Ilustrasi. (Photo by Andrea Piacquadio from Pexels)

Belakangan kita mendengar istilah “beauty privilege” digaungkan oleh beberapa media. Beauty privilege menyorot fakta bahwa perempuan yang lebih cantik lebih dipilih untuk dipekerjakan ketimbang perempuan yang dianggap biasa saja. Namun, apakah kecantikan itu benar-benar merupakan suatu keistimewaan atau privilese yang mudah didapatkan?

Setelah membaca bab pertama dari buku The Beauty Myth karya Naomi Wolf, kita bisa memahami bahwa beauty privilege bukanlah sesuatu yang bisa dinikmati perempuan, melainkan sebagai kutukan. Mau dianggap cantik atau tidak, perempuan tetap dianggap sebagai objek, bukan sebagai orang yang bisa bekerja.

Ada beberapa alasan mengapa istilah “beauty privilege” ini sangat problematis.

Pertama, beauty privilege membuat perempuan saling berkompetisi. Perempuan yang dianggap cantik dan tidak cantik dibuat saling menyalahkan. Yang cantik akan dibuat bersalah karena ia cantik menurut standar lelaki, yang dianggap tidak cantik juga disalahkan karena tidak mengikuti standar. Lantas, mengapa sesama perempuan harus saling melawan? Bukankah yang dilawan itu harusnya diskriminasi?

Baca juga: Perempuan Boleh Bekerja, tapi Syarat dan Ketentuan Berlaku?

Kedua, perempuan yang dipilih untuk bekerja karena cantik juga rentan dipecat. Perempuan yang dianggap cantik ini juga harus mempertahankan kecantikannya dengan terlihat awet muda. Dan, jika ia sudah terlihat tidak muda lagi atau terlihat lebih gemuk sedikit saja, ia bisa dipecat.

Naomi Wolf dalam bukunya The Beauty Myth menjelaskan bahwa pekerjaan seperti pramugari, pembawa acara TV, hingga perempuan yang kerja di bagian sales di Amerika Serikat akan dipecat jika ia terlihat lebih tua. Berbeda dengan lelaki. Pekerja lelaki tidak dihadapkan pada standar-standar yang mewajibkan mereka terlihat muda. Lelaki berusia 40-50an akan tetap diterima untuk tampil di layar TV berdampingan dengan perempuan yang terlihat jauh lebih muda.

Ketiga, perempuan yang dipilih karena fisiknya menunjukkan bahwa ia tidak dinilai dari otak atau kemampuannya untuk bekerja tanpa mengandalkan fisiknya. Tubuhnya dianggap sebagai mata uang yang ditukarkan agar bisa bekerja. Perempuan sebenarnya dipilih karena ia diobjektifikasi, bukan karena ia lebih unggul atau lebih pintar.

Baca juga: Pekerja Palugada dan Pandangan Keliru soal Budaya Kerja

Keempat, upah pekerja perempuan yang bekerja sebagai model dan pekerja seks yang mengandalkan fisik jauh berbeda dengan buruh garmen yang bekerja mengeluarkan tenaga. Walaupun keduanya mengandalkan fisik, namun perempuan yang dianggap cantik oleh pandangan lelaki akan dapat upah yang lebih besar daripada buruh perempuan yang jungkir balik bekerja memenuhi target perusahaan yang kelak akan dipakai oleh model di atas panggung.

Kelima, perempuan yang mendapatkan pekerjaan karena kecantikannya terpaksa menghabiskan sebagian upahnya untuk mempertahankan kecantikannya, seperti membeli skincare, suntik botox, hingga operasi plastik. Namun, tidak dengan lelaki. Tidakkah upaya untuk mempercantik diri ini membuat perempuan makin miskin?

Keenam, perempuan yang sebelumnya cantik dan kini telah menua dan dianggap tak berharga serta tak bisa bekerja, akan sulit untuk menghidupi dirinya sendiri. Maka, tidak heran jika banyak perempuan jatuh miskin ketika ia sudah dianggap tak bisa bekerja. Entah karena dilihat dari fisiknya atau karena dianggap tidak memiliki tenaga yang sama.

Baca juga: Catat! Kami Ingin Belajar, Bukan Jadi Objek Seks

Ketujuh, perempuan yang dianggap cantik ini sering kali mengalami kekerasan seksual. Ironisnya perempuan dipilih karena fisiknya untuk bekerja, namun ia juga dilecehkan karena fisiknya. Lelaki yang melecehkan perempuan yang dianggap cantik ini akan berdalih bahwa perempuan menggunakan kecantikannya untuk menggoda para lelaki di tempat kerja. Lagi-lagi, perempuan jadi korban.

Jadi, apakah benar memiliki paras cantik merupakan suatu keistimewaan? Tentu saja tidak, terutama jika standar kecantikan diukur dari kacamata lelaki.

Lalu, apa sebutannya untuk perempuan yang dipilih karena kecantikannya?

Naomi Wolf dalam bukunya menjelaskan bagaimana pengadilan juga lebih memihak para pemberi kerja. Mereka juga menilai bahwa hal tersebut merupakan standar di dunia kerja. Hal ini jelas menunjukkan bahwa diskriminasi terhadap perempuan terjadi secara sistemik, bahkan negara dan hukum ikut mendukungnya.

Jika dikaitkan dengan konteks Indonesia, kita akan menemukan lowongan pekerjaan yang mewajibkan perempuan untuk berpenampilan menarik dengan tubuh proporsional, bahkan untuk pekerjaan yang lebih mengandalkan tenaga.

Artikel populer: Sebetulnya Apa yang Dicari Perempuan dengan Menunda Pernikahan?

Di sini kita baru berbicara mengenai diskriminasi terhadap perempuan, belum lagi diskriminasi terhadap orang yang memiliki disabilitas. Padahal, teman-teman disabilitas sendiri memiliki kebutuhan yang lebih besar daripada orang yang tak memiliki disabilitas.

Sebagai perempuan, penting sekali untuk kita menyadari bahwa diskriminasi terhadap perempuan yang terjadi di dunia kerja sebagai suatu hal yang sistemik. Ini bukan soal persaingan antara perempuan yang dianggap cantik dan perempuan yang tidak dianggap cantik, melainkan tentang kekerasan terhadap perempuan dan subordinasi terhadap perempuan itu sendiri.

Kecantikan bukanlah keuntungan perempuan yang hidup dalam tatapan lelaki. Dan, bukan sesuatu yang patut dibanggakan hanya karena kita terlihat lebih cantik di mata lelaki. Tubuh perempuan menjadi kutukan, jika perempuan terus dinilai karena tubuhnya.

Kita harus melawan konsep-konsep kecantikan ini. Maka, tidak heran jika kecantikan sebenarnya hanyalah mitos. Sama seperti keperawanan yang juga mitos. Mitos ini digunakan untuk bersaing dengan sesama perempuan.

Kini zamannya sudah bukan lagi bersaing sesama perempuan, apalagi membanding-bandingkannya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini