Apa yang Penting dan Dipertaruhkan dalam Pemilu 2019?

Apa yang Penting dan Dipertaruhkan dalam Pemilu 2019?

Ilustrasi (Image by Mario saja from Pixabay)

Yohanes Sulaiman, Associate lecturer, Universitas Jenderal Achmad Yani

***

Pada 17 April 2019, Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia menggelar pemilihan umum (pemilu) kelima sejak jatuhnya rezim otoriter Soeharto pada 1998.

India mungkin menyelenggarakan pemilu terbesar dan termahal di dunia, tapi tidak serumit di Indonesia.

Sebagai negara yang memiliki populasi keempat terbesar di dunia dan penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia punya banyak hal yang dipertaruhkan dalam pemilu ini. Hasil pemilu akan menentukan stabilitas Indonesia sebagai negara yang demokratis dari sudut pandang ekonomi dan keamanan.

Inilah yang perlu kita ketahui tentang pemilu kali ini dan apa yang dipertaruhkan.

Lima pencoblosan sekaligus

Untuk pertama kalinya, Indonesia mengadakan pemilihan presiden (pilpres) dan pemilu legislatif secara bersamaan. Pemerintah mengklaim bahwa sistem simultan ini menghemat biaya.

Jadi, begitu memasuki bilik suara, seorang pemilih harus berurusan dengan lima surat suara sekaligus, menjadikannya pemilu paling kompleks di dunia.

Tentang angka-angka

Jumlah pemilih terdaftar mencapai 192,8 juta orang dengan hampir 50% berusia di bawah 40 tahun.

Baca juga: Buku Bacaan untuk Pemilih Muda, sebab Demokrasi Tak Sebercanda Itu

Para pemilih yang berhak mendatangi 810.329 bilik suara di seluruh negeri untuk memilih presiden dan wakil presiden dan hampir 20.500 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten, serta 132 anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Setidaknya 300.000 calon maju untuk kursi legislatif.

Untuk kursi presiden, seseorang harus memilih antara Joko Widodo (Jokowi) dan saingannya, Prabowo Subianto.

Ada beberapa kekhawatiran terkait pemilu kali ini.

Para pakar mempertanyakan kualitas demokrasi Indonesia di tengah penindasan yang meningkatmeningkatnya konservatisme yang ditambah dengan maraknya Islamisme dan tren anti-feminisme.

Beberapa pihak juga khawatir pengaruh militer semakin meningkat. Beberapa mungkin berpikir Indonesia mungkin berada di ambang perang saudara.

Tidak mengherankan, banyak orang percaya bahwa banyak yang dipertaruhkan dalam pemilu. Pada dasarnya, ini adalah pertempuran antara pihak yang mewakili Indonesia moderat, inklusif versus populis nasionalis yang merangkul kelompok Islam garis keras dengan agenda non-liberal mereka.

Baca juga: Dari ‘Kafir’ ke ‘Non-Muslim’ dan Ide Kesetaraan di Pesantren dan NU

Pertarungan lama Jokowi dan Prabowo

Pilpres 2019 merupakan pertandingan ulang antara Jokowi, seorang warga sipil dan mantan penjual furnitur yang menjadi politikus, dan Prabowo, mantan jenderal dan eks menantu mantan diktator Soeharto. Dalam pemilu presiden 2014, Jokowi memenangkan pemilu dengan selisih kecil.

Untuk dapat dipilih kedua kalinya, Jokowi menonjolkan pencapaian ekonomi di bawah pemerintahannya. Salah satunya adalah pencapaian Jokowi dalam pembangunan infrastruktur, sesuatu yang diabaikan oleh para pendahulunya.

Strategi lain Jokowi adalah membangun sekutu dengan Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Muslim terbesar di Indonesia dengan memilih Ma’ruf Amin, seorang tokoh senior di NU, sebagai pasangannya. Dengan menerapkan strategi ini, Jokowi membuang pendekatan yang digunakan pada 2014 ketika dia memperjuangkan nilai-nilai pluralisme.

Dengan memilih Ma’ruf, Jokowi berharap untuk tidak diserang dengan dalih agama seperti rekannya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Ahok adalah mantan wakil Jokowi ketika ia menjadi gubernur Jakarta.

Baca juga: Dari Ahok Menjadi BTP, Apakah Efektif?

Ahok, yang Tionghoa dan beragama Kristen, adalah korban dari kampanye hitam yang dijalankan oleh kaum konservatif untuk mencegahnya memenangkan pemilihan gubernur Jakarta 2017. Ahok tidak hanya gagal memenangkan pemilihan, tetapi ia juga kemudian dinyatakan bersalah atas tuduhan penistaan agama. Baru-baru ini, dia dibebaskan dari penjara.

Di sisi lain adalah Prabowo. Dia berpasangan dengan Sandiaga Uno, salah satu orang terkaya di Indonesia.

Pendukung Prabowo adalah mereka yang merindukan stabilitas di bawah pemerintahan Soeharto yang otoriter. Dibandingkan dengan Jokowi, Prabowo dipandang sebagai pemimpin yang lebih kuat karena pengalamannya di militer.

Pendukung Prabowo termasuk kaum konservatif yang bergabung dengannya karena mereka membenci Jokowi.

Selain menyerang kebijakan ekonomi Jokowi, strategi lain dari para pendukung Prabowo adalah menciptakan citra bahwa Jokowi anti dengan segala yang berhubungan dengan umat Islam.

Sebagai balasannya, para pendukung Jokowi menyerang balik Prabowo dengan mengatakan bahwa ia bukan seorang Muslim yang baik. Mereka mempertanyakan kesalehan Prabowo dengan menanyakan di mana dia melakukan salat Jum’at yang merupakan kewajiban bagi setiap laki-laki Muslim. Mereka juga menuduh Prabowo mendukung pembentukan negara Islam. Prabowo menyangkal keras tuduhan itu selama debat presiden.

Artikel populer: Kebiasaan Pemain Playstation dalam Kubu Prabowo-Sandi

Memprediksi hasilnya, siapa pun yang menang

Pada dasarnya, jika Jokowi menang, ini akan membuktikan bahwa kebijakan ekonominya disukai pemilih dan memberi isyarat kepada oposisi, atau lebih tepatnya kandidat untuk pemilihan presiden 2024, bahwa merangkul pihak garis keras bukan strategi jitu untuk meraih suara mayoritas pemilih.

Ini tidak berarti bahwa para kandidat dapat mengabaikan peran Islam dalam politik – seperti yang dialami Ahok pada pemilihan gubernur Jakarta 2017. Tapi tentu saja, lebih menguntungkan untuk mengambil sikap yang lebih moderat untuk mendapatkan dukungan.

Jika Prabowo menang, ini akan menunjukkan bahwa politik identitas tetap kuat dan berada di sisi ekstrimis memang membuahkan hasil. Memang, ini tidak berarti bahwa Prabowo menyetujui taktik semacam itu.

Namun, fakta bahwa mereka sering menggunakan serangan berbasis agama di sebagian besar kampanyenya, menunjukkan bahwa kemenangannya dapat dipandang sebagai kemenangan politik identitas yang nantinya dapat digunakan lagi pada pilpres mendatang.

Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca sumber artikel.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.