mengapa saya bilang solusi sementara bagi pasangan yang setara, karena untuk mendapatkan kesejahteraan sosial dan perlindungan, perempuan dan lelaki diwajibkan menikah. Padahal, kesejahteraan sosial adalah akses setiap orang. Contohnya dalam urusan anak, masih ada beberapa instansi yang membutuhkan surat nikah orangtuanya supaya anak bisa didaftarkan di BPJS.

Perempuan yang tidak menikah walau sudah punya anak dan menghidupi orangtua dan saudaranya pun masih dianggap tidak berkeluarga di mata hukum dan negara. Bagi perempuan seakan tidak ada alternatif lain selain menikah, jika ingin mengakses berbagai macam layanan kesejahteraan sosial. Berbeda di negara-negara lain yang memiliki opsi partnership yang dapat didaftarkan di lembaga pemerintah, bahkan ada yang tak perlu mendaftarkan pernikahan hanya untuk mendapatkan akses.

Jadi, jawaban untuk pertanyaan mengapa kita harus menikah dikembalikan kepada masing-masing individu. Apakah menikah akan mengekang dan membawa masalah atau membebaskan diri agar bisa berdaya? Ataukah kewajiban untuk menikah menunjukkan kegagalan negara dalam melindungi perempuan secara utuh?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini